1) Relasionalisme Timur versus individualisme Barat
Di Barat, filsafat “individualisme” (individualism) adalah konsep yang menjadi inti peradaban. Individualisme sangat diwarnai pertentangan dan kemandirian. Sebagai lawan kata individualisme, peradaban Barat memakai “totalitarianisme” (totalitarianism) atau “kolektivisme” (collectivism), kadang-kadang “komunitarianisme” (communitarianism). Semua ini adalah ungkapan Barat hasil analisis yang berpusat pada individualisme di dalam sistem filsafat Barat. Totalitarianisme atau kolektivisme dipakai sebagai lawan individualisme dalam arti tidak mengakui kebebasan perseorangan. Rezim fasis atau komunis adalah totaliter. Komunitarianisme dipakai dalam arti melepaskan kemandirian perseorangan demi keseluruhan, demi keselarasan. Cara pemerintahan ala Sparta adalah komunitarianisme. Semuanya termasuk kolektivisme.
Kolektivisme adalah filsafat yang mengorbankan perseorangan demi kelompok. Secara historis, kolektivisme memperlihatkan kecenderungan bergeser ke arah pengejaran kepentingan pribadi orang-orang yang menguasai kelompok saja. Jerman Nazi dan komunisme Soviet memberikan bukti sejarahnya, dan novel Orwell, Animal Farm, menggambarkannya secara gamblang. Dengan memperhitungkan keadaan sejarah ini, para pemikir Barat, sambil menimbang masalah-masalah individualisme, mengajukan filsafat sosial yang baru, yaitu komunitarianisme. Individualisme adalah filsafat yang menyatakan bahwa hak dan kebebasan perseorangan adalah hal terpenting dalam masyarakat manusia. Komunitarianisme adalah filsafat yang menyatakan bahwa kepentingan atau tujuan bersama adalah hal terpenting dalam masyarakat manusia. Masalahnya, begitu orang menganjurkan komunitarianisme, kepentingan bersama menjadi penting dan kepentingan perseorangan menjadi kurang penting. Kolektivisme, seperti tampak secara historis dalam praktik komunisme, bermakna menghancurkan individualisme. Misalnya, sepuluh pokok yang dianjurkan Karl Marx dalam Manifesto Komunis semuanya adalah prinsip kolektivisme yang menghancurkan individualisme: komunitarianisme kecil ala Sparta yang diperluas ke seluruh negara dan ke dunia.
Pemikiran kolektivisme ala Barat sulit ditemukan dalam sejarah peradaban Timur. Sistem filsafat Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme, yang mewakili peradaban Timur, semuanya menentang kolektivisme dan menganut “relasionalisme”. Orang Barat terutama cenderung menyebut segala yang bukan individualisme sebagai kolektivisme. Sebabnya, konsep relasionalisme tidak ada dalam peradaban Barat. Bahwa dalam peradaban Timur lawan individualisme Barat adalah relasionalisme, hal ini baru disadari bila kita dapat keluar dari kerangka peradaban Barat untuk membandingkan peradaban Timur dan Barat.
Tanpa memahami bahwa inti relasionalisme Timur adalah filsafat yang berlawanan dengan inti individualisme Barat, sulit memahami pemikiran Timur. Sayangnya, sebagian besar pemikir Barat masih memahami lawan individualisme sebagai kolektivisme, dan masih mengajarkan dan menuliskannya demikian di sekolah dan di media. Itulah sebabnya Barat baru dapat memahami Timur dan Barat bila keluar dari Hegelianisme. Sebagian besar orang Barat memakai rumusan “individualisme versus kolektivisme”, tetapi orang yang memahami Timur dan Barat harus dapat memakai kerangka konsep “individualisme versus relasionalisme”.
Relasionalisme Timur berarti menjaga kepentingan diri melalui kepedulian terhadap pihak lain. Relasionalisme sangat diwarnai sifat saling melengkapi dan keselarasan. Intinya adalah memperhatikan diri sendiri dan orang lain bersama-sama. Yang penting, berbeda dari komunitarianisme Barat, relasionalisme tidak melepaskan kemandirian perseorangan. Ren (仁), etika yang dikedepankan Konfusianisme, adalah kata majemuk yang menunjuk dua orang (人+二). Artinya, kita menemukan diri kita “dalam hubungan antarmanusia”. Inilah inti “relasionalisme” (relationalism) Timur. Filsafat ren sama sekali tidak ada hubungannya dengan totalitarianisme atau kolektivisme. Ren berarti relasionalisme yang memikirkan orang lain sambil menjaga diri sendiri. Ren tidak menunjuk “aku” sebagai “perseorangan”, melainkan “hubungan” antarmanusia dalam “kita”, yang memperhatikan diri sendiri dan orang lain bersama-sama.
Dalam kosakata Barat memang ada kata relasionalisme. Tetapi relasionalisme Barat terutama dipakai sebagai istilah ilmiah alih-alih istilah humaniora. Di Barat, konsep relasionalisme terutama dipakai dalam fisika kuantum. Fisika Barat telah memakainya hampir seratus tahun, tetapi konsep itu belum mendapat tempat sebagai konsep filsafat Barat. Ini seperti prinsip ketidakpastian Heisenberg atau prinsip saling melengkapi Bohr, yang hanya diungkapkan dalam mekanika kuantum dan belum diungkapkan dalam filsafat Barat. Namun, relasionalisme yang hendak diungkapkan fisika Barat sangat mirip dengan relasionalisme yang dipakai filsafat Timur. Dalam peradaban Timur, gagasan ketidakpastian dan saling melengkapi sudah lama dipakai secara luas dalam konsep relasionalisme, inti pemikiran Timur. Niels Bohr, yang memasang begitu saja diagram taiji, lambang yin dan yang Taoisme, pada lambang keluarganya sambil menjunjung relasionalisme, adalah salah satu contohnya.
Hal ini mirip dengan gejala bahwa konsep saling melengkapi, yang menggantikan pertentangan dalam fisika modern Barat, telah mapan secara ilmiah tetapi baru perlahan-lahan merasuki humaniora. Relasionalisme Timur adalah konsep yang tidak dipakai dalam kaitannya dengan urusan manusia dalam sistem filsafat Barat yang berpusat pada individualisme. Karena itu, kita harus memandang bahwa dalam kata-kata Barat tidak ada konsep filosofis yang mengungkapkan relasionalisme, inti urusan manusia di Timur. Sebabnya, segala sesuatu tercakup dalam konsep individualisme. Di Barat, yang penting adalah individualisme, dalam arti bahwa akulah yang penting, dan hubunganku dengan keyakinan agama, kebenaran filosofis, dan kebenaran ideologis yang terkait denganku.
Relasionalisme Timur dan individualisme Barat adalah dua cara memahami masyarakat dan perseorangan dari sudut pandang filosofis yang berbeda. Individualisme Barat adalah filsafat yang mengutamakan otonomi dan kebebasan perseorangan. Ia sangat diwarnai pertentangan dan kemandirian. Ia memandang bahwa perseorangan harus dapat mengejar kepentingannya dan membuat keputusan dengan bebas. Konsep ini dapat dipandang lahir dari latar sejarah, ekonomi, dan politik masyarakat Barat. Sebaliknya, relasionalisme Timur memandang perseorangan sebagai makhluk tersendiri, tetapi sekaligus juga sebagai anggota kelompok tempat ia berada.
Relasionalisme tidak memandang hak atau kepentingan perseorangan sebagai pelengkap yang tunduk pada keseluruhan. Sebaliknya, relasionalisme adalah pemikiran yang, berlandaskan yin dan yang, hendak mengelola hak atau kepentingan semua orang, aku dan orang lain bersama-sama, bersama dengan kepentinganku sendiri. Tindakan perseorangan harus memperhitungkan pengaruhnya pada kelompok tempat ia berada. Sebaliknya, tindakan kelompok harus memperhitungkan pengaruhnya pada perseorangan. Ini berarti menjunjung saling ketergantungan dalam hubungan antarmanusia, dan berusaha memecahkan masalah dengan cara yin dan yang, dari sudut pandang perseorangan maupun kelompok. Relasionalisme sangat diwarnai sifat saling melengkapi dan keselarasan. Konsep ini dapat dipandang berasal dari pemikiran yin dan yang, inti budaya dan filsafat Timur.119 Karena itu, individualisme dan relasionalisme memperlihatkan bahwa, menurut premis filosofis yang lahir dari latar budaya yang berbeda, keduanya memahami hubungan antara perseorangan dan kelompok secara berbeda.
Individualisme mendapat pengaruh mutlak dari agama wahyu Barat. Barat mengembangkan peradaban yang berporos pada Tuhan. Tuhan dan aku terhubung secara pribadi dan langsung. Bagi perseorangan yang percaya kepada Tuhan, hubungan antara Tuhan dan aku, yang melampaui semua hubungan lain dalam urusan manusia, adalah yang terpenting. Pandangan dunia yang berpusat pada Tuhan, yang berlanjut dari zaman Yunani-Romawi kuno sampai peradaban Kristen, mengarah pada “individualisme”. Pandangan ini memahami manusia dan dunia di dalam penciptaan dan penyelenggaraan Tuhan, dan membangun peradaban Tuhan melalui penyelidikan keagamaan dan rasional. Karena itu, peradaban Barat berkembang dengan berpusat pada iman yang kupeluk, kebenaran mutlak, dan sosok yang transenden.
Berhadapan dengan individualisme Barat, Timur membentuk budaya yang pemikirannya adalah relasionalisme. Relasionalisme tersebar dalam Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme, dan meresap dalam dan luas ke dalam budaya Timur.120 Di Barat, nasib masyarakat dipusatkan pada hukum dan lembaga yang memajukan individualisme. Etika memang menjadi penting, tetapi dalam masyarakat Barat “etika” diperlakukan kurang lebih sebagai “etiket (etiquette) yang harus dipatuhi di setiap bidang masyarakat”. Perhatian pada “etika”, yang dalam peradaban Timur dianggap lebih penting daripada hukum, tidak dianggap penting dalam peradaban Barat.
Di Timur ada budaya yang menempatkan etika seperti tanpa-tindakan, ketekunan, hemat, dan tanpa keinginan di pusat hati manusia. Semua ini adalah etika yang lahir dari sistem filsafat relasionalisme. Etos kerja Timur berasal dari pengelolaan keakuan. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia harus mengejar kerja keras dan hemat melalui pendidikan dan pembinaan diri, dan harus menghayati belas kasih serta kerendahan hati untuk berjaga-jaga agar keakuan tidak berkembang menjadi keserakahan.
Relasionalisme dan individualisme tampak dalam kosmologi yang dipahami Timur dan Barat. Pemikiran manusia yang memandang alam semesta terbiasa dengan keadaan yang bersifat dua. Kita mengungkapkan alam dan urusan manusia dengan dua konsep, yaitu dualitas (二元). 121 Itulah dualitas yang ditunjukkan oleh lereng yang terkena matahari dan lereng yang teduh, laki-laki dan perempuan, matahari dan bulan, musim panas dan musim dingin, kiri dan kanan, atas dan bawah, depan dan belakang, masa lalu dan masa depan, pikiran dan naluri. Filsafat perubahan Timur memberi unsur-unsur dualitas ini “sifat saling melengkapi” yang berpusat pada hubungan. Filsafat keberadaan Barat memberi masing-masing unsur dualitas “sifat saling bertentangan” yang dimilikinya sendiri. Dalam cara menganalisis dualitas, saling melengkapi atau saling bertentangan, menurut sistem Dao dan sistem Tuhan, perbedaan Timur dan Barat tampak jelas. Filsafat perubahan dan saling melengkapi di Timur serta filsafat keberadaan dan pertentangan di Barat bekerja sebagai prinsip yang memisahkan kedua peradaban dalam urusan manusia.
Jika sudut pandang filosofis atau moral dimasukkan ke dalam dualisme saling melengkapi dan dualisme pertentangan, peradaban Timur dan Barat terbedakan sebagai “yin dan yang yang saling melengkapi” dan “baik dan jahat yang saling bertentangan” di Barat. Kedua prinsip ini sering berbenturan, tetapi manusia membutuhkan keduanya. Filsafat perubahan cocok untuk memahami sistem yang dinamis dan menjelaskan etika, gerak alam semesta, dan fisika modern. Filsafat keberadaan cocok untuk memahami sistem yang statis dan menjelaskan sistem hukum, hukum matematika, dan fisika klasik.
Perbedaan ini dapat dibedakan dengan sangat tepat bila kita memandang peradaban Timur sebagai peradaban “yin” dan peradaban Barat sebagai peradaban “yang”. Tetapi kita belum terbiasa memakai konsep Timur ini. Dengan konsep Barat, peradaban yin dapat dibedakan sebagai peradaban yin dan yang yang saling melengkapi, dan peradaban yang sebagai peradaban baik dan jahat yang saling bertentangan. Pemikiran yin dan yang mendekati semua hubungan yang ada pada manusia atau benda dengan konsep saling melengkapi atau keselarasan; pemikiran baik dan jahat mendekati semua hubungan itu dengan konsep pertentangan atau kemandirian.
Peradaban Timur memperlihatkan ciri-ciri yang menerima, otonom, dan tidak langsung; relatif, relasional, dan toleran; ke dalam, bertahan, dan merangkul. Peradaban Barat memperlihatkan ciri-ciri yang aktif, mencampuri, dan giat; mutlak, individual, dan dinamis; ke luar, menyingkirkan, dan merintis.
Timur yang menerima, otonom, dan tidak langsung versus Barat yang aktif, mencampuri, dan giat
Ciri Timur yang menerima, otonom, dan tidak langsung serta ciri Barat yang aktif, mencampuri, dan giat tampak jelas dalam kaidah emas Timur dan Barat. Ajaran Konfusius bersifat menerima: “Apa yang tidak kauinginkan orang lain lakukan kepadamu, janganlah kaulakukan kepada orang lain” (Analek, bab 12, “Yan Yuan”). Ajaran Yesus bersifat aktif: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang lakukan kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius, pasal 7).122 Timur dan Barat juga memperlihatkan ciri yang berlawanan dalam hal akibat sikap terhadap orang lain. Di Barat, seperti tertulis dalam Alkitab, diajarkan kehidupan yang giat dan aktivis, seperti “terang dan garam dunia”. Sebaliknya, di Timur, seperti tertulis dalam Daodejing, “orang membuat bejana dari tanah liat, membuat kamar dengan jendela dan pintu, tetapi yang sungguh-sungguh berguna adalah ruang kosongnya”; karena itu kehidupan yang aktivis diwaspadai dan kehidupan yang menerima dianjurkan. Pemikiran Timur menganjurkan sifat lembut dan mengalah seperti air. Daodejing pun terus-menerus menekankan keunggulan air. Sebabnya, Daodejing berpendapat bahwa air pada akhirnya adalah yang paling efektif dalam mengalahkan yang keras dan kuat.
Sifat menerima dan tidak langsung di Timur serta sifat aktif dan giat di Barat ini tampak jelas pula dalam kehidupan sehari-hari. Di Timur, kemampuan mendengarkan dengan baik dijunjung. Ketika orang tua mendidik anak-anaknya, pelajaran pertama selalu adalah mendengarkan baik-baik perkataan guru dan orang lain. Sebaliknya, di Barat, kemampuan berbicara dengan baik dijunjung. Karena itu, Timur mewaspadai kepandaian berbicara. Analek mengajarkan: “Kata-kata yang manis dan rupa yang menawan jauh dari ren (仁).” “Keteguhan, ketabahan, kesederhanaan, dan lambat berbicara dekat dengan ren (仁).” Daodejing mengajarkan: “Kata-kata yang tulus tidak indah, kata-kata yang indah tidak tulus. Orang yang baik tidak bertengkar, orang yang bertengkar tidak baik. Orang yang tahu tidak berpengetahuan luas, orang yang berpengetahuan luas tidak tahu.” Dalam alur yang sama, Daodejing menasihati: “Mengalahlah, maka engkau akan menang; membungkuklah, maka engkau akan tegak; kosongkanlah, maka engkau akan penuh; usanglah, maka engkau akan diperbarui; milikilah sedikit, maka engkau akan berkecukupan; milikilah banyak, maka kekacauan akan datang.”
Timur memperlihatkan kecenderungan tidak langsung, berhadapan dengan kecenderungan giat di Barat. Di Timur, yang mengejar tanpa-tindakan alih-alih tindakan disengaja, dianjurkan cara bertindak yang menunggu saat yang tepat, bukan hasil segera seperti di Barat. Ungkapan tidak langsung berarti tidak bertindak seketika, melainkan mengamati gerak shi (勢) dan menunggu saatnya. Itulah cara bertindak di mana orang bertindak lebih dulu pada saat tunas mulai tumbuh, lalu menunggu hasil yang sudah diramalkan, alih-alih bertindak terlambat di kemudian hari. Yang lebih disukai adalah cara bertindak yang disebut “bertindak dengan tanpa-tindakan” (爲無爲).
Daodejing dan Alkitab sama-sama mengajarkan kerendahan hati dan sikap mengalah. Di antara ajaran Khotbah di Bukit ada kalimat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga”, yang menganjurkan kerendahan hati dan sikap tahu diri serta menghibur orang yang tertindas. Demikian pula Daodejing memuat ajaran: “Terimalah penghinaan dengan anggun, jangan terpaku pada untung dan rugi, kemalangan datang kepada semua manusia… Terimalah segala sesuatu dengan rendah hati, maka engkau akan dapat memimpin segala sesuatu.” Tetapi di Barat, selain kerendahan hati dan sikap mengalah, diajarkan pula aktivisme yang giat. Ajaran “bertindaklah seperti benih dan ragi: hasilkan seratus kali lipat, khamirkan tiga takar tepung” sangat ditekankan. Aktivisme seperti ini tidak ada dalam Daodejing, yang memusatkan diri pada pembinaan otonomi dan pengendalian diri.
Daodejing dan Alkitab sama-sama mewaspadai kekayaan materi. Daodejing memperingatkan bahwa kekayaan materi dapat merusak watak manusia. Alkitab pun mengajarkan kewaspadaan: “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Tetapi bersama itu Alkitab juga menuntut aktivisme yang giat terhadap kekayaan materi: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga.” Dalam Daodejing maupun Konfusianisme tidak ada tulisan yang menuntut aktivisme untuk mengumpulkan kekayaan demi berbuat baik. Pengelolaan harta (理財) diperlakukan pada tataran etika: bukan perseorangan yang menimbun kekayaan, melainkan “mengatur harta agar rakyat hidup tenteram”.
Timur yang relatif, relasional, dan toleran versus Barat yang mutlak, individual, dan dinamis
Peradaban Timur, yang mengikuti sistem filsafat yang tak tampak, menekankan relativitas dan keselarasan. Dalam Analek, Konfusius mengemukakan pandangan yang relatif dan toleran: “Menyerang orang yang berpikiran lain sebagai bidah hanya akan berbalik merugikan.” Barat, yang mengikuti yang tampak, mengajukan ajaran yang pasti dan pemikiran baik dan jahat, lalu menyuruh orang menjalankannya dalam urusan manusia: “Jadilah terang yang menerangi dunia.” Dengan menekankan hal ini, Barat menyatakan “ketakbersalahan” Alkitab dan Gereja, yang tidak mungkin keliru, dan memperlihatkan sifat yang mutlak dan menyingkirkan.
Akhirnya, dalam peradaban Barat muncul berbagai aliran agama, yang semuanya menyatakan kemutlakan dan ketakbersalahannya, sehingga pertikaian berdasarkan ajaran tidak terelakkan. Eropa pada abad ke-16 dan ke-17 memasuki perang panjang antara Katolik dan Protestan, dan akhirnya mengalami Perang Tiga Puluh Tahun, yang dianggap salah satu perang paling kejam. Kira-kira pada masa yang sama, di Timur, Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing mengeluarkan Maklumat Toleransi (容教令) pada tahun 1692, yang mengizinkan penyebaran agama Kristen. Para pemikir Pencerahan di Barat menilai maklumat Kangxi yang menyatakan kebebasan beragama ini sebagai kebijakan yang sangat murah hati.
Maklumat Kangxi bukanlah pengecualian dalam sejarah Timur, melainkan justru mengikuti filsafat tradisional yang memanfaatkan ajaran-ajaran yang berguna dari semua agama, Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme, untuk penyelenggaraan negara. Hal ini tampak jelas dalam sikap filosofis yang diperlihatkan peradaban Timur, yaitu sinkretisme (syncretism). Ada pula istilah peleburan, percampuran, atau eklektisisme, tetapi dalam arti mencakup keunggulan masing-masing, sinkretisme adalah istilah yang paling tepat. Sinkretisme berbeda dari pandangan yang tampak, yang mempertaruhkan segalanya pada satu kesimpulan dan mengikuti kebenarannya. Sifat sinkretisme ini tampak dalam sikap Taoisme yang menekankan pengendalian diri. Itulah ajaran Daodejing: “Orang bijak menghindari yang berlebihan, yang ekstrem, dan yang melampaui batas.”
Sikap sinkretis Timur seperti ini baru muncul di Barat setelah kaum Puritan, yang lari dari penganiayaan agama, mendirikan Amerika di Dunia Baru. Akhirnya, pada abad ke-18, Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat menetapkan kebebasan beragama. Amandemen itu melarang pembentukan agama negara dan menjamin kebebasan berkeyakinan dan beribadah. Kekaisaran Romawi menetapkan Kristen sebagai agama negara pada abad ke-4. Seribu empat ratus tahun kemudian, kebebasan beragama, sebuah “maklumat toleransi”, akhirnya diberikan di Barat.
Perbedaan budaya yang menonjolkan ciri “Timur yang relasional versus Barat yang individual” tampak jelas pula dalam kehidupan sehari-hari. Di Timur, ketika menulis alamat, orang menulis nama negara, lalu nama kota, lalu nama kawasan. Ketika menulis nama, orang menulis lebih dulu nama keluarga yang mewakili keluarga, dan menulis namanya sendiri paling akhir. Maksudnya, menemukan diri sendiri secara relasional di dalam keseluruhan. Perseorangan ada di dalam hubungan. Ren (仁), etika yang dikedepankan Konfusianisme, adalah kata majemuk yang menunjuk dua orang (人+二). Menemukan diri sendiri dalam hubungan antara dua orang pada akhirnya berarti belas kasih (compassion), yaitu memahami keadaan pihak lain. Inilah inti “relasionalisme” (relationalism) Timur.
Sistem pemikiran relasionalisme dan individualisme tercermin dalam dan luas di dalam peradaban Timur dan Barat. Di Barat, ketika menulis alamat, orang menulis nama kawasan, lalu nama kota, lalu nama negara. Ketika menulis nama, orang menulis lebih dulu namanya sendiri, lalu nama keluarga yang mewakili keluarga. Keberadaan perseorangan lebih dijunjung daripada keseluruhan yang menyatu. Hubungan memberi tempat kepada perseorangan. Inilah inti “individualisme” (individualism) Barat.
Di Barat, yang penting adalah bahwa perseorangan ada secara mandiri dan mengejar kepentingan dan kebebasannya. Karena itu, lembaga hukum dan sosial dibuat untuk menjamin kebebasan dan kemandirian perseorangan. Sebaliknya, di Timur, perseorangan ada sebagai hubungan antara keseluruhan dan dirinya, dan memperhitungkan pengaruh tindakannya pada keseluruhan. Hal ini mengarah pada penghargaan bukan hanya pada kepribadian perseorangan, tetapi juga pada keanggotaan dan hubungan timbal baliknya. Sesuai dengan pemikiran yin dan yang, orang mengejar etika di mana keseluruhan dan perseorangan sama-sama penting. Di Timur, bertukar kartu nama itu penting; menyebutkan keanggotaan, bersama dengan menunjukkan kepribadian, membantu seseorang memahami kedudukannya dalam keadaan secara keseluruhan.
Ciri budaya ini tampak pula dalam cara memandang waktu: di Timur, orang memahami waktu dengan urutan tahun, bulan, tanggal, dengan memperhitungkan konteks dan keadaan secara keseluruhan. Kecenderungan merenungnya kuat. Maksudnya, ketika suatu masalah muncul, orang harus dapat menanggapinya dengan tepat dengan memperhitungkan keadaan keseluruhan dan hubungan sebab-akibatnya, bukan dengan tindakan seketika. Hal ini berkaitan dengan pemikiran tanpa-tindakan (無爲) dalam Taoisme: memahami arus keseluruhan, lalu di dalam batas-batasnya melakukan apa yang harus dilakukan sekarang. Sebaliknya, di Barat, tindakan seketika dan keputusan sesaat dijunjung. Untuk itu orang lebih dulu memahami tanggal, lalu bulan dan tahun, sambil menimbang makna tanggal itu dan pengaruhnya pada keadaan secara keseluruhan. Ciri Barat ini berlandaskan pemikiran bahwa, berhadapan dengan tanpa-tindakan di Timur, tindakan seketika dari tindakan disengaja (有爲) di Barat itulah yang penting.
Timur yang ke dalam, bertahan, dan merangkul versus Barat yang ke luar, menyingkirkan, dan merintis
Perbandingan antara ciri peradaban Timur yang ke dalam dan ciri peradaban Barat yang ke luar tampak bahkan dalam tindakan sehari-hari yang tidak disadari. Di Timur, ketika menghitung, orang menghitung dari satu sampai sepuluh dengan melipat jari-jari ke dalam dari telapak tangan yang terbuka. Sebaliknya, di Barat, orang menghitung dari satu sampai sepuluh dengan membuka jari satu per satu dari kepalan tangan. Di Timur, ketika memberi isyarat kepada orang yang jauh agar mendekat, orang melambaikan tangan ke bawah; di Barat, ke atas. Dan ketika menyendok sup, di Timur orang menggerakkan sendok dari luar ke dalam, ke arah dirinya; di Barat, dari dalam ke luar.
Ciri Timur yang ke dalam dan ciri Barat yang ke luar ini terungkap dalam sejarah sebagai gaya sentripetal dan gaya sentrifugal. Di Barat, bangsa dan negara tumbuh dalam lingkungan luar yang selalu terbuka dan meluas. Hal ini tampak dari peradaban Barat yang bermula di Laut Aegea, di Laut Tengah bagian timur, lalu merambah Laut Tengah, Laut Utara, Samudra Atlantik, dan Samudra Pasifik, dengan terus-menerus menaklukkan dan meluas. Demikian pula, semua kekaisaran Barat tumbuh dan runtuh melalui perluasan ke luar. Sebaliknya, di Timur, terutama di Tiongkok, bertambahnya penduduk dan meluasnya wilayah sering terjadi karena gaya sentripetal yang menarik kekuatan dan bangsa dari luar ke dalam Tiongkok. Dinasti Yuan bangsa Mongol dan Dinasti Qing bangsa Manchu adalah contoh yang baik. Jepang maupun Korea hampir tidak pernah melakukan penaklukan dan perluasan dengan gaya sentrifugal (walaupun Jepang memiliki pengecualian pada masa Toyotomi dan zaman Meiji), dan sekarang masih mempertahankan wilayah yang kurang lebih sama dengan seribu tahun yang lalu. Perbedaan ini memainkan peran penting dalam sejarah dan budaya Timur dan Barat, dan berlanjut sampai ke kehidupan sehari-hari yang terkecil, di mana sifat ke dalam dan ke luar muncul sebagai kebiasaan.
Di Timur, sikap menerima ditekankan sebagai inti. Daodejing menyatakan: “Mengenal orang lain adalah kearifan; mengenal diri sendiri adalah kejernihan.” Filsafat Wang Yangming juga menekankan: “Perampok di gunung mudah dikalahkan, perampok di dalam hati sukar dikalahkan.” Di Timur, ketika timbul kesulitan atau masalah, orang lebih dulu menengok dirinya sendiri dan mencari penyebab masalah di dalam dirinya. Di Barat, orang lebih dulu mencari penyebab masalah di luar. Di Barat, karena manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, orang berpikir bahwa masalahnya ada pada orang lain, pada negara lain. Di Timur, karena semua manusia sama, apa pun agama atau ideologinya, orang berpikir bahwa bila ada masalah, cara penyelesaian yang paling efektif adalah memeriksa apakah dirinya dapat menghilangkan penyebab masalah itu, lalu menghilangkannya.
Perbandingan antara Timur yang ke dalam dan bertahan dan Barat yang ke luar dan merintis ini tampak pula dalam olahraga. Olahraga tradisional Timur, seperti taekwondo, judo, dan kungfu, bertujuan membela diri, mengendalikan diri, dan memimpin diri. Sebaliknya, di Barat, dari pertarungan gladiator zaman Yunani-Romawi sampai tinju dan anggar modern, tujuannya adalah kemenangan dengan menundukkan lawan melalui serangan yang giat.
Ketika Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, sebagian besar orang Eropa menyambut pecahnya perang dengan gembira dan suka cita. Rakyat Inggris dan Jerman berbondong-bondong ke alun-alun untuk menyambut pernyataan perang. Mereka semua yakin bahwa negaranya akan menang dalam beberapa bulan. Tak seorang pun membayangkan akan berperang bertahun-tahun tanpa kemenangan.123 Di Timur, sulit membayangkan rakyat dua negara yang saling menyatakan perang sama-sama menyambut perang itu secara sukarela. Sebabnya, perang, terutama perang imperialis, dipandang sebagai buah keserakahan. Perang dianggap sebagai sesuatu yang terpaksa dilakukan ketika perdamaian tidak dapat dipertahankan. Karena itu, di Timur, yang diperingati dengan sendirinya adalah berakhirnya perang, bukan pecahnya perang.
2) Ilmu pengetahuan dan filsafat: saling melengkapi dalam fisika modern versus pertentangan dalam fisika klasik
Bagaimana sudut pandang filosofis Timur dan Barat ini terungkap dalam ilmu pengetahuan Timur dan Barat? Apa hubungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat? Fisika dibedakan menjadi fisika klasik dan fisika modern. Fisika modern adalah fisika yang disusun kembali pada abad ke-20 dari mekanika kuantum. Fisika modern dibangun di atas sistem filsafat yang sama sekali berbeda dari fisika klasik. Fisika klasik mendukung pertentangan ala Barat, tetapi fisika modern mendukung sifat saling melengkapi ala Timur. Hal ini sejalan dengan penjelasan bahwa fisika klasik berlandaskan filsafat keberadaan, sedangkan fisika modern berlandaskan filsafat perubahan. Fisika klasik mendukung filsafat keberadaan yang menyatakan kemutlakan. Mekanika kuantum dan teori relativitas mendukung sudut pandang filsafat perubahan, yang menafsirkan kenyataan bukan sebagai keberadaan, melainkan sebagai proses dan hubungan.
Dalam The Tao of Physics (di Korea diterjemahkan dengan judul “Pemikiran Timur dan Fisika Modern”), Fritjof Capra (Fritjof Capra) menjelaskan hubungan antara filsafat dan fisika yang melintasi peradaban Timur dan Barat. Inti buku ini adalah pemahaman bahwa fisika modern berbagi pemikiran filosofis dengan pemikiran Timur, yang dibangun di atas sistem saling melengkapi. Fisika klasik berlandaskan pertentangan yang selama ini dijunjung Barat sebagai kaidah emas. Dengan runtuhnya kemutlakan waktu dan ruang yang dinyatakan fisika klasik, dan runtuhnya pula kausalitas, pertentangan antara dua keberadaan pun ditinggalkan. Sebagai pengganti kemutlakan, kausalitas, dan pertentangan yang menjadi sandaran fisika klasik, relativitas, probabilitas, dan sifat saling melengkapi muncul sebagai konsep inti fisika modern. Teori-teori fisika modern berlaku di wilayah di mana teori-teori fisika klasik tidak berlaku.
Ilmu pengetahuan Barat, terutama fisika klasik, sejak zaman Yunani-Romawi melalui Abad Pertengahan sampai sepanjang zaman modern, dibangun di atas sistem filsafat dualisme pertentangan. Geometri Euklides dan mekanika Newton menerima kemutlakan dan kausalitas tanpa syarat apa pun. Kemutlakan dan kausalitas adalah inti dualisme pertentangan. Geometri Euklides dan mekanika Newton dianggap sebagai hukum besi yang terbukti mutlak dalam keadaan apa pun. Kausalitas ditetapkan sebagai cara membuktikannya melalui kemutlakan: logika bahwa jika sebabnya diketahui, akibatnya pasti dapat diramalkan. Kepercayaan manusia pada kemutlakan dan kausalitas ini mencapai puncaknya di Barat abad ke-19, terutama setelah Revolusi Industri. Orang mulai memupuk mimpi untuk mewujudkan utopia bagi masa depan umat manusia dengan kekuatan pikiran manusia dan kemajuan ilmu pengetahuan yang menakjubkan yang berlandaskan padanya.
Namun, optimisme yang positif ini sangat terguncang oleh munculnya fisika modern pada abad ke-20. Para ilmuwan Barat selama itu memercayai kemutlakan, kausalitas, dan prinsip-prinsip lain sebagai prinsip yang tak berubah, tetapi penemuan ilmiah fisika modern seperti mekanika kuantum membawa mereka pada kesimpulan bahwa nilai-nilai ini tidak lengkap. Bila kemutlakan hilang, kausalitas yang menjelaskannya pun dengan sendirinya runtuh. Akibatnya, fisika modern, sebagai sistem filsafat, menyatakan relativitas dan probabilitas sebagai pengganti kemutlakan dan keniscayaan.
Geometri Euklides tidak dapat diterapkan dalam alam semesta yang mahaluas. Waktu mutlak, yang begitu diyakini dan dijunjung orang Barat, runtuh tanpa ampun oleh teori relativitas Einstein. Orang terpaksa menerima bahwa di dalam alam semesta (宇: ruang; 宙: waktu), waktu dan ruang harus dipahami sebagai satu konsep yang menyeluruh. Hanya berkat pemikiran baru (新思考) inilah perjalanan antariksa menjadi mungkin.
Fisika Newton berlandaskan kausalitas yang sempurna. Tetapi teori kuantum (量子論) Barat abad ke-20, setelah pergulatan selama puluhan tahun, membuat orang Barat meninggalkan kausalitas yang begitu mereka hargai. Pepatah “alam tidak melompat”, yang dijunjung para ilmuwan dan ahli metafisika Barat seperti papan arwah yang dikeramatkan, harus ditinggalkan di hadapan penemuan yang mengejutkan bahwa elektron benar-benar melompat (quantum jump) antara keadaan dasar (基礎狀態: ground state) dan keadaan tereksitasi (勵起狀態: excited state).124 Dengan kata lain, kesinambungan bertahap, landasan kuat yang menopang budaya Barat, runtuh di hadapan fakta bahwa elektron memiliki energi diskret (discrete energy).125
Terutama ketika mereka harus menerima, tentang hakikat cahaya yang lama menggelisahkan mereka, bahwa cahaya memiliki sifat gelombang dan sifat partikel sekaligus, suatu kontradiksi yang menurut konsep Barat merupakan antinomi, dan ketika mereka menemukan bahwa partikel terkecil, selain proton, elektron, dan neutron, terpecah menjadi ratusan partikel elementer, mereka terpaksa meninggalkan sekaligus keyakinan mereka tentang hakikat materi dan pemahaman tentang partikel terkecil, serta iman mereka pada kebenaran mutlak.
Yang paling menggelisahkan para fisikawan Barat dalam penemuan-penemuan fisika yang baru ini adalah kurangnya konsep filosofis untuk menjelaskan keadaan-keadaan baru yang ditemukan itu. Sebabnya, fisika klasik telah menolak mentah-mentah konsep-konsep dualisme saling melengkapi yang dibutuhkan mekanika kuantum. Namun, perintis mekanika kuantum, fisikawan Bohr, mendapat ilham yang dibutuhkannya untuk dualisme saling melengkapi yang sedang dirancangnya ketika melihat taiji Timur, yin dan yang (陰陽).126 Konsep-konsep yang dibutuhkan mekanika kuantum adalah relativitas, teori probabilitas, kemungkinan, dan dualisme saling melengkapi, konsep-konsep yang begitu dibenci orang Barat tetapi dipahami sebagai nilai yang tinggi di Timur.127
Einstein menyatakan bahwa waktu dan ruang, materi dan energi, bukanlah konsep mutlak yang terpisah, melainkan konsep relatif yang dapat saling dipertukarkan. Persamaannya yang terkenal, E = mc², menunjukkan bahwa energi sama dengan massa dikalikan kuadrat kecepatan cahaya. Dengan demikian, ilusi tentang dunia fisik yang mekanis dan mutlak ala Newton hancur, dan konsep waktu dan ruang memperoleh sifat relatif: lahirlah teori relativitas (relativity theory). Pemikiran Einstein mengguncang sistem pemikiran Newton, tiang filsafat Barat modern:
Teori relativitas dan teori kuantum menghancurkan berkeping-keping semua konsep utama yang membentuk pandangan dunia Newton. Konsep-konsep utama itu adalah konsep ruang mutlak, waktu mutlak, dan partikel terkecil, kausalitas yang diterapkan secara ketat pada gejala fisik, dan gagasan bahwa gambaran objektif tentang alam itu mungkin.128
Pernyataan tentang “pemutlakan kemampuan pikiran”, yang sama-sama ditemukan dalam agama wahyu dan pada Sokrates, Plato, dan Aristoteles, sebagai metafisika sangat cocok menjadi teori filsafat yang dibutuhkan ilmu pengetahuan dan agama Barat. Tetapi ilmu pengetahuan Barat yang menyatakan kemutlakan, yaitu fisika klasik, karena kemutlakannya dihancurkan oleh fisika modern, membuat landasan yang selama dua ribu tahun menjadi sandaran teologi dan metafisika, yaitu geometri Euklides serta mekanika Galileo dan Newton, membentur batasnya. Einstein mengatakan bahwa apa yang dipercayai orang Barat seperti memercayai Tuhan, yaitu kebenaran ilmiah, tidak dapat bersifat mutlak, dan bahwa memercayai sesuatu yang ditemukan manusia sebagai yang mutlak adalah khayalan.
Konsep “benar” tidak dapat diterapkan pada pernyataan-pernyataan geometri murni, sebab dengan kata “benar” pada akhirnya kita selalu memaksudkan kesesuaian dengan suatu objek “nyata”; sedangkan geometri tidak menangani hubungan antara konsep-konsep geometris dan objek-objek pengalaman, melainkan hanya hubungan logis di antara konsep-konsep geometris itu sendiri.129
Fisikawan nuklir Denmark Bohr (1885–1962) dikenal karena “prinsip saling melengkapi” (Complementarity Principle) dalam mekanika kuantum, dan menerima Hadiah Nobel Fisika pada 1922 atas penelitiannya tentang struktur atom. Ia menegakkan teorinya dengan meninggalkan pertentangan seperti benturan dualistis dan saling meniadakan, yang dijunjung ilmu pengetahuan dan filsafat Barat, dan dengan menerima sifat saling melengkapi seperti keselarasan dan pemikiran yin dan yang. Niels Bohr sangat terkesan ketika melihat diagram taiji Timur. Sebabnya, ia menemukan dalam diagram taiji yin dan yang konsep Timur tentang keselarasan dan saling melengkapi, yang berlawanan dengan konsep Barat tentang pemisahan dan konfrontasi.130 Ia memakai diagram taiji yin dan yang sebagai lambang keluarganya, dan menuliskan semboyan “Yang berlawanan itu saling melengkapi” (Contraria sunt complementa) pada lambang itu.

Lambang itu memuat semboyan yang dipakainya, Contraria sunt complementa (yang berlawanan itu saling melengkapi)
Filsafat Bohr ini mengikuti yin dan yang yang saling melengkapi dalam diagram taiji Timur
Heisenberg (Werner Karl Heisenberg, 1901–1976) menerima Hadiah Nobel Fisika 1932 atas penciptaan mekanika kuantum, dan ia dikenal karena “prinsip ketidakpastian” (Uncertainty Principle). Dari pengamatan atas gerak di dalam kuantum, ia menemukan bahwa mustahil menetapkan kedudukan yang pasti, dan bahwa campur tangan pengamat memengaruhi kedudukan itu. Ia menegakkan teorinya dengan meninggalkan konsep-konsep yang pasti, seperti kemutlakan atau kausalitas, yang menjadi landasan ilmu pengetahuan Barat, dan dengan menerima konsep-konsep yang tak pasti, seperti kemungkinan atau kebetulan.
Bila kita menelaah sistem filsafat yang menjadi sandaran fisika klasik dan fisika modern, sistem filsafat yang diberikan fisika modern sungguh bermakna sebagai pergeseran paradigma dalam sejarah pemikiran Barat. Sebabnya, sistem-sistem filsafat yang menjadi landasan agama wahyu, lalu yang tampak dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles, rasionalisme Descartes, metafisika Kant dan Hegel, teori evolusi Darwin, ideologi-ideologi Barat, dan Darwinisme sosial (Social Darwinism), semuanya tidak dapat keluar dari sistem filsafat fisika klasik Barat.
Selama ribuan tahun, Barat menerima konsep dasar bahwa “yang berlawanan itu saling bertentangan” sebagai hukum besi dalam ilmu-ilmu alam maupun humaniora. Berdasarkan hal ini, Barat bahkan sampai berupaya menaklukkan alam dengan ilmu pengetahuan.
Tetapi “teori kekacauan” (chaos theory) memaksa manusia melepaskan pula mimpi untuk dapat meramalkan hasil gejala-gejala dunia alam. Bidang ini memperjelas batas-batas kita, terutama dalam meramalkan iklim. Sampai tahun 1960-an, orang percaya bahwa dengan berkembangnya komputer, perhitungan tingkat tinggi menjadi mungkin dan kemungkinan-kemungkinan yang rumit dapat dikendalikan, sehingga manusia dapat mengendalikan iklim. Tetapi segera tampak bahwa itu adalah konsep yang mengabaikan kemungkinan kekacauan. Manusia terpaksa menerima bahwa di setiap titik dalam setiap proses selalu mengintai kemungkinan perubahan ke arah yang baru.
Ketika ilmu pengetahuan Barat harus menerima kontradiksi bahwa cahaya, yang hakikatnya lama menggelisahkannya, memiliki sifat gelombang dan sifat partikel sekaligus, dan ketika ditemukan bahwa partikel terkecil, selain proton, elektron, dan neutron, terurai menjadi ratusan partikel elementer, para ilmuwan terpaksa meninggalkan keyakinan bahwa mereka dapat memahami hakikat materi atau partikel terkecil, serta kepercayaan pada kebenaran mutlak. Yang paling menggelisahkan para fisikawan Barat dalam penemuan-penemuan fisika yang baru ini adalah kurangnya konsep filosofis untuk menjelaskannya. Penemuan ilmiah biasanya dianggap bersifat induktif, tetapi ternyata juga sangat deduktif: dibutuhkan teori dan konsep untuk menata dan menjelaskan penemuan-penemuan baru.
Penemuan dunia yang mahabesar, yaitu alam semesta, dan dunia yang mahakecil, yaitu partikel, tidak dapat dijelaskan dengan konsep-konsep mutlak, mekanis, bertahap, dan menyingkirkan yang menjadi arus utama budaya Barat. Karena konsep-konsep yang menjadi dasar peradaban Barat ini telah diterima sebagai prinsip dasar alam semesta dalam filsafat Barat, seperti dalam geometri Euklides, fisika Newton, dan teori evolusi Darwin, upaya ilmu pengetahuan Barat untuk keluar dari konsep-konsep ini menimbulkan banyak kesulitan. Teori relativitas, prinsip ketidakpastian, dan prinsip saling melengkapi, yang menjelaskan gejala alam semesta dan mekanika kuantum, serta teori keseimbangan bersela (punctuated equilibrium) dari Profesor Gould (Gould), yang menjelaskan evolusi secara meyakinkan, semuanya adalah penemuan yang sulit diterima orang Barat dengan konsep fisika klasik mereka. Tetapi di Timur, konsep relativitas, ketakterketahuian, kemungkinan, dan keselarasan telah lama dipahami lebih relevan untuk memahami alam daripada konsep-konsep dasar peradaban Barat yang mutlak, mekanis, bertahap, dan menyingkirkan. Terjadilah keadaan di mana konsep-konsep yang dipahami fisika modern Barat bertemu dengan konsep-konsep dasar filsafat Timur. 131
Pada akhirnya, ilmu pengetahuan kita memakai kedua sistem, sistem fisika klasik dan sistem fisika modern. Geometri Euklides masih dapat diterapkan di bumi. Tetapi begitu kita keluar ke angkasa, kemutlakannya hilang. Fisika Newton berguna bagi benda-benda yang bergerak dengan kecepatan biasa dalam kehidupan di bumi. Tetapi di luar lingkup itu, kita harus memakai prinsip relativitas Einstein.
Pernah terjadi perdebatan antara Niels Bohr dan Einstein tentang apakah kedua sistem filsafat ini, yaitu sistem filsafat fisika klasik dan fisika modern, terpisah ataukah dapat disatukan. Menentang teori Niels Bohr bahwa dalam fisika modern dunia kuantum hanya dapat ditafsirkan secara probabilistis, Einstein berkata: “Tuhan tidak bermain dadu” (He does not play with dice).132 Einstein menyatakan bahwa kedua sistem filsafat itu dapat disatukan, dan bahwa pasti ada teori yang belum kita temukan. Tetapi alih-alih sudut pandang deterministis Einstein, pendapat Niels Bohr bahwa di dunia mikro alam bekerja secara probabilistis lambat laun makin diterima.
Ilmu pengetahuan memakai dualisme pertentangan dan dualisme saling melengkapi sekaligus, dengan kata lain sistem filsafat Barat dan sistem filsafat Timur. Artinya, ilmu pengetahuan memakai pemikiran yang lahir dari konsep Tuhan maupun dari konsep Dao. Karena itu, keputusan “filosofis” dan “rasional” tentang mana yang benar, Tuhan atau Dao, tidak terlalu relevan dalam kehidupan nyata kita. Konsep Tuhan dan Dao hidup berdampingan bersama kita di dalam peradaban Timur dan Barat menurut prinsip mempertahankan diri. Dari sudut pikiran, daya tahan pemikiran yin dan yang itulah yang benar, sedangkan pemikiran baik dan jahat berisiko terjerumus ke dalam kontradiksi dengan dirinya sendiri. Tetapi dari sudut naluri yang setia pada upaya mempertahankan diri, pemikiran baik dan jahat dan agama wahyu tetap memberikan sesuatu yang dibutuhkan manusia. Pada akhirnya, sebagaimana kita membutuhkan fisika klasik dan fisika modern sekaligus, pemikiran baik dan jahat dan pemikiran yin dan yang hanya memperlihatkan, melalui peradaban Timur dan Barat, dua sisi cara manusia memandang alam semesta dan urusan manusia.
3) Dialog Dao dan Tuhan pada abad ke-17 dan ke-18
Sampai di sini kita telah menelaah Dao Timur dan Tuhan Barat. Kita telah menganalisis pandangan alam semesta yang terkandung dalam konsep Dao dan Tuhan, dan membandingkan peradaban apa yang diberikan masing-masing pandangan itu kepada manusia yang bertahan hidup di Timur dan di Barat. Kedua konsep ini lahir dan tumbuh sendiri-sendiri, tanpa saling berkaitan, selama ribuan tahun. Timur dan Barat sudah berhubungan sejak sebelum Masehi melalui Jalur Sutra, tetapi pertukaran itu terbatas pada barang; adapun filsafat, karena harus melewati perbatasan yang tak terhitung banyaknya dengan bahasa yang berbeda-beda, dan perjalanan sekali jalan memakan waktu dua tahun, inti peradaban tidak tersampaikan. Tetapi sejak abad ke-16 dan ke-17, dengan dirintisnya jalur laut langsung antara Timur dan Barat, pertukaran manusia dan filsafat menjadi mungkin. Akhirnya kedua sistem filsafat, Dao Timur dan Tuhan Barat, bertemu.
Pertemuan Timur dan Barat ini terjadi melalui orang-orang Barat yang berangkat pada Zaman Penjelajahan (The Age of Discovery). Memang, pada Zaman Penjelajahan, yang mewujudkan penaklukan dunia oleh Barat, para misionaris Barat menyertai para penakluk. Ketika buku-buku Konfusianisme dan Taoisme diperkenalkan ke Barat oleh para misionaris yang diutus ke Tiongkok, para pemikir Barat mengenal filsafat alam Timur. Orang Barat, yang begitu dalam dan lama mengabdi pada agama wahyu, berpikir bahwa setiap peradaban pasti memiliki agama, sehingga mereka menyebut Konfusianisme dan Taoisme agama, yaitu agama alam. Tetapi Konfusianisme dan Taoisme tidak memiliki isi apa pun yang dapat disebut agama. Tidak ada Tuhan dan tidak ada nabi. Memang, sebagian Taoisme, setelah Buddhisme masuk ke Timur, mendewakan tokoh-tokoh Taois dalam kepercayaan rakyat, tetapi Daodejing dan kitab-kitab Taoisme tidak memiliki isi keagamaan. Dari segi waktu pun, Barat, ketika memasuki Zaman Pencerahan, menaruh perhatian yang mendalam pada “filsafat alam” Timur sebagai lawan agama wahyunya sendiri.133 Tetapi terlepas dari minat filosofis ini, yang muncul dalam sejarah adalah benturan antara Konfusianisme dan Kristen.
Ketika deisme menyebar di Barat, para misionaris Yesuit yang diutus Takhta Suci, terdorong oleh semangat penginjilan, datang ke Timur untuk menyebarkan semangat Kristen dan memulai dialog dengan Timur. Ketika Barat memasuki zaman deisme, yaitu Zaman Pencerahan abad ke-17 dan ke-18, Timur dan Barat akhirnya dapat memulai pertukaran pemikiran filosofis. 134 Pertukaran filosofis antara Timur dan Barat ini seharusnya dimulai dengan perbandingan Dao dan Tuhan, tetapi karena keadaan sejarah pada masa itu, yang terjadi adalah perbandingan Konfusius dan Yesus, alih-alih Laozi dan Musa. Karena Konfusius pun mengakui Dao alam, dan Kristen bersama Yudaisme berbagi Tuhan Perjanjian Lama, perbandingan Dao dan Tuhan terjadi secara tidak langsung melalui perbandingan Konfusianisme dan Kristen. Karena itu, alih-alih perbandingan langsung antara Dao alam dan Tuhan yang adikodrati, persoalannya beralih menjadi persoalan penghormatan leluhur dan penyembahan kepada Tuhan. Konfusius dan upacara penghormatan leluhur menjadi perhatian terbesar Barat.
Misionaris Barat terkenal pertama yang tiba di Timur melalui jalur laut Vasco da Gama adalah Matteo Ricci (Matteo Ricci, 1552–1610). Matteo Ricci tiba di Makau pada tahun 1582 dan tinggal di Tiongkok sampai wafat di Beijing pada tahun 1610, sambil mempelajari bahasa dan budaya Tiongkok. Sebagai penasihat istana kekaisaran, dengan izin istana ia bahkan menerbitkan dalam bahasa Tionghoa Makna Sejati Tuhan Surga (天主實義), yang memperkenalkan konsep Tuhan Barat ke Timur melalui Katolik. Sebagai orang Kristen, ia mempelajari Konfusianisme; setelah wafat, ia dimakamkan di sebuah kuil Buddha di Beijing. Matteo Ricci bersemangat menyebarkan pemikiran Barat di Tiongkok melalui Kristen, tetapi dengan menerjemahkan Analek dan teks-teks lain ke Barat, ia juga memberikan sumbangan yang menentukan dalam menyebarkan pemikiran Timur ke Barat.
Seiring para misionaris Yesuit Barat, dengan Matteo Ricci di barisan depan, menyebarkan pemikiran Timur ke Barat, pemikiran Timur menjadi sangat populer dan disambut baik oleh para pemikir Pencerahan. Pada masa itu Barat sedang berusaha meninjau kembali tradisinya, termasuk agama, dan menanamkan pemikiran yang rohani dan rasional dalam segala hal. Pemikiran Timur yang kebetulan masuk ke Barat pada saat itu menolak dogma, mukjizat, dan takhayul serta sangat menonjolkan segi rohani, sehingga memberikan pengaruh positif yang besar di antara para pemikir Pencerahan yang dapat mengenalnya.
Dialog antara Dao dan Tuhan pada masa itu berlangsung di dua medan. Di Timur terjadi dialog dan konflik antara Konfusianisme dan Katolik; di Barat terjadi dialog dan konflik antara peradaban Timur dan Barat dalam arti luas. Semula, Tiongkok membukakan jalan penyebaran Katolik bagi Matteo Ricci. Pada masa Matteo Ricci menjalankan misinya, kesempatan bagi tersebarnya pemikiran Barat di Timur sudah tersedia. Karena pemikiran Timur bersifat sinkretis, sikap utamanya adalah membuka hati bagi semua agama dan filsafat yang berguna bagi manusia. Pada saat yang sama, jam berdentang dan mesin-mesin ilmiah canggih lain yang dibawa Matteo Ricci, serta pengetahuannya tentang peta dunia, memperlihatkan dunia baru kepada Timur, dan ilmu pengetahuan serta teknologi ini bekerja sangat positif. Para pastor Yesuit yang bertugas di Beijing sampai pada pandangan bahwa upacara penghormatan leluhur Konfusianisme dan ibadah Kristen kepada Tuhan dapat hidup berdampingan. Karena itu, mereka menganjurkan agar upacara penghormatan leluhur diizinkan dalam penyebaran Kristen, dan dengan demikian ada upaya untuk memulai dialog antara peradaban Timur dan Barat.
Di Timur, Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing pada tahun 1692 mengeluarkan Maklumat Toleransi (容教令), yang mengizinkan penyebaran semua agama, termasuk Kristen. Maklumat ini mengizinkan Kristen menyebarkan ajarannya dengan bebas; justru hal inilah yang sulit dipahami di Barat, karena pemikiran Barat tentang Tuhan yang esa yang tidak toleran, yang mereka anut. Bahkan ketika semangat Pencerahan sedang menyebar di Barat, para pemikir Pencerahan sendiri menilai maklumat Kangxi, yang mengizinkan penyebaran semua agama, sebagai kebijakan yang terlalu murah hati.
Di atas lahan Timur yang terbuka ini, yang berbeda dari arus intoleransi agama Barat, Tiongkok pada abad ke-17 sudah siap untuk memulai dengan sungguh-sungguh dialog antara peradaban Timur dan Barat, antara Dao Timur dan Tuhan Barat, dan antara Konfusianisme dan Katolik. Berkat upaya Matteo Ricci dan lain-lain, pihak Barat pun, dalam kegiatan misinya, memiliki sikap menghormati tradisi dan kebiasaan Timur demi dialog dengan pemikiran Timur.
Jangan bertindak karena terbawa semangat. Jangan berbantah dengan orang-orang negeri itu agar mereka mengubah upacara atau adat mereka, kecuali bila upacara atau adat itu jelas bertentangan dengan ajaran dan moral Kristen. Apa yang lebih bodoh daripada membawa Prancis, Spanyol, Italia, atau negeri Eropa lain ke Tiongkok agar ditiru orang Tionghoa? Jangan pula memaksa mereka menjadi seperti negeri-negeri Eropa. Sebaliknya, berikanlah iman kepada mereka, iman yang tidak boleh menyangkal atau melukai upacara dan adat mereka. Kecuali bila menyangkut perkara yang berat, peliharalah dan lindungilah apa yang menjadi milik mereka.135
Namun, sikap toleran para pastor Yesuit ini segera ditantang oleh para biarawan Dominikan asal Spanyol yang tinggal di Filipina. Mereka terutama mengajukan tiga pokok: melarang upacara penghormatan kepada Konfusius; melarang upacara penghormatan leluhur; dan menentang kebiasaan para pastor Yesuit, terutama yang berasal dari Prancis, menyebut Tuhan Kristen dengan Langit (天) atau Shangdi (上帝), sehingga Tuhan hanya boleh disebut Tianzhu (天主, Tuan Langit).136
Perselisihan ini dianggap begitu penting sehingga Takhta Suci di Roma turun tangan. Dalam pertikaian antara para Yesuit di Beijing dan para biarawan Dominikan di Filipina, Paus Klemens XI (Clemente) saat itu memihak para biarawan Dominikan. Pada tahun 1704 ia mengeluarkan dekret (papal decree) yang melarang orang Kristen Tionghoa melakukan upacara penghormatan kepada Konfusius dan leluhur, dan melarang menyebut Tuhan Kristen dengan Tian atau Shangdi, serta memerintahkan agar Tuhan hanya disebut Tianzhu. Lalu pada tahun 1705 Klemens XI mengutus seorang utusan khusus untuk menyampaikan dekret ini kepada Kaisar Kangxi.
Bagaimana Kaisar Kangxi memperlakukan utusan khusus itu? Ia mengusirnya ke Makau. Paus menanggapinya dengan keras dengan mengumumkan bula (papal bull) yang secara resmi melarang upacara dan adat Tiongkok. Kaisar Kangxi pun menanggapinya dengan keras dengan mengeluarkan maklumat pada tahun 1721 yang melarang penyebaran Katolik di Tiongkok. Dalam maklumat itu, Kangxi menilai sikap Paus sebagai berikut:
Setelah membaca dekret Paus, aku menyadari bahwa orang Barat sungguh berpikiran sempit. Aku sampai pada kesimpulan bahwa dengan orang Barat kita tidak dapat bercakap-cakap dengan akal budi. Sebabnya, mereka tidak memahami cara kami orang Tionghoa yang memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan besar. Tak seorang pun orang Barat yang kujumpai memahami peradaban Tiongkok, dan perkataan serta perbuatan mereka sungguh tidak dapat dipercaya dan bodoh. Melihat dekret Paus, agama mereka sama sekali tidak berbeda dengan sekte-sekte kecil Buddha atau Taois di Timur yang keras kepala. Belum pernah aku melihat dokumen yang memuat begitu banyak pendapat yang bodoh. Mulai sekarang, untuk menghindari urusan yang merepotkan, aku melarang orang Barat menyebarkan agamanya.137
Perbedaan pendapat antara Paus dan kaisar Tiongkok ini segera berlanjut menjadi perselisihan antara umat Katolik dan kelompok-kelompok imam di Tiongkok. Umat Katolik Tionghoa membela para pastor Yesuit. Sebaliknya, pendapat Paus yang melarang upacara Konfusianisme didukung para biarawan Dominikan dan para uskup di Tiongkok yang berasal dari Semenanjung Iberia. Karena timbul masalah di dalam negeri seperti ini, pemerintah Tiongkok memperketat penindasan terhadap Katolik, dan akhirnya pada tahun 1770 Kaisar Qianlong, memperkuat keputusan kakeknya, Kangxi, mengusir para imam Katolik dari Tiongkok.138
Para pemikir akhir Zaman Pencerahan lebih mengejar republik daripada raja yang tercerahkan. Seiring mereka menggiatkan kajian tentang Yunani-Romawi kuno dan menginginkan republik, yang tidak ada di Timur, pandangan yang secara umum negatif terhadap pemikiran Timur pun meluas. Kira-kira pada masa yang sama, di Tiongkok, pendapat tentang para misionaris Barat memburuk, dan para misionaris Barat diusir. Menanggapi tindakan Tiongkok ini, kaum terpelajar Barat mulai menilai Tiongkok makin negatif. Di latar belakangnya, sangat berpengaruh kenyataan bahwa Barat pada masa itu, dengan bersandar pada keberhasilan Revolusi Industri, sedang menaklukkan Timur. Terutama, peradaban Timur dinilai kurang dalam hal pikiran. Penilaian ini berlandaskan rasionalisme yang berpusat pada pikiran, yang memimpin sistem filsafat Eropa daratan sejak Descartes.
Meskipun Matteo Ricci telah berupaya, penyebaran Katolik pada akhirnya tidak membuahkan hasil berarti di Tiongkok pada abad ke-16 dan ke-17. Secara filosofis, karena pemikiran Taoisme tentang Dao alam dan pemikiran Konfusianisme yang menolak mukjizat dan takhayul sudah lama mengakar, dapat dikatakan bahwa Tuhan yang dipersonifikasikan dan mengadakan mukjizat, yang memainkan peran penting dalam ajaran Kristen, tidak mendapat banyak ruang untuk masuk. Dalam kenyataannya, benturan antara Takhta Suci di Roma dan istana Tiongkok seperti diuraikan di atas menjadi penghambat dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, jalan dialog dan interaksi tertutup: antara peradaban Timur dan peradaban Barat, dan antara sistem filsafat Dao Timur dan Tuhan Barat.
Deisme (理神論) dan empirisme Barat, dan filsafat alam Timur
Dalam dialog antara Dao dan Tuhan, walaupun dialog antarnegara mengalami hambatan selama Zaman Pencerahan, ada masa ketika dialog itu bekerja secara positif dalam pemikiran filosofis Timur dan Barat. Sebabnya, dengan munculnya deisme di Barat, orang mulai meragukan mukjizat Tuhan, sehingga sampai pada penilaian positif terhadap filsafat alam Timur yang tidak mengakui mukjizat. Pada saat yang sama, empirisme Inggris, dengan menjunjung alam, memiliki kesejajaran filosofis dengan filsafat alam Timur.
Persoalan terbesar antara sistem agama wahyu dan sistem filsafat alam adalah penilaian terhadap mukjizat. Di Barat, persoalan mukjizat diajukan secara mendasar pada abad ke-18. Selama kira-kira dua atau tiga ribu tahun, agama wahyu menganggap mukjizat sebagai peran yang wajar dari Tuhan yang adikodrati. Tetapi di Timur, sudah sebelum Masehi, pada Zaman Musim Semi dan Musim Gugur serta Zaman Negara-Negara Berperang, persoalan mukjizat telah diselesaikan dengan jelas oleh Taoisme dan Konfusianisme, dan lebih jauh lagi oleh Xunzi. Pengaruh filsafat alam Timur inilah yang langsung memengaruhi deisme Barat. Di dunia pemikiran Barat pun ada orang-orang yang berpendapat bahwa pemikiran Timur bersifat deistis. Mereka memandang Tiongkok sebagai satu-satunya peradaban di dunia yang memiliki sistem deistis, dan berpikir bahwa peradaban Timur memiliki deisme yang bersandar bukan pada wibawa Gereja atau wahyu, melainkan pada terang yang bernama pikiran, yang dimiliki setiap manusia. Mereka menilai bahwa etika Konfusianisme memiliki nilai yang sama dengan ajaran Kristen, tetapi didasarkan bukan pada wahyu, melainkan pada pikiran. 139 Mereka mendekati Konfusianisme dan Taoisme di Timur dengan sangat positif.
Deisme Barat muncul pada akhir abad ke-17 dan menguasai dunia pemikiran Barat selama kira-kira seratus tahun. Deisme mencapai puncaknya pada akhir abad ke-18, pada masa Revolusi Prancis, sampai-sampai pemerintah revolusioner Prancis menyatakannya sebagai agama negara Republik Prancis. Deisme berkembang berkat sumbangan banyak pemikir dan ilmuwan Barat pada Zaman Pencerahan, dan sebagian besar pemimpin yang membangun Amerika adalah penganut deisme. Konstitusi Amerika, yang mengizinkan kebebasan beragama, lahir dari deisme. Deisme terutama dimajukan oleh para pemikir Eropa daratan, dan berkembang penuh pada Spinoza, lalu Voltaire dan Rousseau. Tetapi karena kekuatan agama masih tetap kuat sampai Zaman Pencerahan, mereka harus menyembunyikan pemikirannya seperti Spinoza, atau, seperti Voltaire dan Rousseau, dengan berani mengumumkan pemikirannya lalu berpindah-pindah tempat untuk menghindari penangkapan dan penganiayaan. 140
Ketika para pemikir Eropa daratan melewati Zaman Pencerahan Barat dengan latar deisme, para pemikir Inggris mengikuti pola filsafat yang lain. Mereka mengedepankan, sebagai aliran filsafat utama, bukan rasionalisme Eropa daratan, melainkan empirisme Inggris. Rasionalisme dan empirisme sama-sama keluar dari keadikodratian Tuhan Kristen tradisional dan berpusat pada pikiran manusia dan alam. Rasionalisme memandang pikiran sebagai dasar pengetahuan, menjunjung gagasan bawaan, dan berdasarkan penalaran deduktif menyumbang bagi perkembangan ilmu pengetahuan, metafisika, dan filsafat moral. Empirisme Inggris, yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi, mengajukan metode penalaran induktif yang menjunjung pengamatan dan pengalaman di dalam alam.
Rasionalisme, yang bersandar pada pikiran, menyatakan bahwa pengetahuan manusia bersifat “intelektual dan deduktif”, dan dibuktikan melalui geometri, matematika, etika, dan metafisika. Empirisme menyatakan bahwa pengetahuan manusia dibuktikan “secara induktif, menurut indra”, dan tidak boleh bersandar pada pembawaan sejak lahir (innatism) atau tradisi. Untuk menjauhkan diri dari pembawaan sejak lahir dan tradisi, mereka berusaha menjadikan “alam” sebagai dasar. Tulisan-tulisan Bacon, Locke, dan Hume menekankan empirisme yang berpusat pada alam.
Dalam arti ini, para penganut empirisme Barat memiliki kemiripan dengan peradaban Timur yang berlandaskan Dao, yang memercayai “alam sebagai kebenaran mutlak”. Tetapi karena kekuatan agama sudah sangat berpengaruh pada para pemikir Barat, kemiripan yang benar-benar tercermin dalam filsafat mereka tidak besar. Peradaban Timur sampai pada pemikiran Dao dengan berlandaskan empirisme murni yang terjaga apa adanya selama ribuan tahun, tanpa prasangka. Pemikiran Dao berintikan yang tak tampak. Tetapi sebagian besar penganut empirisme Barat adalah pemikir yang tampak, yang memercayai keberadaan Tuhan. Karena itu, filsafat mereka menyentuh alam bukan pada tataran wacana besar yang membandingkan Tuhan dan alam (Dao), melainkan pada tataran epistemologi.
Dan banyak penganut empirisme menganut teori kertas kosong dalam epistemologi. Teori kertas kosong tidak mengakui kodrat manusia sebagai “kebebasan di dalam takdir”. Kodrat manusia sebagaimana dipahami peradaban Timur menekankan pembatasan kemungkinan manusia pada tataran “naluri”. Tetapi teori kertas kosong menolak pembatasan kemungkinan manusia. Justru dalam membuka kemungkinan manusia yang tak terbatas, teori kertas kosong mirip dengan rasionalisme. Karena itu, para penganut empirisme Barat tidak sampai membicarakan ciri-ciri pokok yang dinyatakan peradaban Timur: ketaktampakan, kemungkinan, relativitas, dan sifat saling melengkapi. Dengan sendirinya pemikiran mereka tetap berada di dalam wacana besar peradaban Barat: ketampakan, kausalitas, kemutlakan, dan pertentangan. Di dalam kerangka besar ini, para penganut empirisme Barat memperdebatkan epistemologi (epistemology), yang mencari kepastian dalam filsafat. Dalam epistemologi Barat, selain rasionalisme dan empirisme tersebut, kita dapat menelaah skeptisisme (skepticism).
Skeptisisme diungkapkan sebagai keraguan terhadap pengetahuan menurut rasionalisme dan empirisme. Pada zaman kuno, skeptisisme meragukan filsafat Sokrates, Plato, dan Aristoteles; pada zaman Renaisans, meragukan skolastisisme dan Calvinisme; pada zaman modern, berperan meragukan Cartesianisme yang mewakili rasionalisme. Skeptisisme Barat juga memiliki kemiripan dengan yang tak tampak di Timur. Yang tak tampak memercayai kebenaran mutlak, tetapi menentang manusia mengungkapkannya. Skeptisisme Barat berbeda dari yang tak tampak di Timur karena meragukan bukan hanya pengungkapannya, melainkan juga keberadaan kebenaran mutlak itu sendiri. Dalam hal ini, skeptisisme dalam filsafat modern Barat berbeda dari skeptisisme dalam filsafat Yunani pra-Sokrates, yang mirip dengan yang tak tampak. Para filsuf Yunani itu, seperti yang tak tampak di Timur, mempersoalkan bukan keberadaan yang mutlak, melainkan pengungkapannya.
Pada abad ke-17 dan ke-18, pada Zaman Pencerahan, Inggris, sebagai reaksi terhadap rasionalisme, menganut empirisme dan mengembangkan filsafat bahwa empirisme harus berpusat pada alam. Para pemikir Inggris menyumbang bagi perkembangan Pencerahan Barat melalui naturalisme dan empirisme. Tetapi sampai Hume pada abad ke-18, mereka tetap konservatif dalam soal agama. Bacon (1561–1626), sambil menegaskan dengan jelas pentingnya alam, berpendapat bahwa alam tidak berbenturan dengan Alkitab dan iman. Ia menyatakan bahwa karena semua pengetahuan manusia berasal dari alam, pengalaman melalui pengamatan itu penting, tetapi ia juga berpikir bahwa Alkitab dan alam sama-sama merupakan wahyu Allah. Ia mengkritik metode deduktif Aristoteles dan menganjurkan empirisme induktif melalui pengamatan dan percobaan. Locke (1632–1704) menganut teori kertas kosong empiris, yaitu bahwa pengetahuan manusia terbentuk melalui pengalaman yang diperoleh setelah lahir, bersama teori kontrak sosial bahwa manusia yang berhak menentukan dirinya sendiri mengarah pada liberalisme. Hal ini menyumbang bagi cita-cita pendirian Konstitusi Amerika. Pada saat yang sama, walaupun menganjurkan toleransi, semboyan Pencerahan, ia berpendapat bahwa pemerintah tidak boleh menoleransi kaum ateis. Mengenai Alkitab, ia berusaha memercayainya apa adanya, termasuk penciptaan dan mukjizat.
Di Inggris, kekuatan agama seperti ini tetap berlanjut. Hume (1711–1776), yang sesudah wafatnya berpengaruh besar dalam filsafat, tidak diangkat menjadi profesor karena pandangan agamanya yang skeptis, dan terus-menerus dirugikan. Hume berpendapat bahwa pikiran manusia terlalu terbatas untuk memahami hakikat Tuhan, dan bahwa keyakinan agama bersandar pada perasaan dan kebiasaan alih-alih pada pikiran. Karya utamanya, Dialog tentang Agama Alam, juga diterbitkan tanpa nama setelah ia wafat. Etika dan epistemologinya tidak dihargai pada zamannya, tetapi setelah wafatnya memperoleh kemasyhuran tersendiri. Dalam buku ini ia menjelaskan pandangannya melalui dialog tiga tokoh: seorang teis tradisional, seorang penganut agama alam, dan seorang skeptis. Di Barat, skeptics diterjemahkan sebagai kaum skeptis, dan dinilai mewakili filsafat Hume. Tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam penilaian tentang para filsuf Yunani, dapat dikatakan bahwa kaum skeptis Barat memiliki sistem filsafat yang hampir sama dengan para filsuf alam (natural philosophy) di Timur.141 Dalam arti ini, Hume berbeda dari Bacon, Berkeley, dan Locke, yang mengembangkan filsafat empirisme di dalam sistem agama wahyu. Hume menjadi filsuf yang mengembangkan filsafat alam yang bebas dari agama wahyu. 142 Dari segi pemikiran filosofis, filsafat Hume membentuk “kesejajaran pemikiran” (parallelism) dengan filsafat alam Timur.
4) Pertemuan pemikiran Timur dan Barat: Konfusius dan Voltaire, Laozi dan Rousseau, Xunzi dan Spinoza
Di antara para pemikir Timur dan Barat, ada orang-orang yang berperan mencangkokkan peradaban Timur dan Barat satu sama lain: tiga orang, yaitu Spinoza (1632–1677), Voltaire (1694–1778), dan Rousseau (1712–1778). Spinoza, Voltaire, dan Rousseau di Barat, secara langsung atau tidak langsung, mengikuti sistem filsafat yang sama dengan Xunzi, Konfusius, dan Laozi di Timur; karena itu, membandingkan mereka memperlihatkan pertemuan yang menarik antara sistem filsafat Dao dan Tuhan, Timur dan Barat.
Spinoza adalah filsuf yang mengembangkan pemikiran mengagumkan yang menyamakan alam (Dao) dengan Tuhan. Sistem filsafatnya begitu mirip dengan Taoisme, dan terutama dengan sistem filsafat Xunzi, sehingga sulit dibedakan. Mistisisme Yahudi Kabbalah (Kabbalah), yang memengaruhi Spinoza, mengajukan konsep-konsep yang sangat mirip dengan Dao. Di antara konsep-konsep penting dalam Kabbalah, ada konsep dasar yang sejalan dengan Dao, yaitu konsep Ein Sof dan Sefirot. Itulah konsep “keberadaan yang tak terbatas” dan “kehadiran di dalam segala sesuatu”.143
Tuhan adalah sosok yang tak terbatas dan tak terlukiskan. Tidak ada konsep apa pun yang dapat mendefinisikan-Nya. (Ein Sof)
Tuhan bukanlah sosok di luar dunia, melainkan imanen di dalam dunia dan hadir dalam segala sesuatu. (Sefirot)
Penjelasan-penjelasan ini justru mengungkapkan ciri-ciri filsafat alam Dao di Timur. Pemikiran Spinoza yang terkenal, “Tuhan atau Alam” (God or Nature), justru berasal dari Kabbalah. Tuhan agama wahyu Barat dan Dao filsafat alam Timur harus menjadi satu dan sama. Karena itulah, di antara para filsuf Barat, Malebranche di Prancis dan Hegel di Jerman menafsirkan bahwa Spinoza mengulang filsafat Timur.144
Setelah Spinoza, melalui Voltaire dan Rousseau kita dapat menelaah konflik dan keselarasan antara Dao dan Tuhan. Spinoza, dalam konteks peradaban Timur dan Barat, hidup lebih dulu daripada Voltaire dan Rousseau, tetapi pemikirannya dapat dinilai lebih inovatif daripada mereka. Seandainya Voltaire dan Rousseau, seperti Spinoza, menyamakan alam dengan Tuhan, kegiatan filosofis mereka tidak akan menarik perhatian orang, mengingat struktur kekuasaan dalam dunia pemikiran Barat abad ke-18. Di Barat pada masa itu, sudut pandang deistis masih dapat diterima, tetapi pendapat bahwa “alam itu sendiri adalah Tuhan” mau tidak mau ditolak dan ditentang keras, atau diterima dengan ketidakpedulian filosofis karena terlalu mendahului zamannya. Dalam arti ini, perbandingan yang sejati antara pemikiran Timur dan Barat tetap sulit selama Barat belum sepenuhnya memahami filsafat Spinoza.
Tetapi karena permulaan ini begitu sulit, para filsuf Barat sampai sekarang masih terus menghindarinya atau takut kepadanya. Sebabnya, dibutuhkan keberanian untuk menjungkirbalikkan sama sekali yang tampak di Barat. Dalam sejarah filsafat Barat pun, para filsuf Barat sesudah Spinoza mendekati filsafat alam Timur sambil menghindari pokok utama Spinoza: “alam dan Tuhan adalah sama”. Di dalam batas-batas apa yang disebut deisme, mereka mendekati agama wahyu Barat dan sistem filsafat alam Timur secara terpisah.
Setelah Spinoza, Voltaire dan Rousseau mengembangkan sistem filsafat yang mirip dengan filsafat alam Timur. Voltaire mendapat ilham dari filsafat alam Konfusianisme, dan Rousseau mengungkapkan sistem filsafat yang sangat mirip dengan pemikiran Taoisme. Filsuf Amerika Will Durant juga menunjukkan kemiripan antara Rousseau dan Voltaire dengan pemikiran Timur:
Filsafat Rousseau begitu mirip dengan filsafat para pemikir Taois Tiongkok sehingga kita sering membandingkan Rousseau dengan Laozi dan Zhuangzi. Alasannya sama dengan alasan Voltaire dibandingkan dengan Konfusius dan Mengzi: ia berpikir begitu mirip dengan mereka.145
Voltaire secara terbuka memuja Konfusius, dan Rousseau mengembangkan pemikiran yang sangat mirip dengan sistem filsafat Taoisme. Sebagian besar orang Barat dan sebagian besar orang Timur melewatkan hal ini. Pada zaman deisme, para filsuf Barat sedang bergulat dengan masalah-masalah agama wahyu Barat, dan untuk menghadapinya mereka banyak mendapat ilham dari sistem filsafat yang ditawarkan filsafat alam Timur. 146 Bila kita memperhitungkan sistem filsafat Spinoza yang revolusioner terhadap agama wahyu, jangkauan kegiatan Rousseau yang terbatas dari segi perbandingan Timur dan Barat mirip dengan Voltaire. Karena pandangan Spinoza tentang Tuhan sebagai alam dianggap dalam dunia pemikiran masa itu sebagai penyangkalan Tuhan, yaitu ateisme, Rousseau tampaknya berkiprah dengan memperhitungkan keadaan ini. Akibatnya, alih-alih menyangkal Tuhan secara langsung, Rousseau mengkritik peradaban itu sendiri, yang dihasilkan manusia ciptaan Tuhan, dan menyatakan bahwa kita harus kembali ke keadaan alami. Meskipun demikian, kritik Rousseau terhadap peradaban ditindas oleh penguasa agama dan penguasa duniawi pada masanya, dan buku-bukunya beberapa kali dilarang. Rousseau, seperti Voltaire, harus mengungsi ke berbagai tempat demi kebebasan berpikir.
Dalam Etika-nya, Spinoza dengan jelas menyatakan bahwa “alam adalah Tuhan” dan membangun pemikiran yang sistematis. Dari situ kita dapat menemukan kemiripan besar dengan pemikiran Taoisme, yang memahami hubungan antara manusia dan alam sebagai Dao. Sebaliknya, Rousseau menekankan agar manusia kembali ke keadaan alami, tetapi berbeda dari Spinoza, ia mengakui perlunya agama. Hal penting yang membedakan Rousseau dari Spinoza adalah bahwa Rousseau tidak menyangkal bahwa dasar peradaban Barat adalah Tuhan dan agama. Karena Rousseau tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa “Tuhan dan alam adalah sama”, kemiripan antara pemikirannya dan pemikiran Taoisme tidak sejelas kemiripan antara Spinoza dan Taoisme. Namun, karena pemikirannya pada dasarnya berpusat pada hakikat hubungan antara manusia dan alam dan memandang peradaban dengan kritis, dapat dikatakan bahwa pemikirannya memiliki banyak kesamaan dengan pemikiran Taoisme.
Kemiripan ini hampir tidak pernah ditunjukkan karena para pemikir Barat tidak mengenal Taoisme. Sebaliknya, para pemikir Timur hanya berusaha memahami Rousseau dalam konteks sejarah filsafat Barat, dan hampir tidak pernah berusaha membandingkannya dengan pemikiran Timur, khususnya pemikiran Taoisme. Selain Spinoza, sulit menemukan pemikir Barat yang pemikirannya tentang hubungan antara manusia dan alam semirip Rousseau dengan Taoisme. Karena itu, mendekati Rousseau dari sudut ini sangat membantu orang Barat memahami Taoisme, dan membantu orang Timur memahami pemikiran Rousseau.
Voltaire dan Konfusius: “Tuhan tidak membutuhkan kurban maupun doa manusia”
Voltaire sangat menghargai pemikiran Konfusianisme dan banyak memanfaatkan filsafat alam Timur untuk menerangi Pencerahan Barat. Pada tahun 1755 ia mementaskan lakonnya Yatim dari Tiongkok (bahasa Prancis: L’Orphelin de la Chine; bahasa Inggris: The Orphan of China). Di dalamnya ia berusaha menjelaskan kepada Barat tatanan moral filsafat alam Timur. Karya ini adalah saduran dari lakon Yatim Keluarga Zhao (趙氏孤兒), yang ditulis di Tiongkok pada masa Dinasti Yuan. Alurnya menceritakan bagaimana, setelah keluarga Zhao, keluarga pejabat tinggi negara Jin, dibantai habis, satu-satunya bayi yang selamat tumbuh dewasa, membalaskan dendam keluarganya, dan memulihkan keadilan. Dalam karya ini Voltaire berusaha mengungkapkan filsafat Timur yang berlandaskan filsafat alam Konfusianisme, dan menetapkannya sebagai arah yang harus dipelajari Barat setelah Pencerahan.
Voltaire berpikir bahwa “kebutuhan akan doa, upacara, dan kurban adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan”. Pemikiran ini mirip dengan pemikiran Konfusius di Timur. Konfusius menyatakan bahwa penyembahan kepada roh-roh tidak hakiki bagi manusia, dan karena hubungan antarmanusia lebih penting, orang harus memusatkan diri pada ren.
Konfusius: Hormatilah roh-roh, tetapi jagalah jarak dengan mereka (Analek, “Yong Ye”, 20). Pemimpin (junzi, 君子) menjadikan ren sebagai akarnya. (Analek, “Wei Ling Gong”, 15)
Voltaire: Tuhan sama sekali tidak membutuhkan kurban maupun doa kita; hanya kitalah yang merasa perlu melakukannya. Bukan Tuhan yang membuat kita menyembah-Nya, melainkan kita sendiri.147
Voltaire secara langsung memuji filsafat Konfusianisme dan meninggalkannya dalam tulisan. Voltaire sangat menghargai peran Konfusius dan memandang Konfusianisme sebagai himpunan pelajaran etika politik yang paling berguna dalam sejarah umat manusia. Voltaire memberikan penilaian berikut tentang Konfusius.
Takdir macam apa, yang barangkali memalukan bagi kita orang Barat, sehingga kita harus pergi ke ujung Timur untuk menemukan seorang bijak? Seorang bijak yang sederhana, tanpa kemegahan, tanpa tipu daya, yang sudah pada tahun 600 SM mengajarkan kepada manusia cara hidup bahagia, pada masa ketika orang Yunani baru mulai membedakan apa itu kearifan, dan bangsa-bangsa lain di Eropa utara belum mengenal huruf. Orang bijak itu adalah Konfusius. Di antara semua guru zaman kuno, Konfusius adalah satu-satunya yang tidak pernah hendak menipu orang lain. Di seluruh dunia, sejak Konfusius, siapakah yang pernah memberikan pedoman perilaku yang lebih indah daripada dia? “Urusan negara harus diurus seperti urusan rumah tangga; dan urusan rumah tangga hanya dapat diurus dengan memberi teladan…” Harus diakui dengan jujur bahwa tidak ada guru yang mengajarkan kebenaran yang lebih berguna bagi manusia daripada ini.148
Dengan membandingkan filsafat alam Timur, yang diwakili Konfusianisme dan Taoisme, dengan agama wahyu Barat, Voltaire pernah menunjukkan hal berikut:
Agama kaum terpelajar Tiongkok pun patut dihormati. Mereka tidak memiliki takhayul, tidak memiliki legenda yang bodoh, tidak memiliki dogma yang bertentangan dengan nalar dan alam.149
Voltaire menyebut dirinya penganut deisme. Sebagian besar karya Voltaire berpusat pada kritik terhadap intoleransi agama, dogma, dan unsur-unsur yang bertentangan dengan pikiran. Sebaliknya, Rousseau mengajukan berbagai teori dan jalan keluar mengenai peradaban itu sendiri. Voltaire menjunjung pikiran, Rousseau menjunjung perasaan. Keduanya tetap menjadi saingan dan terus menjalin hubungan persaingan. Rousseau mendapat dukungan besar dari rakyat dan orang-orang yang berwatak revolusioner, sedangkan Voltaire mendapat dukungan besar dari kalangan terpelajar. Rousseau menganalisis kebobrokan dan ketidaksetaraan manusia pada tataran peradaban dan mengajukan jalan keluarnya. Voltaire, terutama pada tataran agama dan filsafat, menekankan toleransi dan pikiran, serta mengkritik intoleransi dan takhayul yang bertentangan dengan pikiran.
Selama Zaman Pencerahan di Barat, segi rasional dan rohani peradaban Timur sangat memikat para pemikir Barat. Terutama di bidang pemikiran etika politik, Leibniz dan Voltaire menilai peradaban Timur secara positif dan mencerminkannya dalam tulisan mereka. Di bidang pemikiran ekonomi politik, Quesnay dan Vincent de Gournay memperkenalkan konsep-konsep seperti Taoisme dan pemikiran tanpa-tindakan, dan meneruskan pengaruhnya kepada Adam Smith di Inggris.
Yang dipertanyakan para penganut deisme adalah Tuhan yang mengadakan mukjizat. Mukjizat berarti pelanggaran terhadap gejala alam. Karena itu, Tuhan yang mengadakan mukjizat mau tidak mau adalah sosok yang terpisah dari alam dan melampaui alam. Mitologi Yunani memperlihatkan dengan baik proses bagaimana manusia dipahami sebagai terpisah dari alam dan, sampai taraf tertentu, sebagai makhluk adikodrati. Dan dalam kesadaran manusia yang terbentuk demikian, manusia dapat tergoda untuk menyamakan dirinya dengan Tuhan demi menonjolkan kekuatannya sendiri. Manusia ingin agar Tuhan mengadakan baginya mukjizat adikodrati yang melanggar alam. Di antara para penganut deisme, tokoh utama yang menentang ajaran ini adalah Voltaire. Karena itulah Voltaire dinilai sebagai pemikir utama Zaman Pencerahan di Barat.
Setelah Zaman Pencerahan, deisme tidak berhasil mendapat tempatnya sendiri sebagai sistem filsafat. Tetapi, dengan menyangkal mukjizat, wahyu, dan wibawa Gereja, serta berusaha memahami Tuhan melalui alam dan pikiran, deisme berpengaruh besar pada toleransi beragama dan rasionalisme modern. Bahwa banyak penganut deisme dinilai sebagai ateis, agnostik, atau sekularis juga sangat dipengaruhi oleh deisme.
Setelah persoalan mukjizat, persoalan utama deisme tentang Tuhan Barat adalah persoalan baik dan jahat. Orang Barat telah menjadikan Tuhan sebagai Tuhan yang adil dan baik. Muncullah para pemikir yang memandang bahwa keadilan dan kebaikan hanyalah kebutuhan manusia, sedangkan Tuhan harus berada di seberang adil dan tidak adil, baik dan jahat. Baik dan jahat, seperti dikatakan Spinoza, pada akhirnya bermuara pada apa yang baik atau buruk bagi kita.150 Gejala alam seperti topan, banjir, kemarau, atau dingin tidaklah baik dan tidak pula jahat. Hanya manusialah yang merasakannya sebagai baik (bila menimpa lawan atau musuh) atau buruk (bila menimpa dirinya). Russell (1872–1970) berharap bahwa “jika kita memakai konsep suka dan tidak suka sebagai ganti konsep baik dan jahat, kita akan dapat hidup di dunia yang lebih baik”. 151
Para pemikir Barat menyadari sekaligus masalah definisi monoteis Yahudi-Kristen tentang Tuhan dan masalah deisme. Meskipun demikian, jalan keluar yang mereka ajukan semuanya berpusat pada konsep Tuhan. Sebabnya, mereka enggan memasukkan konsep alam sebagai ganti Tuhan. Dengan menyebut Tuhan yang tidak lagi campur tangan dalam dunia manusia setelah penciptaan sebagai Tuhan deisme, dan Tuhan yang mewakili alam, yang sama dengan segala sesuatu, sebagai Tuhan panteisme, mereka tidak dapat menetapkan atau mendefinisikan hubungan antara alam dan manusia tanpa konsep Tuhan. Bahkan kita melihat bahwa sudut pandang yang sama sekali tidak memiliki konsep Tuhan dinamai “ateisme”. 152
Voltaire tidak menyetujui pandangan Spinoza tentang Tuhan sebagai alam, yaitu pendapat bahwa “Tuhan adalah alam”, tetapi ia mengkritik tradisi dan agama Barat dari sudut pandang deisme. Karena Barat abad ke-18 belum siap menerima sepenuhnya pandangan Spinoza tentang Tuhan sebagai alam, Voltaire melancarkan kritiknya dari sudut pandang deisme. Keadaan di mana pandangan Spinoza tentang Tuhan sebagai alam dianggap “ateisme” berlanjut sampai Zaman Pencerahan abad ke-18. Hanya karena menganut deisme saja, Voltaire sudah berada dalam bahaya, dipenjarakan, dan harus mengungsi ke berbagai tempat demi kebebasan berpikir.
Di Barat terjadi benturan antara Kristen ortodoks dan deisme. Mereka yang menganut deisme, menyerang dogma, mukjizat, ibadah, dan unsur-unsur lain yang bertentangan dengan pikiran dalam Kristen ortodoks, serta menganjurkan toleransi, adalah para pemikir Pencerahan. Dengan deisme yang dikembangkan di Barat sendiri, Barat memperoleh pijakan untuk memahami peradaban Timur. Peradaban Timur yang diperkenalkan ke Barat pada masa itu adalah pemikiran Konfusius. Voltaire terpikat oleh pemikiran filsafat alam Konfusius. Para pemikir Pencerahan Prancis pada masa itu menaruh minat dan memberi penilaian yang positif terhadap pandangan keagamaan Timur yang toleran dan sistem etikanya yang berlandaskan pikiran.
Prancis menaruh minat yang luar biasa pada sistem etika yang berlandaskan pikiran terutama karena kebencian sampai mati antara Katolik dan Protestan. Pada abad ke-16 dan ke-17, para pemikir Barat, terutama di Prancis, harus menghadapi lingkungan intoleransi agama yang ekstrem. Gereja Katolik berusaha mempertahankan keortodoksannya melalui berbagai cara, antara lain Inkuisisi. Terutama setelah Reformasi dimulai, konflik dengan Protestan makin tajam. Ketika masa Renaisans berakhir, di Barat untuk pertama kalinya terbit maklumat toleransi, yaitu Maklumat Saint-Germain (Edict of Saint-Germain), yang dikeluarkan pada tahun 1562 oleh Catherine de Médicis, yang menjalankan perwalian bagi Raja Charles IX. Itulah langkah toleransi pertama dalam hampir 1.200 tahun, sejak Kristen dinyatakan sebagai agama negara Kekaisaran Romawi pada abad ke-4. Tetapi tak lama setelah maklumat ini dikeluarkan, kaum Protestan dibantai besar-besaran oleh kekuatan Katolik, sehingga maklumat toleransi itu praktis kehilangan makna. Kemudian di Prancis berkobar Perang Agama Prancis (1562–1598) yang kejam antara Protestan dan Katolik selama tiga puluh enam tahun. Untuk mengakhiri perang ini dikeluarkan maklumat yang memberikan kebebasan beragama kepada kaum Protestan Prancis, kaum Huguenot (Huguenots): itulah Maklumat Nantes (Edict of Nantes) yang terkenal, yang dikeluarkan Henri IV pada tahun 1598.
Tetapi di luar Prancis, perang antara Protestan dan Katolik meluas ke seluruh Eropa. Itulah Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648) yang mengerikan, yang disebut “perang agama terakhir, perang dunia pertama”, ketika semua negara Eropa terbelah menjadi Protestan dan Katolik dan saling berhadapan. Setelah mengakhiri perang melalui Perjanjian Westfalen, Eropa akhirnya memasuki dunia baru: muncullah negara-bangsa (nation state) yang melampaui agama. Dan di antara negara-bangsa ini, peran menjamin kebebasan berpikir menjadi menonjol dan menyumbang bagi terwujudnya pemikiran Pencerahan.
Namun, di luar dugaan, di Prancis terjadi peristiwa yang berlawanan dengan toleransi Eropa ini. Maklumat Fontainebleau (Edict of Fontainebleau) yang dikeluarkan Louis XIV diumumkan pada tahun 1685. Maklumat ini mencabut Maklumat Nantes, yang pada tahun 1598 menjamin kebebasan beragama. Akibatnya, ratusan ribu orang Protestan Huguenot meninggalkan Prancis. Tiga ratus tahun kemudian, pada tahun 1985, Presiden Prancis Mitterrand mengeluarkan pernyataan permintaan maaf kepada kaum Protestan Huguenot Prancis yang menderita akibat Maklumat Fontainebleau.
Namun, tindakan intoleran Louis XIV itu adalah tindakan berat sebelah seorang raja dan tidak didukung rakyat. Dalam keadaan seperti ini, mulai tumbuh di kalangan para pemikir Prancis minat yang luar biasa terhadap peradaban Timur, terutama terhadap agamanya yang toleran, pandangan etikanya yang berlandaskan pikiran, dan kaisar-kaisar Tiongkok sebagai raja lalim yang tercerahkan. Sebabnya, Prancis, lebih daripada negara Barat mana pun, sangat menderita akibat pertarungan intoleran antara Protestan dan Katolik, sehingga dahaganya akan filsafat toleransi pun sebesar itu. Demikianlah, ketika deisme (理神論, Deism) berkembang di Barat, pemikiran Timur masuk ke Eropa dan tersebar luas, dan deisme dalam proses pembentukannya sangat dipengaruhi pemikiran Timur.
Satu hal yang jelas, melalui deisme Barat sangat mendekati cara Timur dalam menghampiri alam. Dengan kata lain, deisme membuat manusia mendekati alam secara lebih langsung, tanpa perantaraan Tuhan. Walaupun tidak berkembang menjadi sistem filsafat dan etika yang hidup seperti Dao di Timur, dapat dikatakan bahwa deisme Barat memiliki banyak kesamaan dengan Taoisme di Timur dalam menafsirkan hubungan antara manusia dan alam.
Penilaian Voltaire tentang Timur sudah dikenal luas, tetapi lain halnya dengan Rousseau atau Spinoza. Tidak ada bukti atau keterangan bahwa mereka mengenal langsung Taoisme atau pemikiran Dao di Timur dan mendapat ilham darinya. Tetapi sistem pemikiran yang mereka kembangkan sambil menaruh minat pada filsafat alam sangat mirip dengan pemikiran Timur.
Rousseau dan Laozi: “Kembalilah ke alam”
Sambil mengkritik keadaan politik dan sosial yang diwakili Rezim Lama (Ancien Regime) Prancis, Rousseau berseru: “Kembalilah ke alam!” Dengan seruan ini Rousseau mengkritik keras tatanan buatan monarki absolut dan membuka pintu air Revolusi Prancis. Di Jerman, Herder, Goethe, Schiller, dan lain-lain, yang bergema dalam terhadap seruan Rousseau, bersama kaum muda melancarkan gerakan sastra Sturm und Drang (Badai dan Desakan), yang mencurahkan amarah yang hebat terhadap tatanan feodal. Sikap seperti Rousseau, yang mengkritik habis-habisan berbagai bidang peradaban, termasuk politik, ekonomi, seni, dan etika, jarang ditemukan bahkan di antara para pemikir Barat.
Dao adalah sistem pemikiran yang berpusat pada “alam”. Dao bercirikan filsafat alam yang berlawanan dengan agama wahyu Barat. Rousseau di Barat juga adalah orang yang berseru bahwa “manusia harus kembali ke alam”. Rousseau adalah salah seorang pemikir Barat yang menyebarkan arus pemikiran Timur di Barat. Tetapi sikapnya terhadap pemikiran Timur sebagian besar tidak dikenal. Sebabnya, Rousseau bukan hanya tidak memandang pemikiran Timur dengan baik, tetapi juga meninggalkan tulisan yang menilainya secara negatif. Bagian yang dinilainya negatif sebagian besar berkaitan dengan Konfusianisme. Pada akhir Zaman Pencerahan, Rousseau, yang menganggap republikanisme sebagai sistem politik yang ideal, memandang Konfusianisme sebagai pemikiran yang membela monarki, lalu mengkritik dan menolaknya. Karena itulah pemikiran Rousseau umumnya dianggap tidak banyak berkaitan dengan pemikiran Timur.
Namun, Rousseau mengikuti sistem filsafat yang sangat mirip dengan pemikiran Taoisme di Timur. Terutama kritik Rousseau terhadap peradaban manusia dan upayanya memulihkan watak manusia sebelum peradaban memperlihatkan kemiripan yang mengejutkan dengan pemikiran tanpa-tindakan dalam Taoisme. Sebaliknya, teori kontrak sosial dan pendapat-pendapat tentang sistem politik yang diajukan Rousseau setelah kritiknya terhadap peradaban manusia tidak memiliki kaitan dengan pemikiran Taoisme. Pendapat-pendapat itu sebagian besar bertentangan dengan pemikiran dasar Taoisme.
Pemikiran Rousseau yang inovatif tentang peradaban manusia sangat mirip dengan pemikiran Taoisme dalam pandangannya tentang alam semesta yang berpusat pada ketiadaan (無), dan dalam memandang tanpa-tindakan sebagai perilaku yang harus diikuti manusia. Di latar belakangnya terdapat pemikiran dasar bahwa alam harus dihormati, berbeda dari agama wahyu. Karena itu, ada sisi pada Rousseau yang, seperti Taoisme, menghormati filsafat alam dan menyerukan agar manusia kembali ke alam.
Rousseau menempati kedudukan yang sangat unik dan istimewa di antara para pemikir Barat. Sebabnya, ia menantang secara mendalam pemikiran tradisional Barat, yang berkuasa lebih dari dua ribu tahun, yang menafsirkan hubungan antara manusia dan alam melalui sosok yang bernama Tuhan. Rousseau mencari hubungan langsung antara manusia dan alam pada berbagai tataran. Seruan Rousseau “Kembalilah ke alam” dapat dipahami sebagai kritik terhadap masalah-masalah peradaban Barat yang berlandaskan agama wahyu, yang menunjukkan bahwa peradaban telah mengasingkan dan memisahkan manusia dari alam, dan menyerukan agar manusia kembali ke alam.153
Karena itu, Rousseau berusaha memandang agama abad ke-18 dan seluruh peradaban Barat yang terkait dengannya dari sudut pandang yang baru. Karena gagasan-gagasannya yang orisinal mengejutkan pada masanya, ia membuka cakrawala baru bagi sejarah peradaban Barat melalui karya-karya yang terbit berturut-turut. Tulisan-tulisan Rousseau menimbulkan gema yang besar di Barat pada masanya. 154 Bagi orang Barat pada masa itu, yang tidak akrab dengan peradaban Timur dan pemikiran Taoisme, gagasan-gagasan Rousseau diterima sebagai sesuatu yang segar dan menakjubkan.
Rousseau menyatakan bahwa dalam keadaan alami manusia hidup tanpa kekangan hukum atau moral, lalu ketika kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat menjadi perlu, manusia meninggalkan “zaman keemasan yang tidak membutuhkan hukum dan moral”. Gagasan ini memiliki kemiripan dengan zaman ideal Yao dan Shun yang dibicarakan Konfusianisme, dan dapat dipandang sejalan pula dengan filsafat ketiadaan (無) dalam Taoisme, yaitu konsepnya tentang masyarakat pada mulanya.
Bila Dao hilang, muncullah kebajikan; bila kebajikan hilang, muncullah ren; bila ren hilang, muncullah tata krama. Tata krama hanyalah rekaan yang bertopeng kesetiaan dan kepercayaan. Kesetiaan dan kepercayaan adalah awal kekacauan. (Daodejing, bab 38)
Dari sudut pandang Taoisme, Rousseau adalah tokoh yang unik di antara para pemikir Barat, yang memiliki wawasan tentang filsafat alam. Sebabnya, sebagian besar pemikir Barat mengkritik dan membandingkan peradaban lain dari sudut pandang agama wahyu, pemikiran yang berpusat pada keberadaan (有), sedangkan Rousseau mengedepankan filsafat alam yang berpusat pada ketiadaan (無), seperti Taoisme. Rousseau hendak menjungkirbalikkan sepenuhnya pandangan Kristen tentang penciptaan, yaitu konsep bahwa dunia yang teratur lahir dari kekacauan. Pemikiran pokoknya adalah bahwa “manusia hidup di alam dengan bebas, setara, dan penuh kasih dalam kehidupan yang bahagia, tetapi dengan masuknya masyarakat dan peradaban, manusia jatuh ke dalam dunia keterikatan, ketidaksetaraan, dan iri hati, lalu menjadi tidak bahagia”.
Dasar filsafat Rousseau mirip dengan filsafat Timur “keinginan itu sedikit dan dangkal” (情慾寡淺: hidup yang mengurangi dan mengendalikan keinginan). Filsafat ini mengajarkan bahwa “perasaan dan keinginan yang dimiliki manusia sejak lahir pada mulanya tidak besar, tetapi dalam masyarakat manusia perasaan dan keinginan itu diperbesar secara buatan”. Rousseau tidak memandang manusia sebagai pelaku dosa asal atau sebagai makhluk yang diciptakan secara istimewa. Sebaliknya, ia memandang manusia sebagai bagian dari alam. Berbeda dari sebagian besar pemikir Barat yang menganggap peradaban sebagai kebanggaan, Rousseau menunjuk peradaban sebagai penyebab kebobrokan manusia. Dari sudut pandang ini, Rousseau, mirip dengan pemikiran inti Taoisme, melihat masalah mendasar dalam peradaban yang diciptakan manusia.
Banyak pemikir Barat yang menunjukkan masalah-masalah peradaban. Tetapi sebagian besar dari mereka membedakan segi positif dan negatif, bagian yang bermanfaat dan yang merugikan dari peradaban; hampir tidak ada yang, seperti Rousseau, memandang peradaban itu sendiri sebagai sesuatu yang negatif dan merugikan. Di peradaban Timur pun, sebagian besar pemikir, termasuk kaum Konfusianis, melihat masalah-masalah peradaban dan masyarakat dan mengajukan perbaikan atau jalan keluar. Tetapi Taoisme memandang peradaban itu sendiri mengandung masalah yang hakiki; Taoisme membayangkan keadaan alami sebelum peradaban, menemukan Dao di sana, dan melalui Dao berusaha menemukan ketertiban masyarakat dan ketenangan hati. Karena itu, kita dapat menemukan banyak kemiripan pada titik tolak pemikiran Rousseau dan Taoisme.
Makin banyak larangan di dunia, makin miskinlah hati;
Makin banyak kemudahan peradaban, makin kacaulah masyarakat;
Makin berkembang kecakapan, makin berkuasalah teori-teori yang aneh;
Makin tertata hukum dan lembaga, makin banyak pula pencuri. (Daodejing, bab 57)
Rousseau menyatakan bahwa manusia, yang sekarang memiliki peradaban dan bahasa, pada mulanya tidak memiliki apa-apa. Peradaban masyarakat manusia tidak cocok dengan manusia asali, sehingga manusia mau tidak mau tidak bahagia. Dalam alur yang sama, ia menyatakan bahwa manusia dahulu memiliki gairah luhur seperti binatang, yang kemudian hilang karena bahasa dan pikiran, dan bahwa pikiran pada akhirnya hanya menyumbang bagi terbentuknya masyarakat manusia yang rumit dan hanya dipakai secara negatif. Orang Barat pada masa itu, di bawah pengaruh agama, berpendapat bahwa manusia sudah memiliki bahasa sejak Tuhan menciptakannya kira-kira empat ribu tahun sebelum Masehi, dan bahwa manusia yang diciptakan Tuhan memiliki kodrat yang sama, baik ketika diciptakan maupun sekarang. Karena itu, membedakan manusia asali yang baik dari manusia jahat yang dirusak peradaban adalah filsafat yang revolusioner.
Demikianlah Rousseau mengguncang dunia pemikiran Barat dengan membebaskan kodrat manusia dari pengaruh agama dan menampilkan manusia di dalam alam. Karena itu, Rousseau memandang peradaban sebagai sesuatu yang selalu bersifat tindakan disengaja (有爲) dan buatan, yang melahirkan ketidaksetaraan, iri hati, dan keinginan yang tidak alami. Ia membedakan “cinta diri” (amour de soi, yaitu self-love) dan “harga diri” (amour-propre, yaitu pride). Cinta diri adalah naluri alami untuk mempertahankan diri, sedangkan harga diri bersifat buatan: ia memicu persaingan dengan orang lain, menciptakan kecemasan yang tidak perlu, dan membuat orang merasa senang atas kelemahan dan penderitaan orang lain.
Di Timur, karena pengaruh Taoisme dan Konfusianisme, kodrat manusia sudah ditempatkan di dalam alam dua ribu tahun sebelum Rousseau berkiprah. Karena itu, bagi orang Timur, sebagian besar dari banyak gagasan Rousseau, kecuali teori kontrak sosial, bukanlah hal baru, dan dapat didekati secara wajar dan dipahami dengan mudah. Taoisme memandang “tidak mendahului orang lain” (謙下不爭, rendah hati tanpa bersaing) sebagai salah satu etika yang penting. Artinya, dalam persaingan dengan orang lain kita tidak boleh mengedepankan harga diri. Inilah, dalam Daodejing, struktur yang sangat mirip dengan cinta diri dan harga diri yang dikemukakan Rousseau. Daodejing berpandangan bahwa peradaban, bahasa, harga diri, dan sebagainya membuat hidup manusia rumit dan sulit.
Jangan meninggikan orang karena kearifannya, maka pertengkaran di antara orang-orang akan lenyap.
Jangan menghargai barang yang berharga, maka pencurian di antara orang-orang akan hilang.
Jangan menginginkan apa yang membangkitkan keserakahan, maka hati tidak akan kacau. (Daodejing, bab 3)
Rousseau memandang perkembangan seni dan budaya dengan kesadaran kritis. Ini berlawanan dengan sebagian besar pemikir Barat, yang memandang perkembangan seni dan ilmu pengetahuan dengan bangga dan positif. Rousseau tidak memandang perkembangan seni dan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang pasti bermanfaat bagi umat manusia. Ia memandang seni dan ilmu pengetahuan bukan sebagai kebutuhan manusia yang sejati, melainkan sebagai hasil harga diri dan kesombongan. Lebih jauh lagi, ia memandang bahwa seni dan ilmu pengetahuan telah merusak manusia dengan memungkinkan hidup yang malas dan mewah. Pandangan ini membuatnya dikecam banyak rekan seniman yang mencintai seni. Tetapi pemikiran Rousseau ini justru mirip dengan pemikiran Daodejing.
Aneka warna membutakan mata manusia, aneka bunyi menulikan telinga manusia,
aneka makanan membuat manusia kehilangan rasa yang sejati. (Daodejing, bab 12)
Setelah Daodejing, pemikiran Taoisme yang dikembangkan dalam Zhuangzi juga mengandung segi-segi yang sangat mirip dengan pemikiran Rousseau:
Pengetahuan yang besar itu lapang dan tenang; pengetahuan yang kecil itu cermat dan penakut.
Perkataan yang besar itu hemat dan berbobot; perkataan yang kecil itu cerewet dan ringan. (Zhuangzi, Bab-Bab Dalam, “Kesetaraan Segala Sesuatu”)
Rousseau menyatakan bahwa kemajuan materi merusak persahabatan sejati, dan bahwa sebagai ganti persahabatan masuklah iri hati, ketakutan, dan kecurigaan. Rousseau percaya bahwa dalam keadaan alami manusia pada dasarnya memiliki kodrat yang baik. Ketika memulai kehidupan bermasyarakat, manusia mulai memandang dirinya melalui pandangan orang lain, dan karena memperoleh pandangan baik dari orang lain menjadi penting, mulailah penyimpangan watak manusia. Karena perubahan ini, menurutnya, kodrat asali yang baik itu mengalami proses kemerosotan.
Pandangan bahwa kodrat manusia pada dasarnya baik ini memiliki kemiripan dengan teori Mengzi bahwa kodrat manusia itu baik. Penekanannya pada pentingnya pendidikan, bersama pernyataan bahwa masyarakat dan peradaban merusak kodrat baik manusia, juga mirip dengan Mengzi. Rousseau menekankan pentingnya pendidikan, dan filsafat pendidikannya berfokus bukan pada sekadar penyampaian pengetahuan, melainkan pada pendidikan watak yang berpusat pada etika. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa pemikiran Rousseau sejalan dengan peradaban Timur. Teori pendidikannya berusaha menetapkan tujuan pendidikan, alih-alih penyampaian informasi atau konsep, pada pengembangan watak dan kebajikan setiap orang, agar ia belajar mengendalikan dirinya sendiri. Tujuan akhirnya adalah agar manusia hidup dengan tetap memelihara kebajikan, bahkan di tengah lingkungan sosial yang rumit dan tidak sempurna.
Demikianlah Rousseau dan Dao di Timur sangat mirip dalam diagnosis mereka tentang masyarakat manusia dan peradaban. Dalam hal menyangkal keberadaan dan menekankan pentingnya ketiadaan, Rousseau memiliki banyak kemiripan dengan Taoisme di Timur. Juga upayanya yang berani untuk menghubungkan langsung manusia dan alam, alih-alih melalui keberadaan Tuhan yang diajukan agama tradisional, berkaitan erat dengan Dao. Tetapi jalan keluar yang diajukan Rousseau dan Daodejing saling berlawanan. Jalan keluar Rousseau ekstrem, persis berlawanan dengan pemikiran tanpa-tindakan dalam Dao. Pendekatan Rousseau bukanlah menerima tatanan yang ada, melainkan merombaknya. Juga dalam keyakinannya bahwa jalan keluar yang diajukannya dapat diwujudkan, ia sangat berbeda dari realisme Dao.
Dao mencakup ketiadaan dan keberadaan sekaligus; walaupun memandang ketiadaan lebih mendasar daripada keberadaan, Dao tidak menyangkal keberadaan sepenuhnya. Dalam hal ini Taoisme berbeda dari Rousseau, karena Taoisme mengakui perlunya keberadaan dalam masyarakat manusia. Dalam cara mendiagnosis masalah-masalah peradaban dan mengajukan jalan keluarnya, pemikiran Rousseau dan pemikiran Dao sangat berlawanan. Usulan dan jalan keluar yang diajukan Dao semuanya merupakan bagian dari peradaban, sehingga berlandaskan penerimaan atas kenyataan. Karena itu, Taoisme mengajukan, demi ketertiban dan keselarasan masyarakat serta kesejahteraan perseorangan, arah yang berpusat pada Dao, tanpa-tindakan, dan etika yang lahir darinya. Sebaliknya, Rousseau, dengan gairah dan keyakinan yang nyata, mengajukan jalan keluar yang revolusioner: cara-cara hukum, kelembagaan, dan ideologis yang baru untuk merombak kenyataan.
Rousseau dengan bergairah memperjuangkan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, cita-cita inti Revolusi Prancis. Para filsuf Pencerahan lain juga memperjuangkan kesetaraan, tetapi kesetaraan mereka tetap berada dalam elitisme tradisional, sebagaimana ditekankan sejak Aristoteles. Sebaliknya, Rousseau adalah orang pertama di Barat yang menekankan kesetaraan semua manusia. Dalam hal berpusat pada semua orang, ia mirip dengan Taoisme. Tetapi perbedaannya dengan Taoisme adalah bahwa Rousseau memperjuangkan sistem politik yang baru. Ia menentang aristokrasi dan monarki, dan memperjuangkan republik demi kesetaraan rakyat di dalam negara.
Untuk mendapatkan kembali dalam masyarakat kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan yang dinikmati manusia dalam keadaan alami, ia mengajukan teori “kedaulatan rakyat”, dan menyatakan bahwa penggunaan kekuasaan negara harus berlandaskan “kehendak umum”, dan dapat diputuskan dengan suara terbanyak dalam republik yang berukuran sepatutnya. Di sinilah letak perbedaan antara Rousseau dan Taoisme. Perbedaan itu berasal dari penilaian mereka tentang kodrat manusia. Rousseau tampaknya memandang kodrat manusia secara positif dan membayangkan bahwa orang akan menyetujui gagasan kedaulatan rakyat. Tetapi Taoisme tidak pernah meninggalkan realisme bahwa kodrat manusia selalu mengejar kepentingannya sendiri. Perbedaan antara Daodejing dan Rousseau tentang kodrat manusia ini tampak bila kita menelaah bagaimana pemikiran revolusioner Rousseau berjalan dalam sejarah. Dalam sejarah, teori kedaulatan rakyat dan teori kehendak umum Rousseau pada kenyataannya tidak mencerminkan kehendak semua orang, melainkan bergerak ke arah penindasan pendapat dan pandangan minoritas. Revolusi Prancis, yang tersesat di bawah kekuasaan massa, bergerak ke arah Jakobinisme yang ekstrem.
Rousseau terutama mengkritik lembaga milik pribadi. Ia memandang milik pribadi sebagai awal peradaban, dan awal segala ketidaksetaraan, pembunuhan, dan perang. Rousseau memandang bahwa pembagian kerja antarmanusia dan lembaga milik pribadi, yang lahir seiring berkembangnya masyarakat, membuat manusia menerima sistem hukum. Di dalam hukum dan lembaga ini, menurutnya, timbul dua akibat: pertama, manusia makin keras bersaing dengan sesamanya; kedua, pada saat yang sama manusia makin bergantung pada sesamanya. Kedua tekanan ini mengancam kelangsungan hidup dan kebebasan manusia, sehingga manusia berada dalam bahaya. Rousseau memandang bahwa kemajuan pengetahuan membuat penguasa makin kuat dan dipakai untuk menindas kebebasan perseorangan.
Namun, Taoisme tidak mempersoalkan atau mengkritik lembaga milik pribadi itu sendiri seperti Rousseau. Sebaliknya, Taoisme mengkritik keserakahan para pemimpin dan menekankan pentingnya peran pemimpin yang sungguh-sungguh bersikap sebagai pemimpin, yaitu menjalankan pemerintahan yang dapat diteladani rakyat.
Bila pemerintahan tenang dan tidak menonjolkan diri, rakyat menjadi lugu dan jujur.
Bila pemerintahan bergerak ke sana kemari dengan gelisah, rakyat kehilangan keluguannya. (Daodejing, bab 58)
Sebagian pemikir berpendapat bahwa kritik Rousseau terhadap lembaga milik pribadi sangat memengaruhi Marx, sehingga menjadi dasar kaitan teoretis dengan komunisme. Pemikir lain menyatakan bahwa penekanannya pada gairah dan naluri menyumbang bagi lahirnya gagasan fasisme.
Logika dan cita-cita pembaruan orisinal yang diajukan Rousseau ini justru adalah hal yang tidak diterima dan diwaspadai Taoisme. Taoisme menerima milik pribadi sebagai gejala alami yang berasal dari kodrat manusia, dan tidak pernah mempersoalkannya. Perbedaan seperti ini dapat dipandang berasal dari perbedaan pandangan Rousseau dan Taoisme tentang kodrat manusia. Taoisme mengandaikan kodrat manusia yang tak berubah, dan berdasarkan itu mengejar keseimbangan dan keselarasan hidup. Sebaliknya, Rousseau memandang kodrat manusia berubah sepanjang sejarah menurut kondisi politik, ekonomi, dan sosial. Karena itu, ia sampai pada tuntutan perubahan sistem dan pembaruan sosial.
Sebaliknya, di Timur, di bawah pengaruh luas pemikiran Taoisme, tumbuh tradisi yang mengakui keunggulan filsafat alam sambil sekaligus menyadari dengan jelas masalah-masalah filsafat alam. Sudut pandang ini berasal dari sikap pemikiran yin dan yang dalam pandangan alam semesta Taoisme, yang mengakui keberadaan tetapi pada hakikatnya menganggap ketiadaan lebih penting daripada keberadaan. Tetapi di Barat, kecuali Rousseau, sebagian besar pemikir sangat cenderung memuji dan membenarkan keunggulan peradaban. Sikap ini bertolak dari sudut pandang tradisional dalam pandangan alam semesta agama wahyu, yang memberi nilai negatif pada ketiadaan dan menempatkan segala nilai pada keberadaan.
Dao dinyatakan sebagai prinsip yang harus diikuti manusia, tetapi tidak dapat dibatasi atau didefinisikan. Alam pun harus diikuti dan dihormati manusia, tetapi tidak dapat dibatasi atau didefinisikan. Namun, setiap zaman dan setiap orang harus memiliki cara untuk bertahan hidup, dan cara itu berasal dari tafsiran zaman dan pribadi tentang Dao. Pada akhirnya, kebenaran mutlak tidak dapat ditemukan, tetapi setiap zaman perlu menemukan jawabannya, yaitu kebenaran relatif. Keadaan yang dihadapi manusia berkenaan dengan kebenaran ini sungguh diperlukan dan penting di dunia nyata. Hal ini tampak jelas dalam pandangan Konfusius bahwa “sumbernya mutlak, tetapi pengungkapannya relatif”, dan dalam sikap Lessing yang “lebih mementingkan proses mencari kebenaran daripada kebenaran itu sendiri”.
Daodejing sama sekali tidak berbicara tentang jawaban-jawaban yang khas zaman atau pribadi seperti itu; Daodejing mencemooh dan mewaspadai upaya untuk mengejar jawaban seperti itu. Dengan demikian, budaya Timur terhindar dari bahaya memutlakkan jawaban suatu zaman, yaitu kebenaran relatif. Sebaliknya, Rousseau bergairah mengajukan jawaban-jawaban yang khas zaman dan pribadi. Perbedaan antara filsafat Dao dan filsafat Rousseau memperlihatkan perbedaan antara pemikiran Timur, yang berusaha menghindari penghancuran yang tidak perlu dengan menerima kenyataan, dan pemikiran Barat, yang mengarah pada perombakan kenyataan dan mengejar kemajuan melaluinya.
Spinoza dan Xunzi: “Tuhan dan alam adalah sama”
Setelah Renaisans, orang Barat menemukan pentingnya alam, dan menemukan bahwa hukum alam berbenturan dengan dogma agama wahyu. Di Barat, orang-orang yang menunjukkan pentingnya alam adalah para ilmuwan. Di Barat yang dikuasai agama wahyu, orang yang tidak mengakui dogma agama wahyu segera menjadi korban perburuan penyihir. Pemikir seperti Jan Hus (1372–1415) mengecam keras penjualan surat pengampunan dosa dan menekankan iman yang berpusat pada Alkitab. Takhta Suci memanggil Hus ke Konsili Konstanz. Hus telah dijanjikan jaminan keselamatan, tetapi ia dihukum mati dengan dibakar.
Karena itu, penemuan para ilmuwanlah yang mau tidak mau memelopori kemajuan pendapat yang berseberangan. Para ilmuwan ini adalah ahli astronomi seperti Kopernikus (1473–1543), Kepler (1571–1630), dan Galileo (1564–1642). Melalui pengamatan benda-benda langit, mereka membuktikan hukum alam yang berbeda dari wahyu Tuhan. Mereka menyatakan bahwa geosentrisme, yang dianut Alkitab, Aristoteles, dan lain-lain, tidak berdasar, dan bahwa heliosentrisme adalah hukum alam yang telah dibuktikan secara ilmiah. Pada akhirnya mereka menimbulkan benturan antara hukum alam dan dogma agama wahyu.
Menyusul penemuan para ilmuwan zaman Renaisans ini, filsuf seperti Bacon (1561–1626) terpesona oleh alam. Sebagai tokoh akhir Renaisans yang hidup di bawah penindasan ketat agama wahyu, ia menghindari menyebut agama secara langsung, tetapi menegaskan pentingnya alam dengan ungkapan yang paling kuat.
Manusia adalah pelayan dan penafsir alam. Pemahaman manusia hanya lahir dari perenungan tentang alam dan pengamatan atas kebenaran alam. Di luar itu, manusia tidak dapat mengetahui apa pun dan tidak dapat berbuat apa pun. 155
Para ilmuwan, Bacon, dan lain-lain hanya sampai pada penekanan pentingnya alam. Seandainya mereka mengaitkan pentingnya alam dengan dogma agama, mereka semua akan menjadi korban perburuan penyihir. Tetapi Spinoza (1632–1677) mengungkapkan filsafatnya dengan menghubungkan agama wahyu dan filsafat alam. Ia menyatakan bahwa “Tuhan dan alam adalah sama”. Dalam bukunya Etika, Spinoza berulang kali memakai ungkapan “Tuhan atau Alam” (God or Nature), dan dengan demikian menyamakan Tuhan dengan alam, yaitu Tuhan dengan Dao. Ia menjadi pemikir pertama yang mengajukan sistem filsafat yang menyatukan Tuhan dan Dao, inti peradaban Barat dan Timur.
Mustahil manusia bukan bagian dari Alam… Kuasa Tuhan, yaitu Alam, memelihara keberadaan manusia. (Spinoza, Etika, IV, Prop. IV)
Ia mengajarkan bahwa manusia adalah bagian dari alam, dan bahwa sosok yang di Barat disebut Tuhan mau tidak mau sama dengan alam. Dalam sejarah, Spinoza bukanlah pemikir pertama yang memperlakukan Tuhan dan alam sebagai sama. Gagasan bahwa Tuhan dan alam itu sama pernah dikemukakan pada abad ke-3 SM oleh seorang filsuf Yunani bernama Khrisippos (Chrysippus). Ia menyatakan: “Alam semesta itu sendiri adalah Tuhan” (The Universe itself is God). Tetapi tulisan-tulisan Khrisippos tidak tersisa; pendapatnya sampai kepada kita melalui penyebutan dalam tulisan orang lain.
Filsafat Spinoza adalah pernyataan revolusioner yang menghancurkan kerangka sistem filsafat Barat yang tenggelam dalam yang tampak, yang mengikuti wahyu Tuhan. Sebabnya, filsafat itu menyangkal keberadaan jiwa, mukjizat, Tritunggal, dan lain-lain. Karena Spinoza menjunjung alam dan peradaban Timur berlandaskan filsafat alam, sebagian orang menyatakan bahwa Spinoza mendapat pengaruh dari pemikiran Timur dan mengecamnya sebagai bidah. Tetapi, berbeda dari Voltaire, tidak ada catatan atau jejak bahwa Spinoza atau Rousseau mendapat pengaruh dari filsafat alam Timur.
Spinoza dan Xunzi memiliki sistem filsafat yang sama. Ciri-ciri Dao yang dipahami Xunzi juga tampak dalam pemikiran para pendahulu Yahudi yang memengaruhi Spinoza. Spinoza mendapat pengaruh dari Maimonides (Maimonides) dari abad ke-12 dan dari Kabbalah (Kabbalah), filsafat mistik Yudaisme. Filsafat Kabbalah yang tak tampak pada dasarnya sama dengan filsafat Dao. Konsep bahwa Tuhan adalah “sosok tak terbatas yang tidak dapat didefinisikan” dan “hadir di dalam segala sesuatu” justru adalah konsep Dao dan filsafat Xunzi. Xunzi menolak segala definisi tentang Dao dan percaya bahwa Dao hadir di dalam segala sesuatu di alam. Maimonides menganut “teologi negatif” (Apophatic Theology), yaitu bahwa “Tuhan tidak dapat dijelaskan secara langsung dengan bahasa manusia; Ia hanya dapat didekati melalui penyangkalan”. Maimonides menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki sifat jasmani, dan ini sama dengan Dao yang, dengan menolak antropomorfisme, tidak menerima sifat jasmani. Karena itu, kemiripan antara pemikiran Xunzi dan Spinoza terjadi tanpa adanya kaitan pemikiran di antara keduanya. Kita harus memandangnya bukan sebagai pengaruh filsafat alam Timur atas Spinoza, melainkan sebagai hasil upaya yang mandiri: suatu “kesejajaran pemikiran” (parallelism).
Dalam Etika, Spinoza menguraikan pendapat-pendapat yang menentang dogma inti agama wahyu: “Tuhan tidak memiliki tujuan apa pun.” “Tuhan tidak campur tangan dalam urusan manusia.” “Manusia harus mengasihi Tuhan, tetapi tidak dapat berharap dikasihi Tuhan.” “Tuhan dan alam adalah sama.” Lebih jauh lagi, Spinoza menjelaskan asal mula agama wahyu:
Setiap orang, menurut kemampuannya masing-masing, menciptakan cara-cara untuk menyembah Tuhan sesuai keinginannya, agar Tuhan lebih mengasihinya daripada sesamanya, dan agar Tuhan mengubah jalannya alam sesuai kehendaknya demi memuaskan keserakahannya yang tak berujung dan keinginannya yang buta. Prasangka ini berkembang menjadi takhayul dan berakar dalam di hati manusia. (Spinoza, Etika, I, Lampiran)
Penindasan Yudaisme dan Kristen terhadap Spinoza sangat keras.156 Kristen tetap menjadi agama negara di Barat sejak Roma menyatakannya demikian pada abad ke-4 M. Selama ratusan tahun Spinoza disebut “setan, manusia jahat, manusia yang seharusnya tidak pernah lahir”. Karena itu, banyak pemikir Barat membaca bukunya diam-diam dan terkesan mendalam. Filsuf seperti Lessing (Lessing, 1729–1781) dan Goethe (Goethe, 1749–1832) termasuk di antaranya. Lessing membela kebebasan berpikir seperti Spinoza dan menentang penampakan Tuhan melalui para nabi, sehingga ia menghadapi banyak tentangan dan kesulitan dari para filsuf idealis yang menguasai dunia filsafat Jerman pada masa itu. Karena itu, sampai wafatnya Lessing tidak dapat mengumumkan banyak gagasan yang dipelajarinya dari Spinoza. Tetapi sampai wafat ia tetap meyakini filsafat Spinoza:
Tidak ada filsafat lain selain filsafat Spinoza (Spinozism).157
Goethe, seperti Spinoza, disebut penganut panteisme. Goethe menyatakan bahwa ia membaca Etika Spinoza dan membentuk dasar sistem pemikirannya dari buku itu: “Ketika aku sedang berusaha menata banyak pikiran yang ada di kepalaku, akhirnya aku membaca Etika Spinoza. Sulit kujelaskan betapa banyak yang kupelajari dari membaca Spinoza.”158 Pengakuan ini ditulis Goethe pada tahun 1774, pada usia dua puluh lima tahun, dan diterbitkan pada tahun 1836, empat tahun setelah Goethe wafat pada tahun 1832. Karena Spinoza sangat besar pengaruhnya pada Goethe, penyair Jerman Heine menyebut Goethe “Spinoza dalam kesusastraan”.159
Ungkapan Spinoza “Tuhan atau Alam” menimbulkan masalah filosofis, keagamaan, sosial, dan politik yang besar di Barat, yang memercayai “Tuhan yang menciptakan alam”. Sebab jika Tuhan dan alam itu sama, segala yang dianggap penting dalam peradaban Tuhan, seperti penciptaan langit dan bumi oleh Tuhan, mukjizat, dan keberadaan jiwa, semuanya menjadi masalah. Untuk menerima pemikiran Spinoza, Tuhan Barat harus menjadi seperti Dao Timur. Dengan demikian, pandangan yang tampak, yang meneguhkan keberadaan Tuhan melalui para nabi, berubah menjadi pandangan yang tak tampak yang dinyatakan Dao, yaitu bahwa kebenaran mutlak tidak dapat diungkapkan.160 Kita akan mengalami keadaan di mana sistem inti peradaban Barat dan peradaban Timur berubah.
Di Timur, masalah benturan antara alam (Dao) dan Tuhan hampir tidak muncul. Bahkan setelah abad ke-19, ketika paradigma Barat menguasai Timur, sistem filsafat Timur tentang Dao tidak berubah. Di Tiongkok dan Jepang, orang yang memeluk agama wahyu tetap hanya sekitar 1–2%. Di Korea (Selatan), lebih dari 30% penduduk menyatakan diri beragama Kristen, tetapi mereka sangat toleran terhadap pemikiran lain, dan pertikaian antaragama tidak terjadi.
Sebabnya, di Timur, melalui Zaman Negara-Negara Berperang pada abad ke-5 sampai ke-3 SM, negara-bangsa sudah lahir dua ribu tahun lebih awal daripada di Barat, dan melalui negara-bangsa itu filsafat alam dan pemikiran minben (民本思想), pemerintahan untuk rakyat, berdiri di pusat sistem filsafat.161 Filsafat alam Xunzi (荀子, 310–235 SM) pada Zaman Negara-Negara Berperang mencerminkan hal ini. Xunzi memadukan pemikiran Taoisme dan Konfusianisme dan menyatakan bahwa manusia tidak boleh hidup di tengah takhayul dan perdukunan yang marak pada masa itu. Daodejing memuat seluruh dasar pandangan Timur tentang alam, tetapi Xunzi-lah yang mengungkapkannya secara realistis dan jelas.
Tentang langit, kita hanya dapat mengetahui peredaran dan gejalanya… Apakah ketenteraman dan kekacauan masyarakat ditentukan oleh langit? Tidak. Matahari, bulan, dan bintang-bintang bergerak dengan cara yang sama pada masa raja bijak maupun pada masa tiran. Tetapi pada masa raja bijak timbul ketenteraman, dan pada masa tiran timbul kekacauan. Ketenteraman dan kekacauan tidak bergantung pada langit. (Xunzi 17-9)
Xunzi bertanya, “Apakah ketenteraman dan kekacauan masyarakat ditentukan oleh langit?”, lalu menjelaskan bahwa jawabannya adalah “tidak”. Hampir dua ribu tahun kemudian, pandangan yang sama dikemukakan di Barat oleh Shakespeare (1564–1616):
Salahnya, Brutus sahabatku, bukan pada bintang-bintang kita di langit, melainkan pada diri kita sendiri, bila kita menjadi bawahan (Julius Caesar). 162
Dalam tulisan-tulisan Xunzi sama sekali tidak ada gambaran Dao mengambil rupa manusia dan memperlihatkan perkataan dan perbuatannya kepada manusia. Ia juga tidak pernah menggambarkan Dao mengadakan mukjizat agar manusia mengikutinya. Ia menegaskan: “Tanpa upacara meminta hujan pun hujan tetap turun.”
Wajarlah bila orang merasa gejala alam yang aneh itu istimewa. Tetapi merasa bingung dan takut adalah keliru… Tanpa upacara meminta hujan pun hujan tetap turun. Dengan upacara meminta hujan pun hujan turun. Pemimpin memandang upacara meminta hujan sebagai kegiatan budaya. Memandangnya sebagai kegiatan budaya itu baik. Rakyat mengira roh-roh yang menurunkan hujan, tetapi menganggap bahwa roh-roh yang menurunkan hujan membawa malang. (Xunzi 17-9)
Xunzi mengembangkan pemikiran filosofis yang sama dengan filsafat Spinoza: “Yang memelihara keberadaan manusia adalah kuasa Tuhan, atau Alam.” Hanya saja, Xunzi mengungkapkan Dao, sedangkan Spinoza mengungkapkan Tuhan, sebagai pusat pemikirannya: “Dao (Tuhan) tidak campur tangan dalam urusan manusia.” “Manusia harus mengikuti jalan Dao (Tuhan) demi dirinya sendiri.” “Jalan Dao (Tuhan) tampak dalam kodrat manusia.” “Orang yang mengasihi Dao (Tuhan) tidak dapat berharap bahwa Dao (Tuhan) akan mengasihinya.” “Tidak dapat disangkal bahwa manusia adalah bagian dari alam.” “Segala sesuatu di alam semesta, termasuk manusia, ada berkat kuasa Dao (Tuhan).”
Ungkapan-ungkapan yang menunjukkan “kesejajaran pemikiran” antara kedua orang ini dapat ditemukan dalam bab “Tentang Langit” pada Xunzi dan dalam Etika pada Spinoza. Kalimat-kalimat berikut, untuk menekankan kemiripan filsafat Xunzi dan Spinoza, adalah definisi Tuhan yang diberikan Spinoza dalam Etika, yang dikutip apa adanya dengan mengganti Tuhan dengan Dao:
Dao adalah sosok yang tak terbatas; Dao, yang memiliki sifat-sifat yang tak terbatas, niscaya ada; Dao, sebagai substansi yang tak terbatas, tidak dapat dibagi; di luar Dao tidak ada substansi apa pun yang dapat ada atau dapat dibayangkan; segala yang ada, ada di dalam Dao, dan tanpa Dao tidak ada sesuatu pun yang dapat ada atau dapat dibayangkan; manusia mau tidak mau adalah bagian dari alam; pengetahuan tertinggi yang dapat dimiliki hati adalah Dao; kebajikan tertinggi yang dapat dimiliki hati adalah Dao; Dao tidak mengasihi siapa pun dan tidak membenci siapa pun, sebab Dao tidak dipengaruhi perasaan gembira maupun sedih apa pun; kekuatan yang dipakai segala sesuatu di dunia, termasuk manusia, untuk memelihara dirinya adalah kekuatan alam, yaitu kekuatan Dao; karena itu kekuatan manusia, sebagai ungkapan hakikat manusia, adalah bagian dari kekuatan alam, yaitu Dao, yang tak terbatas. Tak seorang pun dapat membenci Dao; manusia yang mengasihi Dao tidak dapat berharap dikasihi Dao sebagai balasannya.
Filsafat Xunzi dan Spinoza memberikan penjelasan yang cocok bagi kita di abad ke-21. Begitu kuatnya rasionalitas filsafat mereka. Tetapi kita harus ingat bahwa budaya diciptakan oleh otak Homo sapiens, oleh pikiran dan naluri yang bekerja bersama, dan sama sekali bukan oleh pikiran, otak baru Homo sapiens, yang bekerja sendirian. Bila dinilai secara rasional saja, filsafat yang tampak dan yang tak tampak, yaitu filsafat Tuhan dan Dao, dapat menyatu dan seharusnya dipersatukan. Benturan antara Tuhan dan Dao dapat lenyap. Tetapi dalam kenyataan, Tuhan dan Dao ada dengan cara yang begitu berbeda sehingga membentuk sistem peradaban yang terpisah. Ciri-ciri peradaban Timur dan Barat tampak dalam filsafat, sastra, pendidikan, dan perilaku.
Melalui peradaban Timur dan Barat, yang tampak dan yang tak tampak hidup berdampingan di bumi. Di Barat, jumlah orang yang pergi ke gereja telah sangat berkurang, tetapi sistem pemikirannya masih mengikuti sistem yang tampak. Dalam konflik antara penilaian pikiran dan kebutuhan kenyataan, kenyataan perasaan manusia pada akhirnya mengikuti naluri mempertahankan diri alih-alih penilaian pikiran. Hati manusia yang berpikir sudah ada sebelum munculnya konsep Tuhan dan Dao. Bahwa segala yang ada, alam maupun manusia, mengikuti prinsip atau naluri mempertahankan diri disebabkan oleh kenyataan bahwa manusia bersandar bukan pada pikiran saja, melainkan pada kodrat manusia yang memadukan pikiran dan naluri.
Namun, dalam keadaan sejarah yang nyata, yang terjadi bukanlah penyatuan Tuhan dan Dao, melainkan benturan keduanya. Benturan peradaban Timur dan Barat terungkap sebagai benturan antara filsafat alam Timur dan agama wahyu Barat. Benturan ini terjadi lebih di Barat daripada di Timur. Sebabnya adalah jurang antara keberadaan Tuhan yang transenden dan alam, tempat manusia mau tidak mau bergantung. Dalam sejarah, benturan ini, sebelum menjadi benturan sistem filsafat, berlangsung dalam bentuk pembelaan hak-hak istimewa yang dimiliki masing-masing pihak. Segala perilaku manusia, termasuk sistem filsafat, pada akhirnya bermuara pada prinsip mempertahankan diri. Prinsip mempertahankan diri berasal dari kodrat manusia.