Bagian Pertama Dari mana kita datang: Dao (道) versus Tuhan (神) · Bab 3

Bagaimana Dao (道) dan Tuhan (神) memperlakukan manusia?

sekitar 93 menit · 61 catatan

1) Dao, “tidak pengasih” versus Tuhan, “pengasih”

Dao dan Tuhan memperlakukan manusia dengan sikap yang berbeda secara mendasar. Dalam Daodejing, Dao menyatakan tentang dirinya: “Aku tidak pengasih.” Sebaliknya, Tuhan menyatakan: “Aku pengasih.” Mengapa ada pernyataan yang berlawanan seperti ini?

Dao: Langit dan bumi tidak pengasih. (Daodejing, bab 5)

Tuhan: TUHAN itu baik, dan kasih-Nya kekal selamanya. (Mazmur 106:1)

Dao berlaku bagi semua manusia, tetapi Tuhan hanya bekerja bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Dao adalah hukum alam yang harus diikuti semua manusia, suka atau tidak suka. Karena itu, Dao tidak termasuk dalam gagasan manusia tentang pengasih atau tidak pengasih. Karena Dao adalah sumber segala sesuatu di alam semesta, Dao tidak dapat menjadi milik orang atau kelompok tertentu, melainkan milik semua. Konsep Dao ini terungkap apa adanya dalam filsafat Yahudi Kabbalah: “Tuhan bukanlah sosok transenden di luar dunia, melainkan imanen di dalam dunia dan hadir dalam segala sesuatu.” Karena itu, Dao tidak membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Namun, Dao menjadi mutlak diperlukan karena ia memelihara dan menumbuhkan segala makhluk, termasuk manusia, tanpa membeda-bedakan.

Dao memelihara dan menyempurnakan segala sesuatu tanpa membeda-bedakan (Daodejing, bab 41)

Tuhan memiliki tujuan merangkul semua manusia, tetapi tidak ada agama wahyu yang benar-benar berhasil mencapainya, dan Tuhan hanya bekerja bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sejarah menunjukkan bahwa Ia tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang tidak mengenal-Nya. Kepada orang-orang yang mengakui-Nya, Tuhan harus pengasih. Sebaliknya, kepada orang-orang yang tidak mengakui-Nya, Tuhan tidak boleh pengasih.

Dalam agama wahyu, orang-orang yang terpilih melalui perjanjian dengan Tuhan mendapat perlindungan. Sebagai imbalannya, mereka mempersembahkan kurban dan doa. Tuntutan-tuntutan ini bermula pada Abraham dan menjadi nyata dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Dalam kitab Imamat, Bilangan, dan Ulangan, di antara kelima kitab Pentateukh, tuntutan-tuntutan ini dibakukan menjadi hukum dan lembaga yang luar biasa terperinci. Tuhan hanya bekerja bagi manusia yang memercayai dan menjalankan ajaran-Nya. Mereka yang menentang dijadikan-Nya musuh.

Jika kamu melakukan segala yang Kukatakan kepadamu, Aku akan menjadikan musuhmu musuh-Ku, dan lawanmu lawan-Ku. (Keluaran 23:22)

Kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan ini dijanjikan hukuman kekal. Karena itu, dalam agama wahyu, Tuhan tetap menjadi “Tuhan yang cemburu”.

Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu. Kepada mereka yang membenci Aku, Aku membalaskan kesalahan nenek moyang kepada keturunannya sampai keturunan ketiga dan keempat. Tetapi kepada mereka yang mengasihi Aku dan memegang perintah-perintah-Ku, Aku menunjukkan kasih setia sampai seribu keturunan. (Keluaran 20:5–6)

Berbeda dari Tuhan, Dao tidak campur tangan secara langsung dalam urusan manusia. Maka muncullah pertanyaan: mengapa manusia harus menaruh perhatian pada Dao yang tidak campur tangan dalam urusan manusia? “Tidak campur tangan dalam urusan manusia” sama sekali berbeda dari “tidak ada”. Tidak ada berarti tidak ada apa-apa. Karena tidak ada, kita boleh mengabaikannya. Tetapi tidak campur tangan berarti bahwa Dao selalu memengaruhi manusia, tetapi tidak campur tangan secara perseorangan, melalui hal-hal seperti mukjizat, dalam pekerjaan atau tindakan manusia. Dengan kata lain, walaupun Dao tidak campur tangan dalam urusan manusia, manusia harus, demi kebaikannya sendiri, mengikuti Dao yang selalu ada. Ini mengandung arti yang berbeda dari keharusan mengikuti Tuhan karena Ia campur tangan dalam urusan manusia dan mengubah nasibnya.

Tuhan, dengan pemikiran baik dan jahat, memberi ganjaran atau hukuman kepada manusia. Tetapi Dao tidak memberi ganjaran kepada orang yang mengikutinya, dan tidak menghukum orang yang tidak mengikutinya. Untung dan malang manusia tidak ditetapkan Tuhan, melainkan berasal dari tindakan manusia sendiri. Misalnya, jika orang bekerja keras menumbuhkan padi pada musim padi tumbuh, ia akan tetap punya makanan pada musim dingin ketika tidak ada yang tumbuh, dan ia beruntung. Tetapi jika orang melanggar apa yang diajarkan Dao dan tidak menumbuhkan padi ketika padi dapat tumbuh, ia tidak akan punya makanan pada musim dingin, dan ia malang. Dengan kata lain, mengikuti Dao membawa berkah bagi manusia, dan tidak mengikutinya mendatangkan akibat yang malang. Berbeda dari Tuhan, Dao ada secara sama bagi semua manusia, tanpa melalui personifikasi, mukjizat, atau perjanjian. Filsafat ini diuraikan secara konkret oleh Xunzi:

Gerak langit mengikuti hukum yang tetap. Ia tidak ada demi raja-raja bijak seperti Yao dan Shun (堯舜), dan tidak lenyap karena tiran-tiran seperti Jie dan Zhou (桀紂)… Siapa yang menyesuaikan diri dengannya beruntung, siapa yang melawannya malang, itu saja. Jika orang mengikuti Dao dan tidak menyimpang dari hukum ini, langit pun tidak dapat menimpakan bencana kepada orang seperti itu. (Xunzi 17-1)58

Ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan mengadakan sepuluh mukjizat untuk menundukkan Firaun. Yang paling dahsyat adalah yang kesepuluh, yaitu kematian semua anak sulung di Mesir, baik manusia maupun ternak. Bangsa Israel luput dari hukuman ini dengan mengoleskan darah pada ambang pintu mereka. Dengan tindakan ini, Tuhan menundukkan Firaun dan memungkinkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Sebagai imbalannya, Tuhan menuntut kurban dan upacara dari bangsa Israel serta memberikan petunjuk yang terperinci tentangnya. 59 Inilah asal mula perayaan dan kurban Paskah (Pascha, yang berarti “melewati”). Hanya mereka yang mengikuti upacara dan petunjuk ini yang mendapat perlindungan Tuhan.

Apabila anak-anakmu bertanya kepadamu, ‘Apakah arti upacara ini?’, jawablah demikian: ‘Itulah kurban Paskah bagi Tuhan.’ (Keluaran 12:26)

Dengan demikian, semua syarat perjanjian antara Tuhan dan manusia terpenuhi: keduanya saling berjanji, ketaatan kepada Tuhan dan perlindungan bagi manusia.

Musa datang dan menyampaikan kepada bangsa itu segala firman TUHAN dan segala peraturan-Nya, dan seluruh bangsa itu menjawab serentak: “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” (Keluaran 24:3)

Tuhan menyampaikan isi perjanjian kepada manusia melalui Sepuluh Perintah dan hukum Taurat. Sepuluh Perintah adalah hukum Tuhan yang mutlak harus dipatuhi dalam agama wahyu. Inilah alasan yang menentukan mengapa peradaban Barat menjunjung bukan etika, melainkan hukum.

Setelah Allah selesai berfirman kepada Musa di Gunung Sinai, Ia memberikan kepadanya kedua loh kesaksian, loh batu yang ditulisi dengan jari-Nya sendiri. (Keluaran 31:18)

Menyusul Sepuluh Perintah, janji-janji antara Tuhan dan manusia terus berlanjut dalam agama wahyu. Dalam agama Barat, inti hubungan antara Tuhan dan manusia adalah “perjanjian” (covenant) yang diikat di antara keduanya. Hubungan itu diselesaikan dalam bentuk “perjanjian”. Dan perjanjian ini selalu dijamin bagi manusia melalui mukjizat Tuhan.

Sekarang Aku mengikat perjanjian. Di hadapan seluruh bangsamu Aku akan mengadakan mukjizat-mukjizat yang belum pernah terjadi di negeri mana pun dan pada bangsa mana pun. (Keluaran 34:10)

Perjanjian antara Tuhan dan manusia ini, di zaman modern sekitar Zaman Pencerahan, menjadi model bagi “teori kontrak sosial”, yang menjadikan kodrat manusia menurut pandangan Barat sebagai modelnya.60 Dao Timur adalah awal pemikiran yang lain. Tuhan menuntut persembahan, kurban, dan upacara sebagai imbalan atas perlindungan yang diberikan-Nya kepada manusia, tetapi Dao berada di atas semua itu. Dao tidak secara khusus melindungi orang atau suku mana pun, dan tidak menuntut imbalan apa pun. Dao, sebagai bagian dari alam, memberi secara adil kepada semua makhluk, termasuk manusia, seperti matahari dan hujan, dan tidak mengharapkan balasan apa pun. Bahkan setelah karyanya selesai, Dao tidak menuntut apa-apa.

Dao ada di mana-mana. Ia ada di kiri dan ada di kanan. Segala sesuatu bersandar pada kekuatannya, dan ia tidak menolaknya. Setelah karyanya selesai, ia tidak menuntut apa-apa. (Daodejing, bab 34)

Terutama dalam hal upacara keagamaan, Dao Timur, berbeda dari Tuhan Barat, tidak menuntut doa atau kurban dari manusia. Karena tidak mempunyai orang yang secara khusus dikasihinya, Dao bahkan tidak dapat menuntut kurban. Lagi pula, seandainya manusia berdoa atau mempersembahkan kurban, Dao tidak berada dalam kedudukan untuk mengadakan mukjizat guna menolongnya. Sikapnya hanyalah ini: siapa yang mengikuti Dao dengan baik akan beruntung dan urusannya lancar; siapa yang melanggar Dao akan malang dan urusannya tersendat.

Sudah sebelum Masehi, Xunzi menjelaskan bahwa berdoa pada waktu gerhana matahari atau gerhana bulan dan mengadakan upacara meminta hujan pada musim kemarau hanyalah hiasan budaya; bukan karena melakukan hal-hal itu apa yang diharapkan menjadi kenyataan. Ia mengajarkan bahwa kebutuhan akan upacara adalah sesuatu yang dirasakan manusia, dan tidak ada hubungannya dengan terwujud atau tidaknya apa yang sebenarnya diinginkan. Ia juga berpendapat bahwa mengadakan upacara meminta hujan sebagai hiasan budaya yang dibutuhkan masyarakat manusia itu baik, tetapi jika orang sungguh-sungguh memercayainya ketika mengadakannya, hal itu dapat mendatangkan bencana bagi negeri:

Orang mengadakan upacara meminta hujan, lalu hujan turun. Mengapa? Tidak ada alasannya. Tanpa upacara meminta hujan pun hujan tetap turun. Menabuh genderang di kuil pada waktu gerhana matahari dan bulan, mengadakan upacara meminta hujan pada musim kemarau, dan meramal sebelum urusan penting, semua itu dilakukan bukan karena orang percaya bahwa apa yang diinginkan akan terwujud, melainkan sebagai hiasan budaya. Pemimpin memandang hal-hal ini sebagai hiasan budaya; rakyat menganggapnya sebagai permohonan agar roh-roh bekerja. Memperlakukannya sebagai hiasan budaya membawa untung bagi negeri; menganggap bahwa roh-roh bekerja membawa malang bagi negeri. (Xunzi 17:9)

Tuhan menjadi sosok mutlak yang melindungi orang-orang pilihan-Nya, dan orang-orang pilihan itu harus mengabdi kepada Tuhan secara mutlak. Tuhan terus-menerus menyatakan kepada orang-orang beriman: “Tuhan itu pengasih.” Tetapi Dao tidak ada hubungannya dengan pemilihan atau ketaatan semacam itu. Dao menyatakan tentang dirinya: “Dao tidak pengasih.” Dalam peradaban Timur, Dao mendekati manusia sebagai konsep yang berbeda dari Tuhan. Dao adalah sesuatu yang selalu ada, yang tidak dapat dihindari manusia sekalipun ia berusaha menghindarinya. Sebaliknya, dalam agama wahyu, Tuhan hanya bekerja bagi orang-orang yang dipilih oleh rahmat-Nya (Grace). Hukum Dao adalah ungkapan abadi yang tidak dipengaruhi perasaan manusia. Pandangan Timur tentang alam semesta ini sejalan dengan pengamatan bahwa kita tidak dapat menetapkan pada alam dan alam semesta ungkapan atau tujuan seperti yang dibayangkan manusia.

Dao tidak memberikan kasih (仁) yang pilih kasih kepada manusia, melainkan adil kepada siapa pun. Dao yang tak tampak, yang menolak ungkapan “dengan penyangkalan”, hanya ada satu. Tidak ada perpecahan atau tafsiran yang beragam. Tidak mungkin ada dua Dao, dan di dalam Dao yang satu pun tidak mungkin ada berbagai tafsiran. Tetapi Tuhan yang tampak, yang memakai ungkapan “penegasan”, tidak dapat menghindari adanya ungkapan dan tafsiran yang berbeda. Demikianlah penyangkalan pada Dao dan penegasan pada Tuhan berbeda dalam cara mengungkapkan kebenaran mutlak.

Dao berlaku bagi semua manusia, tetapi hasil dari apa yang dilakukan manusia dibuat oleh manusia sendiri, dan Dao tidak campur tangan dalam proses itu. Dan Dao menunjukkan bahwa manusia, seperti semua makhluk di alam, pada akhirnya akan lenyap.

Alam tidak pengasih. Setelah segala makhluk selesai dipakai, alam membuangnya seperti boneka jerami yang dipakai dalam upacara persembahan. Orang bijak tidak pengasih. Setelah rakyat selesai dipakai, ia membuangnya seperti boneka jerami yang dipakai dalam upacara persembahan. (Daodejing, bab 5)

Salah satu ciri yang membedakan Dao dari Tuhan adalah bahwa Tuhan menekankan segi kebaikan-Nya. Pernyataan “Tuhan itu pengasih” terus diulang-ulang. Karena pengasih, Tuhan mengajarkan kepada orang berdosa, kepada manusia, jalan untuk membedakan yang baik dari yang jahat.

Tuhan itu baik dan benar; karena itu Ia menunjukkan jalan kepada orang-orang berdosa. (Mazmur 25:8)

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik, dan kasih-Nya kekal selamanya. (Mazmur 136:1)

Ungkapan bahwa Tuhan Barat itu pengasih berarti bahwa Tuhan memiliki perasaan manusia. Sebaliknya, Dao tidak pengasih, dan tetap menjadi prinsip yang melampaui dunia perasaan manusia.

Teologi negatif (否定神學) Dao versus antropomorfisme (擬人化) Tuhan

Yang tampak adalah “teologi afirmatif” (cataphatism). Ia berusaha mengungkapkan sosok mutlak secara positif. Asal kata Yunani istilah ini berasal dari penegasan (affirmation) atau berbicara (to speak). “Tuhan itu pengasih” adalah contohnya: Tuhan diungkapkan secara positif, sebagai terang, keadilan, kebenaran, dan kehidupan. Karena itu, Tuhan mengambil sikap yang keras terhadap kegelapan, ketidakadilan, dusta, dan kematian. Dao mengikuti cara yang tak tampak dan mengejar “teologi negatif” (apophatic theology: mengungkapkan sosok mutlak dengan penyangkalan). “Apo” berarti “menyangkal”. Istilah “teologi negatif” berasal dari makna “penyangkalan” (negation) dalam akar kata Yunaninya.

Pemikiran yang membandingkan Timur dan Barat dengan ungkapan “Dao tidak pengasih, Tuhan itu pengasih” mengandung makna yang dalam. Para filsuf menjelaskannya dengan istilah “teologi negatif” dan “antropomorfisme”. Teologi negatif juga diuraikan dalam konsep Tuhan yang dianut Maimonides, yang memengaruhi Spinoza.61 Maimonides menyatakan bahwa “Tuhan tidak dapat dijelaskan secara langsung dengan bahasa manusia; Ia hanya dapat didekati melalui penyangkalan”. Maimonides adalah filsuf, teolog, dan tabib Yahudi Abad Pertengahan, yang lahir pada tahun 1135 di Córdoba, Spanyol, dan wafat pada tahun 1204 di Mesir. Teologi negatifnya adalah inti filsafat yang tak tampak yang ditekankan Dao. Ayat pertama Daodejing, “dao ke dao fei chang dao” (道可道非常道, Dao yang diungkapkan bukanlah Dao yang abadi), justru berarti teologi negatif. Ungkapan Daodejing “Dao tidak pengasih” justru merupakan cara menunjukkan kebenaran mutlak melalui penyangkalan. Inilah kebalikan persis dari anggapan teologi afirmatif Barat bahwa “Tuhan itu pengasih”. Ungkapan bahwa Tuhan itu baik menimbulkan pertanyaan mendasar: dari mana asal lawan kebaikan, yaitu kejahatan, dan mengapa ia ada? Filsafat Dao tidak mengenal masalah seperti itu.

Pandangan yang tak tampak diterima apa adanya bukan hanya dalam Taoisme, melainkan juga dalam Konfusianisme. Konfusius memakai ungkapan “Dao tidak akan terlaksana di dunia”. Sambil mengejar kebenaran mutlak yang bernama Dao, ia menerima bahwa Dao yang tak berujung tidak dapat terlaksana di dunia ini. Itulah maksud ungkapan: “Jika pada pagi hari aku dapat mendengar bahwa Dao berlaku di dunia, pada sore harinya aku rela mati” (Analek 4:8).

Ungkapan bahwa Tuhan itu pengasih terbentuk seiring Tuhan menjalani proses antropomorfisme. Teologi negatif menjelaskan pemikiran filosofis Dao; antropomorfisme menjelaskan pemikiran filosofis Tuhan. Kata antropomorfisme (擬人化, anthropomorphization) dibentuk dari kata Yunani anthropos, yang berarti manusia, dan morphe, yang berarti bentuk. Artinya, Tuhan, sebagai kebenaran mutlak, mengambil rupa manusia. Sebab hanya dengan menjadi seperti manusia Tuhan dapat menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia. Melalui antropomorfisme, Tuhan memiliki rupa dan perasaan seperti manusia. Ia mendekati manusia dalam bentuk yang kuat. Tetapi di sini tersembunyi bahaya, yaitu permusuhan yang keras terhadap orang-orang yang menentang penampakan kebenaran mutlak. Di antara yang percaya dan yang tidak percaya tumbuh permusuhan eksistensial antara baik dan jahat.

Sebaliknya, Dao Timur, berbeda dari Tuhan Barat, secara konsisten menolak antropomorfisme. Dao tidak memiliki rupa seperti manusia untuk diperlihatkan kepada manusia. Dao menolak nama apa pun. Dao bahkan tidak boleh terlihat. Ciri ini ditekankan berkali-kali dalam Daodejing.

Dao tidak terlihat. Ia tidak bernama. (Daodejing, bab 41)

Dao selalu ada, tetapi karena tidak campur tangan secara perseorangan dalam urusan manusia, manusia tidak dapat melihat atau memanggilnya. Dao, jalan alam, dapat dipahami, tetapi tidak dapat dilihat.

Dao ada kapan saja dan di mana saja, tetapi tidak bertindak dan tidak berwujud. Dao dapat diteruskan, tetapi tidak dapat diterima; dapat dipahami, tetapi tidak dapat dilihat. (Zhuangzi, Bab-Bab Dalam, “Guru Agung”, 大宗師)

Dao menolak antropomorfisme, tetapi Alkitab menunjukkan Tuhan berpegang erat padanya sebagai proses yang mutlak perlu untuk berkomunikasi dengan manusia. Melalui antropomorfisme, Tuhan mengambil rupa manusia, dan bersamanya juga perasaan yang dimiliki manusia: baik dan jahat, keadilan, kecemburuan, kemurkaan. Apa yang terjadi bila Tuhan menjadi seperti manusia? Dengan berkomunikasi langsung dengan manusia, Tuhan memperoleh daya penyampaian yang kuat dan langsung kepada manusia. Tetapi muncul pula masalah. Tuhan yang dipersonifikasikan, dengan membatasi pribadi-Nya sendiri dalam ukuran manusia, menimbulkan keraguan tentang kemutlakan-Nya.

Ada orang yang mengira bahwa Tuhan, seperti manusia, memiliki naluri dan pikiran serta memiliki perasaan; mereka telah tersesat jauh dari kebenaran… Membayangkan Tuhan, sosok yang secara mutlak tak terbatas, dengan sifat-sifat seperti itu adalah kebodohan yang luar biasa. (Spinoza, Etika, I, Prop. XV)

Melalui antropomorfisme, pandangan yang tampak memperoleh kekuatan yang besar. Ia diungkapkan langsung kepada manusia, dan daya tariknya bagi para pengikutnya besar. Ia memiliki kekuatan yang menghasilkan ketaatan mutlak. Tetapi antropomorfisme sekaligus mengandung bahaya. Mau tidak mau akan ada orang yang meragukan proses antropomorfisme itu. Kepada orang-orang yang tidak percaya, Tuhan dan para nabi menyampaikan peringatan paling menakutkan yang dapat mereka temukan dan ungkapkan. Pentateukh menubuatkan kesengsaraan bagi orang-orang yang ragu sampai keturunan kesepuluh.

Tuhan Barat, berbeda dari Dao Timur, sudah memiliki wajah dan suara seperti manusia, bercakap-cakap langsung dengan manusia, bahkan menulis dengan jari-Nya. Semua ini dipakai agar Tuhan dapat campur tangan dalam urusan manusia. Menurut kitab Kejadian, manusia dibuat menurut gambar Tuhan.

Allah berfirman: “Marilah Kita membuat manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya ia menguasai ikan di laut, burung di udara, ternak, segala binatang liar, dan segala yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26–27)

Dengan menyatakan, sudah sejak menciptakan manusia, “Aku akan membuat manusia menurut gambar Allah”, dapat dikatakan bahwa arah antropomorfisme Tuhan telah ditetapkan. Di antara para filsuf Yunani ada yang mengangkat masalah antropomorfisme. Xenophanes (Xenophanes, sekitar 570–478 SM) adalah salah satunya. Ia menyatakan bahwa “Tuhan yang agung, untuk menjaga kemutlakan-Nya, tidak boleh menyerupai manusia, baik dalam rupa maupun dalam hati”. Xenophanes hidup pada abad ke-6 SM, dan bersama Herakleitos ia dianggap sebagai tokoh terpenting di antara para filsuf Yunani pra-Sokrates yang menganut pandangan yang tak tampak. Xenophanes berpendapat bahwa jika Tuhan mengambil rupa manusia, Ia akan campur tangan langsung dalam urusan manusia. Akibatnya, Tuhan dan manusia menjadi seolah-olah dapat saling dipertukarkan, dan manusia akan berhasrat menjadi seperti Tuhan. 62 Pada saat yang sama, ia memparodikan bagaimana suku-suku manusia, bahkan binatang, masing-masing akan membuat dewa-dewa yang menyerupai diri mereka sendiri.

Orang Etiopia mengira dewa-dewa mereka berkulit hitam dan berhidung pesek, orang Trakia mengira dewa-dewa mereka bermata biru dan berambut merah… Seandainya kuda melukis wajah dewa, ia akan melukisnya seperti wajah kuda. Sapi akan melukis dewanya dengan wajah sapi… dan tubuh mereka pun akan dilukis menurut bentuk kuda atau sapi.63

Sesudah Xenophanes, Dionisius (Pseudo-Dionisius, filsuf sekitar abad ke-5) juga menentang antropomorfisme Tuhan. Ia memperingatkan bahwa jika Tuhan digambarkan dalam rupa manusia, hal itu pada akhirnya akan langsung mengarah pada tindakan yang berbahaya, yaitu manusia meminjam wibawa Tuhan untuk bertindak seperti Tuhan.

Proses antropomorfisme adalah konsep yang asing bagi peradaban Timur. Sebabnya, di Timur gejala Dao menjadi seperti manusia tidak pernah terjadi. Daodejing terus-menerus menjelaskan mengapa Dao tidak boleh menjadi seperti manusia. Kebenaran mutlak, bila diungkapkan dalam bentuk apa pun, kehilangan kemutlakannya. Sebaliknya, bagi Tuhan Barat, proses antropomorfisme, yaitu “proses mengambil rupa manusia”, makin lama makin jelas. Antropomorfisme Tuhan Yudaisme bermula dari perjumpaan Musa dengan Tuhan. Sambil menjelaskan keberadaan-Nya melalui Musa, Tuhan menyampaikan melalui Musa semua hukum yang harus diikuti bangsa Israel. Taurat, yaitu Pentateukh, berarti hukum. Menurut hukum ini, Yudaisme memperoleh bentuk yang teratur dan sistematis sebagai agama monoteis. Melalui agama, Tuhan mengatur urusan manusia.

Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan memimpin mereka menuju Kanaan, “tanah yang berlimpah susu dan madunya”. Dalam perjalanan, di dekat Gunung Sinai, Musa menerima Sepuluh Perintah dari Tuhan, yang menjadi hukum Tuhan yang tidak boleh dilanggar. Menurut kitab Keluaran dalam Perjanjian Lama, dalam perjalanan itu terjadi percakapan dan tawar-menawar yang sangat menarik antara Musa dan Tuhan. Orang Yahudi mendirikan sebuah kemah di luar perkemahan sebagai tempat perjumpaan dengan Tuhan, dan di sanalah Musa mulai bercakap-cakap dengan Tuhan. Tuhan pun memakai bahasa manusia:

Allah berbicara dengan Musa berhadapan muka, seperti seorang berbicara dengan sahabatnya. (Keluaran 33:11)

Lalu Musa memohon kepada Allah, sebagai bukti untuk meyakinkan orang Yahudi, agar Ia “memperlihatkan kemuliaan-Nya”, yaitu memperlihatkan diri-Nya (Keluaran 33:18). Allah menjawab: “Engkau tidak boleh melihat wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang melihat wajah-Ku dapat tetap hidup.” Kemudian Allah melanjutkan: “Ada sebuah gunung batu di dekat sini; berdirilah di sana. Apabila kemuliaan-Ku lewat, Aku akan menempatkan engkau di celah gunung batu itu dan menutupi engkau dengan tangan-Ku sampai Aku selesai lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku, dan engkau akan melihat punggung-Ku, tetapi wajah-Ku tidak boleh terlihat” (Keluaran 33:20–23). Demikianlah Tuhan memperlihatkan kepada Musa rupa-Nya yang telah menjadi seperti manusia.

Engkau akan melihat punggung-Ku. (Keluaran 33:23)

Sangat menarik bahwa Daodejing mengatakan tentang punggung Dao hal yang persis berlawanan dengan apa yang dikatakan Pentateukh tentang punggung Tuhan. Tuhan memperlihatkan punggung-Nya kepada manusia, tetapi Dao menyatakan bahwa dalam keadaan apa pun manusia tidak dapat melihat punggungnya:

Sekalipun Dao diikuti dari belakang, punggungnya tidak terlihat. (Daodejing, bab 14)

Tuhan Barat yang dipersonifikasikan memperlihatkan punggung-Nya yang berupa manusia kepada Musa. Tetapi karena Dao tidak menjalani proses antropomorfisme, ia tidak memiliki depan atau belakang seperti manusia. Karena itu, Dao didefinisikan sebagai tidak memiliki depan yang dapat dilihat, dan tidak memiliki punggung untuk diperlihatkan, sekalipun manusia mengikutinya dari belakang.

2) Sumber tindakan manusia: tanpa-tindakan (無爲) versus tindakan disengaja (有爲)

Tanpa-tindakan (wuwei, 無爲) yang dianjurkan Daodejing mengandung filsafat untuk mengimbangi tindakan disengaja (youwei, 有爲) manusia dan mencari keseimbangan terhadap tindakan disengaja melalui tanpa-tindakan. Sebabnya, Daodejing memandang besar kemungkinan bahwa tindakan disengaja manusia menjerumuskan Dao yang alami ke dalam kekacauan. Urusan manusia senantiasa berubah, tetapi di dalamnya ada satu tetapan yang tidak berubah, yaitu keakuan yang berasal dari kodrat manusia, sumber keserakahan. Ini berarti bahwa setiap manusia cenderung mengejar kepentingan pribadi alih-alih kepentingan umum. Mengimbangi keserakahan manusia, itulah inti filsafat tanpa-tindakan. Hanya dengan demikian keseimbangan masyarakat dan keselarasan hati setiap orang dapat terwujud.

Pemikiran tanpa-tindakan memberikan kepada peradaban Timur kerangka dasar yang, sambil mengakui perlunya tindakan disengaja, mengarah pada tanpa-tindakan sebagai akar tindakan disengaja, dan karena itu memperingatkan bahaya tindakan disengaja. Daodejing tidak menolak keterlibatan dalam kenyataan. Misalnya, walaupun menganggap pemikiran tanpa-tindakan aliran Taois lebih mendasar, Daodejing mengakui nilai pemikiran keterlibatan dalam kenyataan dari aliran Konfusius. Ia mengakui perlunya upaya, yang berpusat pada etika, untuk mencari seperti apa etika masyarakat manusia yang sedekat mungkin dengan Dao alam. Dalam arti ini, perbedaan antara aliran Taois dan aliran Konfusius adalah perbedaan antara tanpa-tindakan dan “praktik tindakan disengaja”. Bahwa aliran Konfusius menempatkan etika, bukan hukum, di atas hukum, itulah perbedaan antara praktik tindakan disengaja aliran Konfusius dan pemikiran tindakan disengaja di Barat. Dalam masyarakat manusia yang nyata, praktik tindakan disengaja memang diperlukan, tetapi besar kemungkinan praktik itu merosot menjadi tindakan disengaja yang tidak mengakui tanpa-tindakan. Karena itu, sebagai peringatan, pentingnya tanpa-tindakan terhadap tindakan disengaja terus-menerus ditekankan.

Konfusius, ketika berbicara tentang Raja Shun yang “memerintah dengan tanpa-tindakan” (無爲而治) (Analek 15:5), mengakui nilai tanpa-tindakan yang melampaui praktik tindakan disengaja Konfusianisme. Xunzi pun memandang tanpa-tindakan sebagai keadaan ideal dalam perilaku pemimpin. Dalam arti ini, aliran Konfusius mengakui nilai pemikiran tanpa-tindakan dalam filsafat tindakannya sendiri, dan menghargainya tinggi sebagai keadaan yang mengikuti prinsip langit, bukan rekayasa manusia. Bahwa aliran Konfusius menempatkan pemerintahan dengan kebajikan dan pemerintahan dengan tata krama di atas pemerintahan dengan hukum menjelaskan hal ini.

Secara harfiah, tanpa-tindakan berarti “tidak bertindak”, tetapi maknanya adalah gerak yang tepat waktu, yaitu “bertindak dengan tanpa-tindakan” (爲無爲). Tanpa-tindakan yang selaras dengan alam (無爲自然). Maksudnya, jika manusia bertindak lebih dulu pada tahap tunas (germinal stage), ketika tunas baru muncul, ia dapat meramalkan keadaan masa depan yang terus berubah; karena itu kita harus bertindak dengan mengingat hal itu. Inilah inti pemikiran Dao: bertindak selaras dengan arus alami segala sesuatu, tanpa paksaan atau campur tangan yang berlebihan; mengikuti alam. Pemikiran ini memiliki sebagian kemiripan dengan pemikiran “laissez-faire”, inti pemikiran ekonomi politik Barat. Pendapatnya adalah bahwa sumber urusan manusia bukanlah tindakan disengaja, melainkan tanpa-tindakan.

Lakukanlah tindakan tanpa bertindak, kerjakanlah pekerjaan tanpa bekerja. (Daodejing, bab 63)

Teori tindakan disengaja di Barat mudah dipahami karena membawa pengaruh langsung kepada manusia. Sesuai dengan kosmologi yang menyatakan bahwa keberadaan, yang dihasilkan Tuhan, adalah asal mula alam semesta, apa yang dihasilkan manusia, yaitu tindakan disengaja, menjadi asal mula urusan manusia. Itulah tindakan untuk melakukan sesuatu menurut keinginan atau tujuan manusia. Hukum, yang mewakili peradaban Barat, adalah contoh yang penting. Maksudnya, manusia mengambil prakarsa menangani urusan, dan mengatur urusan manusia dengan berpusat pada hukum dan lembaga yang didasarkan pada hukum agama atau pikiran manusia.

Dibandingkan dengan pemikiran tindakan disengaja di Barat, yang berlandaskan “filsafat keberadaan”, teori tanpa-tindakan di Timur sulit dipahami.64 Sebabnya, teori tanpa-tindakan berintikan “filsafat perubahan”, yang tidak dianggap penting dalam pemikiran Barat. Filsafat Timur meletakkan sumber alam semesta pada ketiadaan, dan memperlakukan perubahan antara ketiadaan dan keberadaan sebagai gerak alam dan alam semesta. Karena berpusat pada ketiadaan alih-alih keberadaan, pemikiran filsafat Timur memandang tanpa-tindakan, yakni kembali kepada ketiadaan, sebagai sumber urusan manusia.

Dalam sejarah Timur, di antara tugas-tugas pemimpin, pemikiran tanpa-tindakan lebih ditekankan daripada tindakan disengaja. Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing, yang dianggap salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah Tiongkok, membuat papan bertuliskan aksara tanpa-tindakan dan menggantungkannya di pintu masuk ruang sidang yang dipimpin kaisar.

Jika pemimpin memaksakan pemerintahannya, itu menjadi kutuk bagi negeri; jika ia tidak memaksakannya, itu menjadi berkah bagi negeri. (Daodejing, bab 65)

Maksudnya, para pemimpin, seperti kaisar dan para pejabat utama, tidak boleh menyengsarakan rakyat dengan menjadikan kebijakan demi kepentingan mereka sendiri sebagai kebijakan negara. Dengan kata lain, itu adalah peringatan bagi dirinya sendiri dan para menterinya agar tidak sembarangan membuat undang-undang atau titah. Di Timur maupun di Barat, sering kali para pemimpin menetapkan kebijakan berdasarkan keyakinan pribadi, lalu bawahan mereka memanfaatkannya. Mereka pun sampai melanggar hukum atau membuat hukum baru untuk memenuhi kepentingan pribadi:

Cara terbaik menjalankan negara adalah membiarkan rakyat melakukan apa yang mereka inginkan… Yang paling buruk adalah para pemimpin negara bersaing dengan rakyat dalam mengejar keuntungan. (Catatan Sejarawan 129-1)

Zhuangzi, yang bersama Laozi mewakili pemikiran Taoisme, menjelaskan latar belakang tanpa-tindakan dalam kaitannya dengan kodrat manusia. Ia berlandaskan filsafat perubahan: segala sesuatu di alam semesta berubah dan tumbuh, dan setiap tunas dan setiap bentuk mengandung arah pertumbuhannya kelak. Kematangan dan pembusukan, serta perubahan dan peralihan bentuk yang terus-menerus terjadi di antara keduanya, semuanya terkandung di dalamnya. Zhuangzi menjelaskan bahwa pemerintahan tidak boleh mencampuri kehidupan rakyat, yaitu harus memperkecil tindakan disengaja dan memperlakukannya dengan tanpa-tindakan:

Manusia memiliki kodrat. Setiap orang membuat pakaian untuk dikenakan dan membajak ladang untuk makan: itulah kodratnya. Inilah yang berguna bagi semua orang. Itu alami dan tidak condong ke pihak mana pun. Karena itu, langit memperlakukannya dengan tanpa-tindakan dan tidak campur tangan. (Zhuangzi, Bab-Bab Luar, “Kuku Kuda”, 1)

Filsafat India pun memiliki konsep penting yang dapat diterjemahkan sebagai ketiadaan dan keberadaan, atau tanpa-tindakan dan tindakan disengaja. Tanpa-tindakan dalam bahasa Sanskerta disebut asamskrta, yang berarti “tidak diciptakan”, “tidak dibentuk”, “tidak terkondisi”. Sebaliknya, tindakan disengaja disebut samskrta, yang menunjukkan “yang diciptakan”, “yang dibentuk”, “yang terkondisi”. Namun, filsafat India, tempat Buddhisme lahir, dan Taoisme di Asia Timur berbeda secara mendasar dalam cara membedakan keberadaan dan ketiadaan. Dalam filsafat India, karena ketiadaan adalah sumber dan hakikat, keberadaan hanya diberi nilai sementara. Dalam Buddhisme, filsafat “rupa adalah kekosongan, kekosongan adalah rupa” pun berintikan bahwa nilai rupa, yaitu keberadaan, bersifat sementara, dan bahwa yang harus ditekankan adalah kekosongan, yaitu ketiadaan. Sebaliknya, Taoisme memiliki filsafat bahwa ketiadaan adalah sumber, tetapi peran keberadaan diakui: “Segala makhluk di bawah langit lahir dari keberadaan, dan keberadaan bermula dari ketiadaan.” Ketiadaan dan keberadaan saling melengkapi seperti yin dan yang. Bahwa Buddhisme, yang berasal dari filsafat India, jauh lebih mementingkan ketiadaan (無), kehampaan (虛), dan kekosongan (空) daripada Taoisme di Timur, juga disebabkan oleh asal-usul ini.

Dalam kehidupan manusia pun, Buddhisme mengarah pada keadaan yang melampaui segala penderitaan yang dibawa kehidupan manusia, yaitu kelepasan, nirwana, sedangkan Taoisme menekankan pentingnya sikap yang mampu menikmati apa yang diberikan sandang, pangan, dan papan, dasar kehidupan, kepada manusia. Dalam peradaban Timur yang menjunjung pandangan tentang alam semesta dan urusan manusia seperti ini, Konfusianisme, yang menekankan tindakan, hidup berdampingan dengan Taoisme, yang mengajak kembali ke sumber. Orang Timur sering merangkul Konfusianisme dan Taoisme sekaligus, sesuai dengan keadaan dan kedudukan yang dihadapinya.

Sikap Taoisme yang menjunjung tanpa-tindakan tampak jelas dalam Daodejing. Dengan pemikiran tanpa-tindakan, Taoisme menegakkan di dasar peradaban Timur suatu pandangan etika yang sedapat mungkin mengurangi campur tangan penguasa atau pemerintah dalam kehidupan perseorangan.

Tiga puluh jari-jari berkumpul membentuk satu roda. Ruang kosong di tengahnyalah yang membuat kereta dapat berputar. Orang melubangi jendela dan membuat pintu untuk membentuk kamar. Karena ada ruang kosonglah kamar itu berguna. Yang membuat keberadaan bermanfaat adalah karena tanpa-tindakan memakainya. (Daodejing, bab 11)

Pemikiran tanpa-tindakan yang selaras dengan alam, yang terutama ditekankan dalam Zhuangzi, berintikan makna tanpa-tindakan sebagai lawan tindakan disengaja: bahwa manusia tidak boleh terbelenggu oleh hiasan budaya buatannya sendiri, seperti hukum, etika, kebiasaan, dan adat istiadat, melainkan harus membebaskan diri darinya dan menemukan kehidupan di dalam alam. Pada akhirnya, hal ini menyebarkan di peradaban Timur, lebih daripada di peradaban lain mana pun, pemikiran yang berpusat pada otonomi perseorangan yang bebas dari campur tangan pemerintah. Dan hal ini meletakkan etika ekonomi yang terbebas dari keserakahan, dan akhirnya, bekerja sama dengan Konfusianisme, kerangka ekonomi yang sehat yang menekankan pendidikan, ketekunan, kerja keras dan hemat, serta kejujuran pemimpin.

Sebaliknya, Barat tidak memberi nilai pada tanpa-tindakan dan memberi makna positif pada tindakan disengaja.

“Kamu adalah terang dunia… Bila pelita dinyalakan, cahayanya menerangi segala sesuatu di dalam rumah”: demikianlah pentingnya tindakan ditekankan. Seorang penabur keluar untuk menabur… Sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh, berkembang, dan berbuah; ada yang berbuah tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat. (Markus 4:3–8)

Selain dorongan untuk bekerja seperti terang dunia dan seperti tunas, serta meraih hasil secara giat dalam urusan manusia, ditekankan pula peran untuk menjadi, seperti garam, sesuatu yang dibutuhkan dalam urusan manusia.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?… Kamu adalah terang dunia… ia menerangi semua orang. (Matius, pasal 5)

Berupaya seperti garam atau terang adalah tindakan disengaja. Membuat bejana tanah liat atau kamar, seperti dalam contoh di atas, adalah tanpa-tindakan. Perbandingan antara keberpusatan pada wuji, titik tolak peradaban Timur yang terungkap dalam pemikiran tanpa-tindakan, dan keberpusatan pada penciptaan, titik tolak peradaban Barat, barangkali merupakan unsur terpenting yang mendasari masing-masing peradaban Timur dan Barat.

Di Barat, Tuhan menyampaikan kepada manusia, melalui para nabi, hukum yang harus ditaati manusia secara mutlak. Dengan memperingatkan bahwa melanggar hukum berarti mengkhianati Tuhan dan berbuat jahat, Ia membuat manusia menghormati hukum, dan dengan demikian menekankan tindakan disengaja. Tetapi dari sudut pandang Dao, supremasi hukum pun pada akhirnya adalah perbuatan manusia, dan pada hakikatnya termasuk tindakan disengaja. Nabi, karena berhubungan dengan Tuhan, memiliki keunggulan dalam membangkitkan kekuatan dan pemusatan dengan bersandar pada kuasa Tuhan yang mutlak. Lalu lahirlah daya dorong untuk mengejar cita-cita dan merintis masa depan. Tetapi daya dorong ini tidak bertahan. Pada akhirnya ia mengikuti kondisi geopolitik dan arus shi (勢). Dalam sejarah, cita-cita yang dikejar oleh satu Tuhan, satu ideologi, tidak pernah terwujud. Secara filosofis pun, gejala satu Tuhan atau satu ideologi menguasai dunia tidak terjadi.

Peradaban Barat, yang berpusat pada agama wahyu, di antara ketiadaan dan keberadaan berpusat pada keberadaan, dan dalam tindakan, di antara tanpa-tindakan dan tindakan disengaja, menjunjung tindakan disengaja. Selangkah lebih jauh, peradaban Barat memisahkan sama sekali ketiadaan dan keberadaan, lalu mengembangkan dualisme yang saling bertentangan. Dalam peradaban Barat, terang dan gelap, ketidakberadaan dan keberadaan, semuanya saling bertentangan, bukan selaras. Sebaliknya, Dao Timur, yang berpusat pada filsafat alam, mengambil sikap filosofis yang merangkul terang dan gelap, ketidakberadaan dan keberadaan sekaligus. Karena itu, Barat menafsirkan hubungan antara dua hal di alam semesta, alam, dan urusan manusia sebagai struktur dualistis yang saling bertentangan. Dualisme pertentangan dan pemikiran baik dan jahat menafsirkan hubungan antarhal sebagai permusuhan atau pertentangan. Dualisme pertentangan Barat terutama dipakai untuk menjelaskan gejala ilmiah atau gejala alam, sedangkan dalam gejala masyarakat manusia, terutama yang berkaitan dengan agama, dualisme itu mewujud sebagai pemikiran baik dan jahat. Dualisme pertentangan dan pemikiran baik dan jahat sama-sama bertolak dari filsafat keberadaan. Alam semesta dan manusia sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Dan inti filsafat keberadaan Barat adalah bahwa alam semesta yang diciptakan itu ada sebagaimana ia diciptakan, dan harus terus ada tanpa berubah, sebagaimana ia dibuat. Filsafat ini berlandaskan prinsip bahwa apa yang diciptakan Tuhan ada untuk selamanya.

Dualisme adalah filsafat yang menjelaskan gejala alam atau pemikiran dengan dua prinsip dasar. Filsafat Timur menafsirkan alam semesta dan kehidupan manusia dengan pemikiran bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada secara mandiri, melainkan semuanya saling melengkapi dan senantiasa berubah. Sebabnya, peradaban Timur berlandaskan filsafat perubahan. Karena itu, minat terhadap keberadaan yang tak berubah, atau penalaran tentangnya, tidak dianggap penting dalam peradaban Timur. Inilah penjelasan mengapa ontologi atau epistemologi Barat tidak berkembang dalam sejarah filsafat Timur. Sebagai gantinya, berkembanglah di Timur filsafat shi (勢), kekuatan posisi, yaitu menangkap dan memanfaatkan arus yang tersembunyi di dalam perubahan menurut filsafat perubahan, bersama filsafat shu (術), seni politik, yang menyangkut perubahan kodrat manusia. Filsafat shi dan shu adalah konsep yang tidak ada dalam pemikiran Barat.

Di Timur tidak ada dogma atau teori ilmiah yang sebanding dengan kreasionisme atau teori evolusi di Barat. Karena Timur memiliki filsafat bahwa manusia adalah bagian dari alam dan kembali ke dalam alam, pemikiran yang berkaitan dengan teleologi yang menjadikan manusia pusat alam semesta tidak berkembang di sana, sehingga antroposentrisme (人間主義) yang terkait dengan metafisika tidak mendapat ruang untuk berkembang. Di Timur tidak ada dogma agama tentang penciptaan alam dan manusia, tetapi ada mitos penciptaan, yaitu mitos penciptaan Pangu (盤古), yang menopang filsafat perubahan. Juga, walaupun tidak ada teori evolusi yang cermat dan ilmiah seperti teori Darwin, ada filsafat perubahan yang menjelaskan kedudukan dan peran alam dan manusia di alam semesta. Filsafat perubahan yang terkandung dalam Yijing itulah hasil perkembangan filsafat perubahan, akar pemikiran Timur, menjadi suatu sistem.

Budaya etika Timur versus budaya hukum Barat

Di Timur, yang menjunjung tanpa-tindakan, etika menjadi lebih penting daripada hukum; di Barat, yang menjunjung tindakan disengaja, supremasi hukum menjadi lebih penting daripada etika. Inilah yang diungkapkan sebagai budaya etika Timur dan budaya hukum Barat. Menelaah bagaimana hubungan antara etika dan hukum ditata di Timur membantu kita memahami perbedaan antara peradaban Timur dan Barat. Di Timur pun pernah ada masa, seperti Zaman Negara-Negara Berperang sebelum Masehi, ketika hukum dijunjung, memainkan peran pusat, dan berperan menentukan dalam mengakhiri Zaman Negara-Negara Berperang serta mewujudkan negara kesatuan. Hukum pada masa itu disebut bianfa, “pembaruan hukum”, karena mengandung isi yang revolusioner, yaitu mengakhiri sistem feodal melalui hukum dan menjalankan negara dengan sistem komanderi dan distrik. Dalam pemerintahan dengan hukum di Tiongkok, tokoh-tokoh seperti Shang Yang (390–338 SM), Han Feizi (280–233 SM), dan Li Si (280–208 SM) memainkan peran utama. Shang Yang berkiprah pada masa ketika tradisi lama bergaya feodal masih bertahan, dengan kerabat raja memonopoli kekuasaan. Demi kemajuan negara, Shang Yang menganjurkan pemerintahan dengan hukum yang menekankan kesetaraan antara kerabat raja dan rakyat jelata. Ia giat menjalankan pembaruan hukum yang meninggalkan paradigma lama yang memberikan perlakuan istimewa kepada kaum bangsawan, dan melaksanakan paradigma baru yang menjadikan hukum yang setara bagi semua orang sebagai dasar negara.

Sambil bergulat selama dua puluh tahun melawan kekuatan feodal, termasuk kerabat raja, Shang Yang menjalankan hukum yang membubarkan bangsawan pemilik tanah, mengenakan pajak berat kepada orang kaya, dan membagikan tanah serta modal pertanian kepada petani miskin. Seluruh rakyat pun mulai berharap bahwa bila mereka keluar dari kemiskinan dan negara tumbuh, mereka akan mendapat bagian. Akhirnya, dengan bantuan giat raja, ia berhasil menjalankan kebijakan pembaruannya. Tetapi ia dibenci para bangsawan pemilik tanah, dan setelah wafatnya raja yang menolongnya selama dua puluh tahun (Adipati Xiao dari Qin), Shang Yang dihukum mati. Namun, paradigma revolusioner untuk mengganti sistem feodal dengan sistem komanderi dan distrik tetap bertahan, dan pemerintahan dengan hukum ala Shang Yang menjadikan Qin negara yang kuat. Satu setengah abad kemudian, ketika Qin mempersatukan seluruh negeri, Qin Shi Huang (Kaisar Pertama Qin) mengakhiri Zaman Negara-Negara Berperang, yang berlangsung 250 tahun di bawah sistem feodal turun-temurun, dan mewujudkan penyatuan negeri (221 SM) di bawah sistem komanderi dan distrik yang diperintah langsung oleh pemerintah pusat. Pada saat itu, Qin Shi Huang mengangkat Li Si, yang berasal dari aliran Legalis, sebagai perdana menteri. Karya utama aliran Legalis ditulis oleh Han Feizi (韓非).

Mengingat bahwa aliran Legalis sepenuhnya menolak nilai-nilai etis, menekankan pemerintahan dengan hukum alih-alih kepemimpinan pribadi, dan mencemooh tata krama serta cita-cita masa lalu, dapat dikatakan bahwa aliran ini membentuk antitesis yang berhadapan langsung dengan pemikiran aliran Konfusius. 65 Buku Han Feizi, yang dibuka dengan kalimat “Hamba Fei sama sekali tidak takut mengemukakan pendapat…”, dapat dibandingkan, baik bentuk maupun isinya, dengan Sang Pangeran karya Machiavelli. Memang, seperti Sang Pangeran, Han Feizi memperlihatkan pembedahan dan pengamatan yang tajam atas kodrat manusia, dan kemiripannya mengejutkan.66 Han Feizi mendahului Machiavelli hampir dua ribu tahun.

Han Feizi menjelaskan peran penguasa kepada raja demikian: “Penguasa yang arif tidak boleh mengandalkan bahwa para menterinya tidak akan berkhianat, tetapi harus ingat untuk membekali dirinya sendiri dengan shu (術), seni politik, yang membuat mereka tidak dapat berkhianat; ia tidak boleh bersandar pada harapan bahwa para menterinya tidak akan menipu, tetapi harus bersandar pada upaya membekali dirinya sendiri dengan shu yang membuat mereka tidak dapat menipu.”67 Ia menganjurkan seni pemerintahan yang sepenuhnya bercorak Machiavelli: menteri “melayani dengan sepenuh hati jika penguasanya arif, tetapi jika penguasanya bodoh, ia hanya akan menyusun tipu daya untuk mengujinya”.68 Machiavelli menasihati penguasa agar memakai ancaman singa dan kecerdikan rubah sekaligus,69 dan menegaskan perlunya melimpahi para menteri dengan kehormatan, emas, dan harta benda agar mereka tidak berniat berkhianat. 70 Han Feizi mengajarkan bahwa menteri akan melayani dengan setia jika penguasanya arif, tetapi bila tidak perlu, ia akan berusaha memanfaatkan penguasa; karena itu, penguasa harus tahu cara menyingkirkan para penjilat yang licik.71

Realisme yang dari satu sisi dingin dan kejam ini mungkin dapat diterapkan, dan mungkin perlu untuk memulihkan ketertiban, pada masa kacau seperti Zaman Musim Semi dan Musim Gugur serta Zaman Negara-Negara Berperang. Tetapi di Tiongkok sesudahnya, yang mempertahankan negeri yang bersatu selama dua ribu tahun, ren (仁) dan yi (義) dijunjung dan dipentingkan, dan orang mengarah pada keselarasan dan jalan tengah, sehingga pemikiran Legalis, yang dibangun di atas pertentangan dan konflik, menyerahkan tempat pertama dalam hal kepentingan kepada pemikiran Konfusianisme, yang menjunjung etika.

Dalam negara kesatuan yang telah mewujudkan sistem komanderi dan distrik, menjamin perdamaian dan kestabilan melalui politik dan pemerintahan menjadi lebih penting. Karena itu, hukum, walaupun tetap menjadi unsur penting sarana pemerintahan negara, bekerja sama dengan filsafat Taoisme dan Konfusianisme, yang mencakup etika dan tanpa-tindakan yang membantu berjalannya politik dan pemerintahan negara secara wajar. Pada akhirnya, hal ini berkembang dalam bentuk “pemikiran Huang-Lao” (黃老思想) dan “Konfusianisme di luar, Legalisme di dalam” (外儒內法). Bentuknya adalah mengedepankan tanpa-tindakan Taoisme dan etika Konfusianisme di luar, sambil menyumbang bagi penyelenggaraan negara kesatuan dengan hukum di dalam. Pemerintahan dengan kebajikan (德治), yang berpusat pada tanpa-tindakan, dan pemerintahan dengan tata krama (禮治), yang berpusat pada etika, menjadi lebih penting daripada pemerintahan dengan hukum.

Alkitab memerintahkan agar penyembahan kepada Tuhan didahulukan bahkan dalam hubungan keluarga, dan hal ini menegaskan bahwa penyembahan kepada Allah adalah hukum yang pertama.

Jangan mengira bahwa Aku datang untuk membawa damai ke dunia. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya; dan musuh orang adalah orang-orang seisi rumahnya sendiri. Barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku, dan barangsiapa mengasihi anak laki-laki atau anak perempuannya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (Matius, pasal 10)

Di Timur, pada abad ke-4 SM, pembaruan hukum Shang Yang membuat hukum berbenturan dengan etika. Tanggung jawab kolektif, yang menyatakan bahwa hukum lebih penting daripada hubungan keluarga, khususnya menjadi masalah. Tanggung jawab kolektif, yang melibatkan keluarga bahkan tetangga dalam suatu kejahatan, menghancurkan etika dan menyebarkan ketakutan. Sudah pada abad ke-2 SM, masalah penting ini diselesaikan oleh Dinasti Han, pewaris penyatuan negeri dari Qin, dengan sistem “Konfusianisme di luar, Legalisme di dalam” (外儒內法), yang menyatakan bahwa etika lebih penting daripada hukum. Dalam Catatan Sejarawan (史記) karya Sima Qian, pembaruan hukum Shang Yang digambarkan sebagai lembaga inovatif yang menjadikan Qin negara yang kuat, tetapi sekaligus sebagai pemerintahan dengan hukum yang kejam, yang melampaui etika dan moral manusia. Sambil menekankan hasil kelembagaan dari pemerintahan dengan hukum ala Shang Yang serta tragedi dan perlawanan yang ditimbulkannya, Sima Qian menggambarkan apa yang terjadi ketika hukum menindih etika.

Pemikiran Timur ini, “mengedepankan etika sambil memanfaatkan hukum”, dijelaskan dengan baik oleh pemikiran yin dan yang.

Pandangan Timur tentang alam semesta berpusat pada struktur wuji-taiji. Keduanya penting, tetapi Timur memandang bahwa wuji lebih utama daripada taiji. Sebaliknya, pandangan Barat tentang alam semesta menekankan penciptaan dari kaos, dan menganggap bahwa penciptaan mengalahkan kaos (ketidakteraturan) dan menguasai segala sesuatu. Perbedaan ini menjadi dasar bagi Timur dan Barat untuk memiliki peradaban yang berlandaskan pemikiran yin dan yang dan pemikiran baik dan jahat. Pada akhirnya, Timur dan Barat menempatkan pandangan alam semesta yang saling berlawanan di dasar peradaban masing-masing. Timur mengikuti prinsip saling melengkapi serta yin dan yang, yang berpusat pada perubahan antara wuji dan taiji, sedangkan Barat menjadikan prinsip pertentangan, prinsip baik dan jahat, antara kaos dan penciptaan, sebagai pusatnya.

Pemikiran filsafat alam Timur menerima prinsip bahwa “hidup kita ada batasnya, sedangkan pengetahuan tidak ada batasnya”. Orang yang menghormati prinsip yang tak tampak tidak akan condong pada satu pemikiran saja, entah agama atau teori metafisika. Ia tidak larut dalam mempertaruhkan segalanya pada suatu kebenaran dan berjuang demi menyebarkannya dalam pertarungan baik melawan jahat. Pandangan yang tampak di Barat menganggap bahwa Tuhan dapat menyampaikan kepada manusia, melalui para nabi, ujung pengetahuan, yaitu kebenaran mutlak. Manusia sampai pada ujung pengetahuan dan bersentuhan dengan kebenaran abadi. Pandangan yang tampak memiliki kekuatan untuk mencapai kebenaran mutlak, tetapi sekaligus mengandung bahaya yang mau tidak mau menyertainya: peringatan yang mengerikan bagi orang-orang yang tidak mengikutinya. Kekuatan dan bahaya yang menyertai yang tampak pada akhirnya memicu pemikiran baik dan jahat. Titik tolaknya adalah pemikiran baik dan jahat tentang orang yang percaya dan orang yang tidak percaya.

Seiring paradigma Barat menguasai dunia, kita menjumpai terlalu banyak contoh sistem, organisasi, dan kebiasaan Barat yang berpusat pada hukum. Untuk menyeimbangkan keadaan ini, marilah kita menelaah beberapa ciri peradaban Timur yang berpusat pada etika. Pada abad ke-4 SM, negara Qi menjalankan kebijakan untuk memanfaatkan budaya dan ilmu. Di Jixia, sebelah barat Linzi, ibu kota Qi, didirikan Akademi Jixia, lembaga ilmu milik negara yang pertama di dunia. Akademi ini dinilai sebagai pusat Seratus Aliran Pemikiran: para pemikir dari berbagai aliran, Taois, Konfusius, Legalis, Mohis, aliran Nama, aliran Yin-Yang, dan aliran diplomasi, berdebat di sana dengan dukungan negara. Akademi ini melahirkan pemikir seperti Xunzi dan Shen Dao. Di sana para pemikir mengembangkan filsafat etis seperti “segala sesuatu sama ukurannya” (萬物齊度), “menjaga kodrat tetap utuh dan keaslian tetap terpelihara” (全性保眞), “keinginan itu sedikit dan dangkal” (情慾寡淺), “dihina tanpa merasa terhina” (見侮不辱), dan “melarang serangan dan meletakkan senjata” (禁攻寢兵).72 Inilah sistem filsafat etika yang dapat dibandingkan dengan sistem filsafat Barat yang berpusat pada hukum.

Filsafat yang menempatkan etika di atas hukum mengandung gagasan bahwa tanpa-tindakan memperingatkan tindakan disengaja. Mengapa tanpa-tindakan memperingatkan tindakan disengaja? Kesalahan besar manusia yang hanya bersandar pada tindakan disengaja tampak terang-terangan pada zaman ideologi di Barat pada abad ke-20. Ini adalah gejala yang muncul ketika Barat tenggelam dalam yang tampak, berlawanan dengan filsafat dasar Dao, “dao ke dao fei chang dao” (Dao yang diungkapkan bukanlah Dao yang abadi), yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat memahami kebenaran mutlak. Pada zaman modern, dunia pemikiran Barat memaksimalkan kemampuan pikiran manusia dan sampai pada khayalan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran mutlak dengan pikirannya. Pernah ada masa ketika orang mengaku telah memahami kebenaran mutlak dan, dengan dalih mewujudkannya dalam sejarah, tanpa ragu melakukan kekejaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata: itulah ideologi fasisme dan komunisme. Mereka percaya bahwa jika kebenaran mutlak yang diungkapkan dalam ideologi mereka diwujudkan, utopia akan terwujud dalam masyarakat manusia. Darwinisme sosial berpengaruh menentukan. Mereka memandang bahwa meninggalkan etika dapat dibenarkan di jalan menuju utopia. Tetapi jika kebenaran mutlak yang mereka nyatakan ternyata tidak nyata, yang akhirnya tersisa sebagai jati diri ideologi itu hanyalah kekejaman yang mereka lakukan. Penilaian ini pada akhirnya ditentukan dengan berkaca pada kodrat manusia.

Jika kodrat manusia selalu baik, atau dapat dibuat baik, tanpa-tindakan tidak diperlukan. Cukuplah mengikuti kodrat manusia. Tetapi di dalam kodrat manusia ada keakuan yang kuat, yang berusaha memaksimalkan keuntungan sendiri. Keakuan itu tidak berubah. Keakuan manusia memakai pikiran semaksimal mungkin untuk memperkuat keyakinannya. Di dalam kodrat manusia ada kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Keakuan mudah berubah menjadi keserakahan dan selalu ada dalam masyarakat manusia. Pada zaman ideologi, Barat percaya pada evolusionisme yang menyatakan bahwa kodrat manusia dapat dibuat baik. Tetapi pemahaman Timur tentang kodrat manusia berbeda dari Barat. Evolusionisme yang hendak membuat kodrat manusia baik adalah kekeliruan besar yang hanya mungkin terjadi dalam sejarah modern Barat. Teori kodrat manusia di Timur memusatkan perhatian pada perubahan watak: apakah manusia akan menjadi peserta (xiaoren, 小人, harfiah “orang kecil”, pasangan pemimpin) yang membiarkan dirinya didorong keserakahan, ataukah menjadi pemimpin yang memegang etika. Bahwa hal itu sepenuhnya bergantung pada usaha tiap orang, itulah kodrat manusia sebagaimana dipahami Timur.

Etika tidak dibawa sejak lahir. Etika lahir dari belajar dan meneladani perilaku orang bijak. (Xunzi 23:5)

Peradaban Barat memasukkan kehendak dan hukum Tuhan ke dalam urusan manusia. Peradaban itu menilai perbuatan manusia dan tindakan disengaja sebagai baik atau jahat dengan tolok ukur taat atau tidak taat kepada Tuhan. Dalam Yudaisme, definisi tindakan disengaja sebagian besar ditetapkan oleh sikap terhadap Tuhan: menyembah berhala, tidak memegang janji dengan Tuhan, dan sebagainya. Dan karena aturan tentang semua perbuatan manusia telah ditetapkan dalam hukum Taurat, hukuman Tuhan yang luar biasa berat menanti tindakan disengaja. Karena itu, dalam peradaban Barat, perkataan dan perbuatan yang mengikuti kehendak Tuhan menjadi kebaikan, sedangkan perkataan dan perbuatan yang melanggarnya menjadi dosa, yaitu berbuat jahat, dan menjadi sasaran hukuman. “Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu. Kepada mereka yang membenci Aku, Aku membalaskan kesalahan nenek moyang kepada keturunannya sampai keturunan ketiga dan keempat” (Keluaran 20:5–6). Pada akhirnya, di Barat, perbuatan manusia melampaui wilayah manusia dan menjadi persoalan baik dan jahat, dosa, hukuman, dan penderitaan, di mana Tuhan campur tangan. Dengan kata lain, persoalan itu menjadi persoalan bukan etika, melainkan hukum.

Pentingnya hukum sudah menempati kedudukan yang kokoh dalam peradaban Yunani-Romawi. Dalam sejarah Barat, para pemimpin politik digambarkan sebagai “pemberi hukum” (Lawgiver). Solon (Solon, 638–558 SM), yang paling terkenal di antara Tujuh Orang Bijak Yunani, terutama dikenal sebagai “pemberi hukum”. Begitulah, di Barat, orang yang pandai membuat hukum dan membuat orang menaatinya menjadi pemimpin. Dalam peradaban Barat, dengan sendirinya lembaga dan hukum menjadi banyak, dan sanksi terhadap orang yang melanggarnya pun mau tidak mau bertambah banyak. Peran advokat menjadi besar. Sejak zaman Yunani-Romawi, di Barat sudah muncul advokat-advokat yang cakap. Demosthenes di Yunani dan Cicero di Roma sama-sama berasal dari kalangan advokat lalu menjadi negarawan terkenal. Cicero mendapat gelar “Bapak Tanah Air” karena menumpas persekongkolan Catilina. Demosthenes, tokoh Yunani yang menentang perluasan Makedonia, termasyhur di seluruh Yunani.

Inti teori kodrat manusia di Timur sepenuhnya terarah pada pembentukan “watak” setelah lahir, di dalam batas-batas kodrat manusia yang sudah ada. Kunci terpenting dalam pembentukan watak adalah etika. Dalam pembentukan watak, bukan hukum, melainkan etikalah yang berada di tempat teratas. Di Timur, untuk menyebut pemimpin masyarakat, orang tidak memakai ungkapan “pemberi hukum”. Untuk menyebut pemimpin masyarakat, Taoisme memakai istilah seperti orang bijak (聖人), dan Konfusianisme memakai istilah pemimpin (junzi, 君子).73 Orang bijak dan pemimpin bukanlah ahli hukum, melainkan “pemimpin yang memiliki etika”. Di Timur, advokat baru muncul setelah abad ke-19. Di Timur, yang menjadi pemimpin bukanlah orang yang menjalankan hukum, melainkan orang yang diakui karena etikanya.

3) Tolok ukur tindakan manusia: yin dan yang (陰陽) dari perubahan versus baik dan jahat (善惡) dari keberadaan

Pemikiran yin dan yang dan pemikiran baik dan jahat berperan sebagai tolok ukur tindakan dalam urusan manusia di Timur dan di Barat. Di Timur, dari sudut pandang bahwa segala sesuatu terus-menerus berubah, tindakan mengikuti filsafat perubahan yang menjunjung kelenturan dan kemampuan menyesuaikan diri. Tindakan perseorangan mendapat maknanya bukan secara mandiri, melainkan di dalam hubungan dan konteks. Tindakan itu berlandaskan saling ketergantungan dan keterkaitan. Tindakan manusia dipahami sebagai upaya menyeimbangkan yin (陰) dan yang (陽) di dalam alam dan masyarakat. Tindakan itu mengarah pada keseimbangan dan keselarasan.

Tindakan manusia memperlihatkan suatu arus dan mengikuti hukum alam. Inti alam sebagaimana dilihat Timur terletak pada perubahan yang terus-menerus terjadi. 74 “Segala makhluk memikul yin di punggungnya dan memeluk yang di dadanya.” “Ketika sinar matahari menerangi gunung, tampaklah terang (yang). Ketika sore tiba dan sinar matahari lenyap, gunung memperlihatkan gelap (yin).” Dalam Daodejing, segala makhluk di alam diungkapkan dengan yin dan yang.

Segala makhluk memikul yin di punggungnya dan memeluk yang di dadanya. (Daodejing, bab 42)

Dao, pusat segala sesuatu, ada kapan saja, di mana saja, bagi siapa saja. Dao adalah tatanan alam dan alam semesta. Apa pun yang dilakukan manusia, apa pun yang dipercayainya, ia tidak dapat tidak menjadi makhluk yang mengikuti Dao. Tuhan adalah pilihan, tetapi Dao adalah keniscayaan. Manusia tidak dapat menghindari Dao. Semua orang bersandar pada Dao dan hidup di dalamnya.

Dao langit berguna bagi semua dan tidak merugikan siapa pun. (Daodejing 81)

Karena Dao berlaku bagi semua manusia, ia tidak mencampuri urusan setiap orang satu per satu. Ia acuh tak acuh terhadap urusan manusia. Manusia sendiri yang memutuskan urusannya di dalam batas-batas Dao. Alam tidak mengubah hukumnya karena manusia. Urusan manusia diungkapkan bukan dengan pemikiran baik dan jahat, melainkan dengan pemikiran yin dan yang. Manusia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Ia bekerja keras pada musim panas untuk menyiapkan bahan makanan dan beristirahat pada musim dingin. Manusia yang tidak bekerja pada musim panas dan hanya bermain-main tidak dapat menghindari kekurangan pada musim dingin. Dao berada di seberang baik dan jahat dan berlaku bagi semua orang. Orang yang baik menikmati Dao, dan orang yang tidak baik mendapat perlindungannya. Dao tidak memiliki musuh. Tidak ada tempat bagi pemikiran baik dan jahat.

Dao adalah tempat bernaungnya segala makhluk. Dao adalah harta bagi orang yang baik, dan sekaligus perlindungan bagi orang yang tidak baik. (Daodejing, bab 62)

Peradaban Barat menguraikan urusan manusia dengan pemikiran baik dan jahat. Ketiadaan (無) diperlakukan sebagai keberadaan “kejahatan”. Keberadaan (有) mengandung makna “baik” karena telah mengusir kegelapan dan ketidakteraturan untuk membuat dunia yang terang dan teratur. Inilah awal pemikiran baik dan jahat. Pemikiran baik dan jahat yang tak berubah dilahirkan oleh filsafat keberadaan Barat. Keberadaan-keberadaan yang diciptakan dan tak berubah, karena terjalin dalam pemikiran baik dan jahat, mau tidak mau saling terpisah dan bertentangan.

Ungkapan bahwa Tuhan itu baik menimbulkan pertanyaan yang pada dasarnya tak terpecahkan: dari mana asal lawan kebaikan, yaitu kejahatan, dan mengapa ia ada? Dao mencakup terang dan gelap, yang baik dan yang tidak baik (不善). Dengan demikian, Dao menjauhkan diri dari ungkapan “afirmatif” tentang kebenaran mutlak. Hal ini terus-menerus ditekankan dalam Daodejing: Dao itu jernih seperti air sungai di lembah dan keruh seperti air berlumpur (Daodejing 15). Dao bercampur dengan terang dan bercampur dengan gelap, dan di dalam Dao keduanya menjadi satu (Daodejing 56). Konsep dasar tentang Dao ini tersebar luas dan mendalam dalam peradaban Timur. 75 Pendekatan Barat bertolak dari filsafat keberadaan dan memusatkan diri pada analisis dan pemilahan prinsip-prinsip “keberadaan”. Pendekatan Timur memusatkan diri pada upaya memahami prinsip alam dan urusan manusia dari “perubahan”. Bila perubahan menjadi pusat perhatian, hal itu mau tidak mau mengarah pada dualisme yang saling melengkapi. Bila suatu peradaban memiliki filsafat yin dan yang, sulit baginya menerapkan konsep baik dan jahat yang bersifat mutlak pada urusan manusia. Yin dan yang dari tanpa-tindakan adalah konsep yang menjelaskan prinsip perubahan alam; baik dan jahat dari tindakan disengaja adalah konsep yang menjelaskan penilaian moral manusia. Yin dan yang dari tanpa-tindakan bersifat netral nilai; baik dan jahat dari tindakan disengaja bersifat menilai.

Yin dan yang memiliki tolok ukur yang berarti keselarasan atau saling melengkapi. Yin dan yang berada dalam hubungan saling memengaruhi dan saling beralih tanpa henti. Seperti siang dan malam, keras dan lembut, hidup dan mati, segala yang ada menemukan keseimbangannya di dalam perubahan. Yin dan yang bukanlah wujud yang mutlak, melainkan ditentukan di dalam hubungan satu sama lain. Dalam keadaan tertentu, yin dapat beralih menjadi yang, dan yang menjadi yin. Yin dan yang saling bertentangan, tetapi tidak dapat ada tanpa yang lain. Keduanya bukan wujud yang berdiri sendiri, melainkan selalu membutuhkan pasangannya. Keselarasan tercapai di dalam pertentangan, dan perubahan itu sendirilah prinsip keteraturan. “Yin dan yang mencapai keselarasan (和) melalui qi (氣)” (Daodejing, bab 42). Yin dan yang berarti keselarasan, yaitu saling melengkapi. Ketika cahaya matahari menyinari gunung, gunung itu berubah rupa menjadi yin dan yang. Gelap dan terang berarti keselarasan dan saling melengkapi antara cahaya dan gunung. Laki-laki dan perempuan, raja dan menteri, ayah dan anak, musim panas dan musim dingin, depan dan belakang, tinggi dan rendah: dalam pemikiran Timur, semua ini berada dalam hubungan saling melengkapi yang selaras seperti yin dan yang.

Pemikiran baik dan jahat di Barat membedakan baik dan jahat dalam hubungan antarmanusia yang bersifat dua. Manusia terbagi menjadi “orang pilihan” dan “orang buangan”. Pembedaan baik dan jahat mau tidak mau mempertentangkan keduanya. Salah satu inti agama wahyu adalah pemikiran baik dan jahat. Pembedaan baik dan jahat adalah konsep yang tidak ada dalam filsafat Dao. Sebabnya, Dao memandang hakikat urusan manusia bukan pada baik dan jahat, melainkan pada yin dan yang. Di Barat, sebagai lawan konsep pemikiran baik dan jahat, muncul konsep-konsep seperti netralitas nilai, relativisme moral, dan nihilisme moral. Filsafat agama wahyu, Plato, dan Kant mengikuti analisis ini, dan analisis ini menjadi salah satu pemikiran inti peradaban Barat. Tetapi kita tidak dapat menerapkan konsep lawan yang berpusat pada Barat ini pada peradaban Timur untuk membandingkannya. Sebab pemikiran Timur dibangun di sekitar pandangan alam semesta yang lain, serta asal mula dan prinsip urusan manusia yang lain. Kita tidak dapat menyamakan ciri peradaban Timur dengan netralitas nilai, relativisme moral, atau nihilisme moral hanya karena berbeda dari Barat. Pemikiran yin dan yang mengikuti filsafat perubahan; ia adalah kerangka filosofis yang menjelaskan perubahan dan keselarasan segala yang ada. Di Barat, yang baik selalu baik, dan yang jahat selalu jahat. Tafsirannya dapat berbeda menurut zaman dan budaya, tetapi pembedaan hakikinya tidak berubah. Pemikiran baik dan jahat adalah tolok ukur moral dan etis yang menilai tindakan dan keberadaan manusia dari sudut tindakan disengaja. Ia dianggap sebagai nilai mutlak, yang tidak berubah secara relatif seperti yin dan yang.

Karena pemikiran Barat memilah urusan manusia di dalam batas-batas baik dan jahat, ia sulit memahami pemikiran Timur. Hanya dengan mengedepankan pemikiran yin dan yang dari Timur, kita dapat membandingkannya dengan pemikiran baik dan jahat dari Barat. Dalam prinsip urusan manusia, pemikiran yin dan yang memainkan peran yang persis berlawanan dengan pemikiran baik dan jahat. Pemikiran yin dan yang dan pemikiran baik dan jahat bekerja sebagai prinsip urusan manusia menurut dua pandangan dunia yang berbeda. Pemikiran yin dan yang berpusat pada konsep keselarasan dan saling melengkapi yang terkandung dalam filsafat alam. Pemikiran baik dan jahat berpusat pada konsep penilaian moral dan saling bertentangan yang terkandung dalam agama atau filsafat metafisika.

Pemikiran baik dan jahat, prinsip urusan manusia di Barat, berkaitan dengan kreasionisme. Penciptaan adalah firman Allah, dan penciptaan adalah keberadaan baik yang lahir dengan mengusir kegelapan, yang dianggap jahat. Pentingnya penciptaan yang berkaitan dengan pemikiran baik dan jahat juga tampak jelas dalam kisah-kisah “perjuangan melawan Kaos” (struggle against Chaos) yang terkait dengan mitos penciptaan di Barat dan Timur Tengah. “Keberadaan” yang sejati, seperti terang, dimulai ketika manusia menumpas makhluk-makhluk jahat yang muncul sebagai lambang kaos: monster laut, naga, dan ular raksasa. Penyair Yunani Hesiodos (Hesiod) juga memiliki pandangan alam semesta yang mirip dengan agama wahyu. Ia berpikir bahwa pada mulanya ada kaos, dan dari kaos itu lahirlah kosmos, yang berarti alam semesta dan keteraturan, bersama dewa-dewa. Anggapan dan proses bahwa keteraturan yang baik diciptakan dengan mengalahkan kaos yang jahat pada akhirnya membuat peradaban Barat menjalankan urusan manusia dengan pemikiran baik dan jahat. Dalam kitab Kejadian, yang langsung menyusul penciptaan manusia adalah kisah tentang baik dan jahat:

TUHAN Allah berfirman: “Janganlah engkau memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, sebab pada hari engkau memakannya, engkau pasti mati.”… Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Kamu sama sekali tidak akan mati. Allah tahu bahwa pada hari kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 2:17, 3:4)

Kemudian digambarkan Kain, anak pertama Adam dan Hawa, melakukan dosa, yaitu kejahatan, dengan membunuh Habel, anak kedua. Dengan ini, Tuhan membedakan yang baik dari yang jahat sejak awal. Tuhan berdiri di pihak kebaikan.

Musa berkata: “Perlihatkanlah kemuliaan-Mu kepadaku.” Tuhan menjawab: “Aku akan melewatkan segala kebaikan-Ku (善) di depanmu, dan Aku akan menyerukan nama ‘Yahweh’ di hadapanmu.” (Keluaran 33:18–19)

Pemikiran baik dan jahat ini tetap dibahas sebagai persoalan pokok dalam Alkitab Kristen.

Yesus berkata kepadanya: “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak ada seorang pun yang baik selain Allah saja.” (Markus 10:18)

Tuhan hanya bekerja bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Agama kebanyakan diwarisi dari orang tua sebelum ada pilihan pribadi. Ajaran agama menyebut pilihan itu sebagai rahmat (grace) Tuhan. Manusia yang percaya kepada Tuhan karena menerima rahmat mendapat perlindungan Tuhan yang kuat. Tuhan mengadakan mukjizat bagi mereka dan mengatur urusan mereka. Terutama, demi manusia yang percaya kepada-Nya, Tuhan mengajukan filsafat bahwa orang yang dianggap musuh oleh manusia juga menjadi musuh Tuhan. Masuklah pemikiran baik dan jahat.

Dengan demikian, dalam agama wahyu muncul konsep bahwa musuh itu jahat secara mutlak, yaitu pemikiran baik dan jahat. Pemikiran baik dan jahat adalah konsep yang tidak ada dalam filsafat Dao. Dao menjauhkan diri dari pemikiran baik dan jahat. Dao adalah “harta bagi orang yang baik, perlindungan bagi orang yang tidak baik”. Dao memilih pemikiran yin dan yang sebagai ganti pemikiran baik dan jahat. Tuhan adalah “harta bagi orang yang baik, musuh bagi orang-orang jahat”. Karena orang-orang beriman akan dihukum jika tidak mengikuti Tuhan, mereka harus taat kepada-Nya secara mutlak; karena itu warna baik dan jahat menjadi mutlak dan menguasai seluruh urusan manusia.

Aku akan menghukum dunia karena kejahatannya dan orang fasik karena kesalahannya; Aku akan menghentikan kecongkakan orang yang sombong dan merendahkan keangkuhan orang yang lalim. (Yesaya 13:11)

Dalam agama wahyu, baik dan jahat berubah menjadi persoalan hukum yang diperintahkan Tuhan. Tuhan menjadi Tuhan yang menghukum, yang memberi ganjaran kepada orang baik dan menghukum orang jahat. Karena hukuman atas baik dan jahat menjadi perintah hukum, dan ganjaran serta hukumannya keras, manusia menjadi takut pada “pemikiran baik dan jahat Tuhan”. Pemikiran baik dan jahat di Barat, yang berpusat pada dosa dan hukuman, bekerja atas manusia dengan menghukum orang yang berbuat jahat dan memberi ganjaran kepada orang yang baik. Dengan demikian, hukum yang menilai dosa dan hukuman menjadi penting. Tiga dari lima kitab Musa, yaitu Imamat, Bilangan, dan Ulangan, penuh dengan hukum dan hukuman yang tepat dan keras bagi semua orang. Pemikiran ini menguasai dunia pemikiran Barat selama seribu tahun Abad Pertengahan sampai awal Renaisans. Pemikiran baik dan jahat tetap menjadi inti peradaban Barat bahkan setelah munculnya deisme.

Sebaliknya, Daodejing sama sekali tidak mengungkapkan pembedaan baik dan jahat atau hukuman yang menyertainya. Urusan manusia mau tidak mau mengandung yang baik dan yang buruk. Pemikiran yin dan yang di Timur mengungkapkan urusan manusia bukan dengan baik dan jahat, melainkan dengan untung dan malang (吉凶). Untung dan malang tidak diturunkan Tuhan, melainkan dipilih manusia sendiri. Untung dan malang muncul secara alami pada orang yang mengikuti atau melanggar Dao, filsafat alam. Tidak ada yang abadi. Segala sesuatu senantiasa berubah. Dalam hidup, untung, yang baik, selalu berubah, dan malang, yang buruk, juga selalu berubah. Kesadaran tentang kehidupan seperti ini, dalam perjalanan urusan manusia, condong pada sikap pemikiran yin dan yang yang berlandaskan filsafat perubahan.

Peradaban Timur akrab dengan peribahasa “kuda orang tua di perbatasan” (塞翁之馬), yang mengajarkan bahwa untung dan malang dalam hidup tidak dapat diramalkan dengan gegabah. Di Timur, orang berpendapat bahwa untung-malang dan bahagia-celaka harus dinilai dengan melihat seluruh kehidupan; artinya, memandang kehidupan dengan filsafat perubahan, bukan dengan filsafat keberadaan. Karena itu, di Timur, untung dan malang ditentukan lebih oleh etika perubahan daripada oleh hukum keberadaan. Pemikiran Timur banyak memuat ajaran etika dalam bentuk nasihat atau anjuran, alih-alih perintah yang memaksa seperti hukum: “Pemimpin memegang Dao dan beruntung; peserta melanggar Dao dan malang” (Zhouyi, Xici Zhuan, bagian pertama, bab 3).

Pemikiran yin dan yang bertolak dari perbedaan fisik, waktu, dan biologis di alam, lalu lambat laun meluas hingga mencakup perbedaan estetis seperti indah dan buruk rupa, perbedaan moral seperti baik dan jahat, serta perbedaan sosial dan etis seperti sini dan sana, orang lain dan aku.76 Sebabnya, dalam yin dan yang, kedua konsep saling melengkapi, dan jika salah satu tidak ada, yang lain pun tidak dapat ada. Sebaliknya, dalam pemikiran baik dan jahat, kedua konsep saling bertentangan dan memiliki sifat saling berbenturan.

Karena pemikiran yin dan yang tidak dipakai di Barat, pemikiran ini hampir tidak berperan dalam pembahasan sejarah pemikiran atau filsafat dunia selama dua abad terakhir, yang dikuasai paradigma Barat. Tetapi bila kita ingat bahwa pemikiran manusia terdiri atas dua hal, pertentangan ala Barat dan saling melengkapi ala Timur, pemikiran ini dapat dipakai dalam berbagai bidang.77 Di dalam peradaban Timur, memandang Taoisme sebagai yin dan Konfusianisme sebagai yang adalah pembedaan yang sangat berguna. Demikian pula, dalam membandingkan peradaban Timur dan Barat, memandang peradaban Timur sebagai yin dan peradaban Barat sebagai yang adalah pembedaan yang sangat berguna dan tepat. Pembedaan seperti ini sulit ditemukan dalam konsep lain. Dao dan Tuhan memperlihatkan dengan jelas perbedaan yin dan yang. Yang tak tampak dari Dao dan yang tampak dari Tuhan memperlihatkan perbedaan yin dan yang: Dao menjunjung segi yang menerima dan feminin (陰), sedangkan Tuhan menjunjung segi yang aktif dan maskulin (陽).

Berkat dualisme yang saling melengkapi, dasar pemikiran yin dan yang, dualisme pertentangan, yaitu dualisme konfrontasi dan perjuangan, kehilangan kekuatannya secara filosofis dalam peradaban Timur. Dualisme yang saling melengkapi dan dualisme pertentangan memainkan peran penting dalam membentuk arus filsafat peradaban Timur dan Barat. Memang, bahkan dalam penyusunan logika, populernya penjelasan Timur dengan paralelisme (對句) dan penjelasan Barat dengan silogisme disebabkan oleh dualisme yang saling melengkapi dan dualisme pertentangan.78 Pemikiran yin dan yang di Timur menerima dualitas mendasar alam semesta, tetapi menekankan hubungan saling melengkapi dan saling bergantung antara kedua unsur itu. Akibatnya, dalam budaya dualisme saling melengkapi dan yin dan yang, etika politik dan ekonomi politik yang dijunjung Timur berkembang bersama terbentuknya negara-bangsa pada Zaman Negara-Negara Berperang sebelum Masehi. Sebaliknya, dualisme pertentangan dan pemikiran baik dan jahat di Barat, seiring maraknya agama wahyu, sampai pada penghormatan terhadap hukum, dan perkembangan metafisika menjadi arus utamanya.

Timur dengan pemikiran yin dan yangnya memandang alam dan masyarakat manusia sama-sama terbentuk dari interaksi yin dan yang. Yin dan yang tidak saling bertentangan secara mutlak, melainkan membentuk hubungan saling melengkapi dan merupakan prinsip yang menjelaskan perubahan dan keselarasan. Siang dan malam, laki-laki dan perempuan, keras dan lembut adalah contoh yang baik. Yang ditekankan bukanlah penilaian seperti baik dan jahat, melainkan keseimbangan dan peredaran keberadaan. Yin dan yang memperlihatkan pandangan dunia yang relasional dan menyatu: “dua, tetapi satu”. Pandangan dunia yang relasional dan menyatu ini berada pada tataran yang berbeda dari dualisme atau monisme yang dianut sistem filsafat Barat.

Barat membangun peradaban yang memahami dunia alam dan manusia sebagai pertentangan nilai-nilai moral. Barat menegaskan nilai-nilai yang mutlak dan saling bertentangan, yang dalam peradaban Yunani dan agama wahyu tampil sebagai pemikiran baik dan jahat yang menekankan segi etis. Perbuatan baik dan dosa, Tuhan dan setan, surga dan neraka adalah contoh yang baik. Hal ini menegakkan dalam peradaban Barat sistem filsafat di mana, dengan ditekankannya kehendak bebas dan tanggung jawab manusia, pilihan antara baik dan jahat menjadi persoalan pokok keberadaan manusia. Pemikiran yin dan yang menjunjung hubungan dan keselarasan lebih daripada penilaian; pemikiran baik dan jahat menjunjung pilihan moral dan tanggung jawab manusia. Karena itu, Timur menekankan keteraturan dan keseimbangan masyarakat, sedangkan Barat menekankan penilaian etis dan keselamatan perseorangan.

Daya tahan pemikiran yin dan yang versus kekuatan dan bahaya pemikiran baik dan jahat

Apa beda pemikiran yin dan yang dengan pemikiran baik dan jahat? Pemikiran baik dan jahat memberikan pengaruh yang kuat kepada manusia. Masalahnya, pemikiran baik dan jahat disertai bahaya: permusuhan antara orang beriman dan orang tak beriman, dan permusuhan antara orang-orang yang percaya kepada tuhan yang berbeda. Tuhan yang dipilih setiap orang umumnya diwarisi dari orang tuanya. Di bumi ada banyak tuhan sekaligus. Karena setiap tuhan bersifat mutlak, tuhan-tuhan atau nabi-nabi agama wahyu sulit hidup berdampingan dengan selaras. Tuhan menubuatkan hukuman yang paling berat bagi orang-orang yang percaya kepada tuhan lain: hukuman baik dan jahat yang berlanjut sampai keturunan kesepuluh. Perpecahan baik dan jahat ini bahkan muncul di antara aliran-aliran yang percaya kepada Tuhan yang sama. Permusuhan yang keras antaraliran kadang-kadang tampak melampaui permusuhan terhadap tuhan lain. Dalam Kristen, pertikaian antara Katolik dan Protestan menguasai sejarah awal zaman modern di Barat.

Dao, yang menjauhi antropomorfisme, sekilas tidak memiliki perasaan seperti manusia dan menghindari campur tangan, berbeda dari Tuhan yang dipersonifikasikan; karena itu pengaruhnya pada manusia tidak langsung. Tetapi tidak ada Dao lain selain Dao, dan tidak ada aliran-aliran di dalam Dao. Semua manusia tanpa kecuali mengikuti satu Dao. Dao memiliki daya tahan. Dalam peradaban Timur, alam semesta senantiasa berubah, dan perubahan itu beralih seperti yin dan yang dan mencapai keselarasan. Di dasarnya ada satu hal, yaitu Dao. Dao tidak membedakan baik dan jahat.

Seberapa jauhkah beda antara baik dan jahat? (Daodejing, bab 20)

Dalam urusan manusia, pemikiran yin dan yang memakai tolok ukur bukan pembedaan mutlak baik dan jahat, melainkan suka dan tidak suka (好-不好). Pemikiran ini memandang bahwa baik dan jahat pada akhirnya berubah, seperti suka dan tidak suka. Daodejing dan kitab-kitab klasik Konfusianisme memecahkan persoalan baik dan jahat dengan cara yang berbeda dari Barat. Keduanya menegakkan pemikiran bahwa baik dan jahat adalah milik manusia dan tidak ada hubungannya dengan alam atau Dao. Di Timur, Dao, dengan mendekati manusia apa adanya seperti alam, menanamkan bukan pemikiran baik dan jahat, melainkan filsafat perubahan yang ada di alam. Gunung mengungkapkan terang dan gelap yang berubah menurut waktu. Terang dan gelap tidak dapat berubah menjadi baik dan jahat. Melalui pemikiran yin dan yang, filsafat perubahan menjadi akar pemikiran Timur. Sementara Tuhan Barat sejak awal berpihak pada kebaikan, Dao Timur melampaui baik dan jahat dan memilih seberangnya. Peradaban Barat menjadikan pemikiran baik dan jahat, dan peradaban Timur menjadikan pemikiran yin dan yang, sebagai pusat pemikirannya.

Unsur penting dalam pemikiran baik dan jahat adalah konsep dosa dan hukuman. Orang yang baik menerima ganjaran dari Tuhan, dan orang yang jahat, karena berdosa, menerima hukuman dari Tuhan. Di Timur pun ada yang mirip dengan konsep dosa dan hukuman, seperti tampak dalam ungkapan “berdosa terhadap langit” atau “menerima hukuman langit”. Namun, Dao dalam Taoisme berada di seberang baik dan jahat; karena orang yang baik mengikuti Dao, hasilnya Dao menyertai orang yang baik. Dalam alur yang sama, Dao hanya mendatangkan kebaikan; orang yang tidak baik, karena tidak mengikuti Dao akibat pilihan dan tindakannya sendiri, “mendatangkan celaka atas dirinya sendiri”. Bukan Dao yang menjatuhkan hukuman.

Filsafat Dao tidak memercayai ganjaran dan hukuman dari langit. Filsafat ini juga tidak memercayai teori resonansi antara langit dan manusia (天人感應), dasar mistisisme, yang menyatakan bahwa perbuatan manusia menggugah langit dan menggerakkannya.79 Pepatah “langit menolong orang yang menolong dirinya sendiri” berarti bahwa bukan Tuhan, melainkan manusia sendirilah yang harus menolong dirinya. Inilah filsafat bahwa langit tidak memberi ganjaran kepada orang yang baik dan tidak menghukum orang yang tidak baik; langit itu tetap, dan manusia hanya mendatangkan untung atau malang atas dirinya sendiri melalui pilihan dan tindakannya. Menurut pemikiran ini, baik dan jahat berada dalam lingkup manusia, dan prinsip alam, yaitu Dao, berada di seberangnya.

Apakah damai dan kacaunya dunia ditentukan oleh langit? Gerak matahari, bulan, dan bintang-bintang di langit sama saja pada masa raja bijak Yu dan pada masa tiran Jie. Dengan gerak langit yang sama, Yu mendatangkan damai dan Jie mendatangkan kekacauan. Karena itu, damai dan kacaunya dunia tidak ditentukan oleh langit. (Xunzi 17-5)

Pemikiran yin dan yang mengikuti hukum alam, sedangkan pemikiran baik dan jahat mengikuti agama wahyu atau penilaian moral. Kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, dan keadilan adalah kebaikan; perbudakan, diskriminasi, kebencian, dan ketidakadilan adalah kejahatan. Baik dan jahat mengikuti struktur pertentangan, di mana mengalahkan kejahatan menjadi tujuan moral dan perwujudan keadilan sosial. Dalam agama, pemikiran ini terkait dengan keselamatan dan mengerahkan kekuatan yang lebih besar lagi, yaitu kekuatan untuk mengikuti kehendak Tuhan. Dibandingkan dengan pemikiran yin dan yang, pemikiran baik dan jahat dapat memberi manusia kekuatan yang besar, tetapi mengandung bahaya condong ke satu sisi dan tidak dapat bertahan lama. Sebaliknya, dalam tindakan manusia, pemikiran yin dan yang kurang kuat dibandingkan pemikiran baik dan jahat, tetapi dapat bertahan.

Dengan munculnya deisme dan kemajuan ilmu pengetahuan, jumlah orang di Barat yang percaya bahwa Tuhan mengadakan mukjizat atau mengatur urusan manusia melalui antropomorfisme makin berkurang. Tetapi pentingnya agama wahyu tidak lenyap hanya karena mukjizat atau antropomorfisme yang dinyatakannya menjadi masalah. Sebab Tuhan agama wahyu tetap memainkan peran penting pada tataran naluri psikologis untuk mempertahankan diri: perasaan bahwa Tuhan yang mutlak melindungi kita. Tindakan manusia sangat dipengaruhi bukan oleh pikiran, melainkan oleh kejiwaan. Secara kejiwaan, manusia membutuhkan Tuhan yang melindunginya dan menjawab doanya.

Secara kejiwaan, manusia memiliki naluri yang dalam untuk melindungi dirinya. Untuk itu manusia menciptakan sosok yang disebut Tuhan. Karena itu, manusia menggantungkan perlindungan dan keamanannya kepada Tuhan, seperti anak kecil bergantung kepada orang tuanya.80

Bila dianalisis secara filosofis, untuk menjalani hidup, pemikiran yin dan yang tampak lebih rasional dan lebih meyakinkan daripada pemikiran baik dan jahat, karena memiliki daya tahan. Tetapi dalam kenyataan, pemikiran baik dan jahat tidak lenyap dan mau tidak mau tetap berguna dalam kehidupan. Ia tidak bertahan lama, tetapi kekuatannya sangat menarik bagi kodrat manusia.

Baik dan jahat dinilai menurut apakah keduanya membantu atau menghambat pemeliharaan keberadaan kita; dengan kata lain, menurut apakah keduanya menambah atau mengurangi, mendorong atau menghilangkan daya tindak kita. 81

Sebabnya, pada akhirnya manusia dikendalikan bukan oleh pikiran, melainkan oleh kodrat manusia yang memadukan naluri dan pikiran. Pemikiran baik dan jahat, dengan menekankan hukuman atas kejahatan, dapat berguna bagi kelangsungan hidup. Pemikiran baik dan jahat, “orang jahat akan dihukum sampai keturunan yang ketiga dan keempat”, dipakai dalam kenyataan karena dalam keadaan yang langsung mengancam kelangsungan hidup, konsep kejahatan dapat dipakai sebagai alat yang kuat untuk menghadapi musuh demi “mempertahankan diri”.

Seni Perang Sunzi dengan pemikiran yin dan yang versus Clausewitz dengan pemikiran baik dan jahat

Sifat peradaban Barat yang bertentangan dan menyingkirkan, memisahkan dan berjuang, serta sebaliknya sifat peradaban Timur yang rukun dan merangkul, selaras dan berdamai, ditemukan di mana-mana dalam agama, pemikiran, dan filsafat Timur dan Barat, tetapi tampak lebih jelas lagi dalam persoalan perang dan damai, yang menentukan antara perjuangan dan hidup berdampingan.82 Hal ini tampak dalam dua puncak pemikiran tentang perang di Timur dan Barat: Seni Perang karya Sunzi dan Tentang Perang karya Clausewitz. Sunzi menerapkan pemikiran Timur dan mengikuti pemikiran yin dan yang; Clausewitz mengikuti pemikiran baik dan jahat. Sunzi mendefinisikan kemenangan tertinggi sebagai kemenangan tanpa menghancurkan musuh; Clausewitz mendefinisikannya sebagai penghancuran musuh secara total. Demi kemenangan tertinggi, Sunzi menjunjung perluasan shi, sedangkan Clausewitz menjunjung pengejaran serangan dan kemenangan.

Walaupun membahas pokok yang sama, karena pengaruh lingkup budaya tempat mereka hidup, Sunzi memperlihatkan pandangan jangka panjang yang memperhitungkan bahwa musuh, mengikuti yin dan yang, dapat menjadi kawan, sedangkan Clausewitz memperlihatkan pandangan jangka pendek: musuh itu jahat, maka hancurkanlah sepenuhnya. Dilihat dari sisi ini, Seni Perang bersifat strategis, sedangkan Tentang Perang karya Clausewitz bersifat taktis. Perbedaan strategis dan taktis dalam tulisan Sunzi dan Clausewitz tampak dalam definisi masing-masing tentang perang.

Sunzi: Perang adalah urusan besar negara. Di sanalah hidup dan mati rakyat serta jaya dan runtuhnya negara dipertaruhkan. Perang harus ditimbang dengan saksama.83

Clausewitz: Perang adalah tindakan kekerasan untuk memaksa musuh mengikuti kehendak kita.84

Tentang Perang karya Clausewitz menjadikan penyerahan total musuh sebagai tujuan tertinggi. Seni Perang, yang ditulis pada abad ke-5 SM pada Zaman Musim Semi dan Musim Gugur serta Zaman Negara-Negara Berperang, dengan jelas menyatakan bahwa strategi terbaik adalah menangkap musuh dalam keadaan utuh, dan memandang kemenangan dengan menghancurkan musuh sebagai sarana terpaksa.

Pada umumnya, dalam perang, cara terbaik adalah menundukkan negeri musuh dalam keadaan utuh; menghancurkannya untuk merebutnya adalah cara kedua. Yang terbaik adalah menundukkan pasukan musuh dalam keadaan utuh; menghancurkannya untuk merebutnya adalah cara kedua.85

Dalam cara berpikir seperti ini, sarana tanpa kekerasan, yaitu tipu muslihat, mau tidak mau lebih diutamakan daripada penggunaan kekuatan secara terang-terangan. Sebagaimana dikatakan Laozi, senjata yang tidak ada lebih penting daripada tombak dan pedang. Clausewitz berpendapat bahwa tipu muslihat bukanlah strategi yang dapat diambil dalam perang yang sungguh-sungguh. Clausewitz memandang penghancuran musuh sebagai kemenangan tertinggi.

Sunzi: Seluruh strategi adalah tipu muslihat.86

Clausewitz: Penghancuran pasukan musuh adalah sarana yang paling efektif dan paling unggul; dibandingkan dengannya, sarana-sarana lain kehilangan arti pentingnya.87

Tipu muslihat dan serangan dengan siasat (謀攻), yang dijunjung Sunzi sebagai strategi, oleh Clausewitz, seorang Jerman yang kaku dan khas, meminjam ungkapan Nietzsche tentang Leibniz dan Kant, diperlakukan sebagai penipuan dan tidak diberi arti penting. Segala diplomasi dan siasat politik yang dipakai Bismarck beberapa puluh tahun kemudian untuk mempersatukan Jerman akan sangat dihargai Sunzi, tetapi akan dianggap Clausewitz sebagai sandiwara penipuan. Bagi Clausewitz, ke mana pun akhir perang itu bermuara, asal menang sudah cukup; dalam arti ini, ia menjadikan taktik seorang panglima pasukan di medan tempur sebagai seluruh teori perang.88

Karena Sunzi orang Timur, bahkan dalam filsafatnya tentang perjuangan ia memasukkan konsep dasar Timur, yaitu keselarasan. Ia memandang musuh bukan sebagai sasaran yang harus dihancurkan, melainkan sebagai pihak yang harus dirangkul dan diselaraskan. Orang Barat tidak dapat berkembang lebih jauh daripada anggapan bahwa siapa pun yang bukan kawanku adalah musuhku, atau paling-paling bahwa siapa pun yang bukan musuhku adalah kawanku. Tetapi menurut Sunzi, hakikat pemikiran Timur, “Gunung Tai tidak menolak segenggam tanah pun”, harus diterapkan bahkan dalam perang.

Di zaman nuklir sekarang, ketika penggunaan senjata nuklir berarti kehancuran bersama, teori perang Clausewitz mau tidak mau kehilangan nilainya. Sebab kemenangan total tiga tahap yang dianjurkannya, yaitu “penghancuran total kekuatan militer musuh, pendudukan wilayah musuh, dan penghancuran kehendak musuh”, tidak lagi mungkin diwujudkan. Berakhirnya perang, pelucutan senjata musuh, dan kemenangan dalam arti Clausewitz adalah penghancuran musuh secara tuntas: membuat musuh tidak mampu bangkit lagi, seperti yang hendak dilakukan Sekutu terhadap Jerman dalam Perang Dunia I dan II.

Ketika membahas rencana perang, Clausewitz berbicara tentang melucuti senjata suatu negara. Apa artinya? Pelucutan senjata musuh harus mencakup tiga unsur penting: angkatan bersenjata, wilayah, dan kehendak musuh.

Pertama-tama “angkatan bersenjata” harus dihancurkan… Lalu “wilayah” harus diduduki, karena dari wilayah itu dapat lahir angkatan bersenjata baru. Tetapi sekalipun kedua hal ini telah terlaksana, belum berarti bahwa perang telah berhenti. Selama “kehendak” musuh belum dipatahkan, yaitu selama pemerintahnya dan sekutu-sekutunya belum menandatangani perjanjian damai, atau rakyatnya belum tunduk, tindakan permusuhan dan ketegangan akan terus berlangsung, sehingga perang tidak dapat dikatakan telah berhenti.89

Berlawanan dengan pemikiran Clausewitz ini, dalam Seni Perang justru mematahkan niat musuh untuk berperang adalah siasat terbaik, dan jika kehendaknya saja dapat dipatahkan, itu sudah cukup. Penghancuran kekuatan militer musuh hanya dipertimbangkan sebagai upaya terakhir yang terpaksa ditempuh. Pada Clausewitz, yang menyatakan penghancuran kekuatan militer sebagai syarat mutlak kemenangan dan mendefinisikan perang sebagai tindakan kekerasan semata, teori perangnya, dibandingkan teori perang strategis Sunzi, mau tidak mau harus dipandang jelas bersifat taktis.

Karena itu, bertempur seratus kali dan menang seratus kali sama sekali bukanlah cara yang terbaik; menundukkan musuh tanpa bertempur, itulah cara yang terbaik. Maka siasat yang paling baik adalah mematahkan niat musuh untuk berperang; berikutnya adalah memutuskan persekutuan musuh untuk mengucilkannya; berikutnya adalah menghajar pasukan musuh; dan siasat yang paling buruk adalah menyerang benteng musuh.90

Perbedaan mendasar antara Sunzi dan Clausewitz ini disebabkan oleh hal berikut: Sunzi tidak pernah kehilangan konsep keselarasan strategis, yaitu bahwa musuh pun pada akhirnya adalah pihakku dan dapat menjadi sekutuku dalam menghadapi musuh lain, sedangkan Clausewitz memasukkan begitu saja ke dalam teori perangnya konsep dasar khas budaya Barat yang memisahkan dan berjuang, yaitu bahwa musuh selalu musuh dan harus dihancurkan secara total dan tuntas.

Kekeliruan Clausewitz telah terbukti dengan jelas melalui Perang Dunia I dan II. Seandainya Amerika Serikat, yang memegang prakarsa dalam kedua perang itu, menghadapinya dengan konsep Sunzi dari Tiongkok alih-alih konsep musuh ala Clausewitz, Amerika tidak akan memaksakan “penyerahan tanpa syarat” kepada Jerman dan Jepang, dan tidak akan membuat begitu banyak konsesi di Yalta demi masuknya Uni Soviet ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bahkan sebelum itu, yang terjadi bukanlah pendaratan di Normandia, melainkan pendaratan di Balkan. Konon Lenin mewujudkan pemikiran Marx dengan strategi Clausewitz. Komunisme, yang mendorong pemisahan dan perjuangan sampai ke titik ekstrem, dan teori perang Clausewitz cocok satu sama lain karena keduanya berakar sama.91

Jaminan perdamaian melalui lembaga, yang dipelopori Amerika Serikat dengan politik luar negeri yang sangat diwarnai idealisme, jelas telah gagal. Sebabnya, musuh kemarin menjadi kawan hari ini, dan kawan kemarin menjadi musuh hari ini. Jepang dan Italia, kawan yang bersama-sama merancang dan mendirikan Liga Bangsa-Bangsa, sepuluh tahun lebih kemudian menjadi musuh, justru sebagai pihak yang menghancurkan Liga itu; Uni Soviet, kawan yang bersama Amerika Serikat ikut mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Jepang dan Jerman sebagai musuh yang diandaikan, beberapa tahun kemudian menjadi musuh; dan Jepang serta Jerman, musuh kemarin, menjadi kawan Amerika Serikat hari ini. Dan sekarang, setelah Perang Dingin berakhir, semua itu kehilangan maknanya.

Bila kita menerapkan dualisme pertentangan yang berakar dalam pada budaya Barat, cara menjaga perdamaian dengan melenyapkan musuh dapat dipandang sebagai cara realis yang hendak menyelesaikan masalah seketika, sedangkan cara menjaga perdamaian melalui lembaga dapat dipandang sebagai cara idealis. Budaya Barat, yang memisahkan manusia dan alam, engkau dan aku, naluri dan pikiran, tampaknya hanya memiliki cara dualistis atau dikotomis, dan tampaknya, dalam persoalan perang dan damai pun, memusatkan diri pada pemikiran baik dan jahat.

Namun, sejarah umat manusia memperlihatkan bahwa cara realis Barat maupun cara idealis Barat hanyalah siasat untuk memastikan kemenangan, dan tidak pernah menjadi cara untuk sungguh-sungguh mengejar perdamaian. Sikap kejiwaan Barat yang mengejar kemenangan alih-alih perdamaian hanya dapat dijelaskan sebagaimana digambarkan Spinoza: “kebodohan yang lebih puas karena telah menang dan menghajar musuh daripada memikirkan apa yang telah dicapai melalui perang”. 92 Sikap Barat ini berlanjut selama ratusan tahun setelah zaman Spinoza dan mengkristal dalam Tentang Perang karya Clausewitz. Perang Vietnam adalah bukti yang menentukan. Sebaliknya, pada Sunzi, pentingnya memahami tujuan perang terus-menerus ditekankan, lebih daripada kemenangan dalam perang. Sunzi berulang kali menjelaskan bahwa tujuan perang secara lahiriah adalah kemenangan, tetapi pada akhirnya adalah memperoleh keuntungan terbesar.

Dalam perang, sekalipun ada yang kurang sempurna, kita harus bergerak cepat dan menyelesaikannya dengan cepat. Belum pernah ada negara yang beruntung dari perang yang berlarut-larut, betapapun cermat perang itu dijalankan. Karena itu, orang yang tidak sungguh-sungguh memahami kerugian perang tidak dapat sepenuhnya memahami keuntungannya.93

Bagi Clausewitz, kemenangan dalam perang berarti kemenangan di medan tempur. Memang, dengan ungkapan “perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain”, ia menegaskan bahwa perang adalah salah satu cara mencapai tujuan dan harus tunduk pada tujuan politik. 94 Tetapi Clausewitz tidak memberikan penjelasan konkret tentang makna tujuan akhir perang, yaitu tujuan politik, seolah-olah tujuan itu pun berarti kemenangan di medan tempur; karena itu tafsirannya beragam.95 Memang, pernyataan “perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain” dipakai militer Jerman semasa Perang Dunia I untuk merebut kendali dari para politisi sipil.96

Karena Clausewitz memandang tujuan perang semata-mata sebagai kemenangan, ia tidak peduli kemenangan macam apa itu. Sunzi menyatakan dalam bab 2 Seni Perang, “Tentang Operasi” (作戰篇), bahwa mengerahkan sarana perang yang akan menghancurkan dan menguras lawan dan diri sendiri sekaligus bukanlah cara berperang yang benar; sebaliknya, Clausewitz memandang pertimbangan seperti itu sebagai sikap filantropis yang remeh, sikap yang menjadi hambatan tak perlu yang terutama harus dihindari dalam perang.

Para filantrop mungkin dengan mudah membayangkan bahwa ada cara yang cerdik untuk menaklukkan dan melucuti musuh tanpa menumpahkan banyak darah, dan bahwa inilah seni perang yang sejati. Betapapun hal itu diharapkan, itu adalah pikiran keliru yang harus dibuang. Dalam urusan yang begitu berbahaya seperti perang, kekeliruan yang lahir dari sikap baik hati justru merupakan kesalahan yang paling buruk. Menggunakan kekuatan fisik sepenuhnya berarti juga menggunakan kecerdasan sepenuhnya; karena itu, orang yang menggunakan kekuatan tanpa ampun dan tidak menghindari pertumpahan darah apa pun akan menang atas musuh yang ragu-ragu melakukannya. Musuh pun pasti menggunakan hukum yang sama, dan keduanya akan sama-sama bergerak menuju titik ekstrem; hanya batas yang dimiliki lawanlah yang menentukan sampai di mana titik ekstrem itu.97

Zaman kita dapat dipandang sebagai zaman Seni Perang. Di zaman senjata nuklir, ketika kehancuran musuh berarti kehancuran diri sendiri, teori perang Clausewitz menjadi tidak berguna. Sunzi, 2.500 tahun yang lalu, seolah-olah telah melihat abad ke-20 tempat kita hidup, mengatakan hal berikut. Persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada abad ke-21 akan berakhir bukan dengan serangan dan kemenangan ala Barat, melainkan dengan perluasan shi ala Timur.

Ambillah jalan memutar dan pancinglah musuh seolah-olah engkau memberinya keuntungan (利). Dengan cara ini engkau dapat berangkat lebih lambat dan tiba lebih dulu. Hanya orang yang mampu memilih strategi seperti ini yang memahami perbedaan antara strategi langsung dan strategi tidak langsung. 98

Perbedaan antara strategi langsung dan strategi tidak langsung bergantung pada cara memanfaatkan penumpukan shi. Seni Perang terutama berguna bagi strategi jangka panjang yang memikirkan penyelenggaraan negara, alih-alih untuk memutuskan konfrontasi atau hasil yang segera; dan dalam keadaan seperti itu, yang pada akhirnya menang adalah memperluas shi dengan memanfaatkan strategi langsung maupun strategi tidak langsung.

Permainan go, perluasan shi (勢) versus catur, serangan dan kemenangan

Sebagaimana dijelaskan Clausewitz dan Seni Perang, dalam persaingan dengan lawan, Barat mengincar serangan dan kemenangan, sedangkan Timur memusatkan diri pada perluasan shi. Timur memiliki sistem filsafat bahwa kemenangan akhir adalah kemenangan relatif, yang pada akhirnya dengan sendirinya jatuh kepada pihak yang memperbesar shi-nya, bukan kepada pihak yang terus bertempur dengan langsung mengincar kemenangan. Filsafat ini tampak dalam permainan go di Timur. Filsafat ini sangat berbeda dari catur, yang bertujuan menang, dan dari filsafat atau sikap Barat dalam menghadapi lawan.

Dalam catur, tujuannya jelas, yaitu kemenangan yang telak. Hasil permainan catur adalah kemenangan total atau kekalahan. Permainan catur berlangsung sebagai rangkaian benturan langsung di papan catur. Go mengincar kemenangan relatif; permainan go berlangsung di seluruh papan, tetapi tujuannya adalah memperluas ruang pilihan pihak sendiri dan mempersempit ruang pilihan lawan. Tujuan go bukanlah kemenangan dalam satu permainan, melainkan terus mempertahankan keunggulan strategis. 99

Keunggulan strategis ditentukan oleh arus shi. Timur menekankan pentingnya shi dalam arus alam dan urusan manusia karena memandang bahwa tanpa mengetahui keseluruhan, kita tidak dapat memahami keadaan hanya dari bagian-bagiannya. Secara filosofis, Timur mengikuti pemikiran induktif, yang menyimpulkan keadaan masa depan yang tak dapat diketahui di tengah perubahan yang terus berlangsung. Maksudnya adalah memahami kekuatan shi yang berubah dan mementingkan pengaruhnya pada hasil akhir. Filsafat keberadaan Barat, yang menjunjung lembaga dan model, melahirkan kecenderungan filosofis untuk memahami keseluruhan dengan melihat bagian-bagiannya. Sistem keberadaan Barat berkaitan dengan sistem pemikiran deduktif.

Pentingnya shi (勢) ditekankan oleh pemikir Tiongkok Shen Dao (愼到, 395–315 SM). Shen Dao menyatakan: “Naga pun, bila kehilangan awannya (勢), menjadi sama dengan cacing tanah.” Ia menekankan pentingnya shi, arus strategis tersembunyi dalam masyarakat manusia yang tidak tampak dari luar. Misalnya, Jenghis Khan lahir di Mongolia abad ke-13, menemukan shi tersembunyi yang dimiliki Mongolia, menghimpunnya, lalu menjadi naga yang menguasai dunia. Tetapi seandainya ia lahir di Mongolia abad ke-21, apa pun yang dilakukannya, ia tidak akan menjadi naga dunia. Sebabnya, shi tersembunyi abad ke-13 tempat Jenghis Khan hidup, yaitu pasukan berkuda Mongol dan busur komposit, tidak ada lagi pada abad ke-21.

Shen Dao adalah filsuf dari negara Zhao pada Zaman Musim Semi dan Musim Gugur serta Zaman Negara-Negara Berperang, yang berkiprah di Akademi Jixia (稷下學宮) di negara Qi. Ia menghimpun pemikiran aliran Taois (道家) dan aliran Legalis (法家), lalu mengembangkan filsafat realis yang menjunjung shi kekuasaan (權勢) dan shi keadaan (形勢). Karena shi kekuasaan dan shi keadaan adalah kekuatan hakiki dalam masyarakat manusia dan politik, ia menilai bahwa yang terpenting bukanlah moral atau etika, melainkan kondisi lahiriah dan arus kekuasaan. Shi kekuasaan adalah konsep yang memadukan wewenang dan kekuatan; itulah sumber kuasa yang dipakai penguasa untuk mengendalikan menteri dan rakyatnya, dan ia memandang bahwa hanya bila penguasa memilikinya, hukum dan lembaga dapat berjalan dengan semestinya. Ia menyatakan bahwa bukan kekuatan moral atau etika, melainkan kekuasaan itu sendirilah kekuatan nyata yang menjaga ketertiban. Shi keadaan berarti arus segala hal atau keadaan, kondisi zaman, dan susunan kekuatan; ia memandangnya sebagai kekuatan alam dan sosial yang tidak dapat dilawan. Ia menekankan bahwa moral dan etika pun tak berdaya bila melawan shi keadaan, dan bahwa hanya dengan menyesuaikan diri dengannya orang dapat memperoleh keamanan dan keberhasilan. Karyanya, Shenzi (愼子), terdiri atas 42 bab, tetapi kini hanya tujuh bab yang tersisa; pemikirannya tentang shi (勢) diwarisi Han Feizi (280–233 SM). Han Feizi sangat menghargai pemikiran realis Shen Dao dan merangkum filsafat pemerintahannya sendiri dalam tiga gagasan: hukum (法), shu (術), dan shi (勢).

Akhir-akhir ini para pemikir Barat pun mulai menaruh minat pada gagasan filosofis Timur tentang shi (勢). Di antara kata-kata Barat, “potensi” (potential), yang berarti kemampuan terpendam, kemungkinan, dan kekuatan tersembunyi, adalah padanan yang paling dekat. Kata-kata Barat seperti “tren” (trend) juga menunjukkan kecenderungan atau arus, tetapi kata itu menunjuk pada sesuatu yang sudah ada dan sudah diketahui, bukan, seperti shi, kekuatan tersembunyi yang baru akan muncul kelak. Mantan Menteri Luar Negeri Kissinger, yang memelopori perbaikan hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok, memperlihatkan pemahaman yang luar biasa tentang Tiongkok dan peradaban Timur. Ia menjelaskan perbedaan para pemimpin Tiongkok dari Barat dalam cara membaca keadaan strategis dan menetapkan tujuan. Ia menganalisis bahwa pemikiran filosofis kedua dunia, Timur yang mengikuti shi yang tersembunyi dalam perubahan dan Barat yang mengikuti tindakan segera yang lahir dari filsafat keberadaan, mau tidak mau berbeda sampai ke akarnya:

Para pemimpin Tiongkok memandang peta strategis sebagai satu arus yang menyeluruh: baik dan jahat, dekat dan jauh, kuat dan lemah, masa lalu dan masa kini, semuanya bersinambung. Pandangan sejarah Barat memperlakukan arus sejarah sebagai proses kemenangan total atas kejahatan atau keterbelakangan, tetapi pandangan sejarah tradisional Tiongkok berbeda…. Tiongkok mencari pilihan terbaik dalam arus sejarah pada keselarasan. Strategi dan kecakapan politik dipusatkan pada upaya mewujudkan hidup berdampingan yang penuh persaingan dengan pihak lawan. Tujuannya adalah memperkuat shi (勢) potensial, atau kedudukan strategis, sendiri sambil melemahkan pihak lawan. 100

Seluruh bab 5 Seni Perang menjelaskan shi strategis yang tersembunyi. Siapa yang memahami dan memanfaatkan shi tidak akan terancam bahaya sekalipun bertempur seratus kali. Sunzi menjelaskan bahwa dalam perang, shi terdiri atas strategi dan taktik: orang memasuki perang dengan menyusun strategi yang baik, dan memenangkan perang dengan memakai taktik yang baik. “Panglima yang pandai berperang tidak menyalahkan prajuritnya, melainkan memanfaatkan shi” (Seni Perang 5-5). Ia juga menjelaskan bahwa strategi dan taktik saling bergantung dan saling memengaruhi, dan bahwa shi terbentuk dari perpaduan keduanya. Sunzi mengembangkan teori perang yang berlandaskan shi, yang menyatakan bahwa perpaduan strategi dan taktik tidak ada habisnya dan tidak seorang pun dapat memahaminya sepenuhnya:

Bergeraklah seperti matahari dan bulan: keduanya seolah-olah lenyap, tetapi mulai lagi.

Bergeraklah seperti empat musim: semuanya seolah-olah mati, tetapi mulai lagi. (Seni Perang 5-2)

Barat menjunjung peran keberadaan (有) menurut filsafat keberadaan, yaitu tindakan. Timur mengikuti keadaan baru yang diciptakan perubahan, yaitu gerak shi (勢). Gerak shi bertolak bukan dari keberadaan, melainkan dari ketiadaan. Tindakan Barat mengejar hukum, lembaga, dan model; Timur, alih-alih mengejar tindakan segera, memusatkan diri pada keunggulan shi yang tersembunyi dalam perubahan. Dalam hal bagaimana mencapai daya guna yang dikejar manusia, Timur dan Barat menempuh cara yang berbeda.

Ketika berusaha mencapai daya guna, orang Yunani dan orang Tionghoa mengikuti filsafat yang berbeda. Orang Yunani mengikuti tindakan, sedangkan orang Tionghoa mengikuti perubahan. Kita dapat melihat hubungan yang terbalik di antara keduanya. Orang Yunani memikirkan perubahan alam yang mengikuti model tindakan manusia; orang Tionghoa memikirkan daya guna manusia yang mengikuti perubahan alam. Dalam perang, panglima berusaha mengatur strategi agar menguntungkannya, seperti proses tumbuhnya tanaman atau mengalirnya sungai… Orang Tionghoa percaya pada keunggulan yang melekat yang dibawa perubahan, alih-alih keunggulan yang dibawa tindakan. 101

Kebiasaan Barat menghormati hukum, lembaga, dan model adalah gejala yang berlanjut dari zaman Yunani-Romawi sampai sekarang. Kebiasaan ini lahir dari kebiasaan Barat mengamati alam dan manusia dengan teleologi, yaitu anggapan bahwa alam dan manusia yang diciptakan Tuhan selalu memiliki tujuan. Karena itu, kapan pun dan di mana pun, Barat berusaha menetapkannya dengan hukum, membuat model dan lembaga, lalu menyebarkannya kepada orang lain.

Teleologi Barat mengandaikan bahwa pemikiran manusia berlandaskan kebenaran, sehingga tidak mementingkan keraguan terhadap tujuan yang sudah ditetapkan atau kemungkinan cara-cara lain. Karena itu, Barat ingin memandang teori-teori yang dikembangkannya, dan praktik yang mengikutinya, sebagai cocok untuk segala keadaan di dunia. Barat pun dapat memaksakannya kepada pihak lain, dengan anggapan bahwa negara-negara lain harus mengikutinya. Sebaliknya, peradaban Timur, karena berlandaskan filsafat perubahan, terbuka terhadap upaya mencari jalan lain dan terhadap perubahan. Tidak ada pemaksaan. Pada akhirnya, urusan manusia di Timur mengejar daya guna hukum, shi, dan shu, sambil mengakui hidup berdampingan.

Peradaban Barat, yang bersandar pada hukum, terjalin dengan teleologi dan mempertahankan kebiasaan membuat lembaga dan model. Begitu tujuan dipahami, perhatian dipusatkan pada perumusan lembaga. Orang Barat memandang lembaga sebagai keberadaan yang tak berubah, yang meningkatkan efisiensi dalam mencapai tujuan yang terkandung di dalamnya. Dan mereka berpikir bahwa lembaga seperti itu harus dijadikan model dan disebarkan, baik untuk diri sendiri maupun ke seluruh dunia. Sebaliknya, orang Timur bersandar pada shi perubahan. Mereka memikirkan hubungan antara segala sesuatu dan berpikir bahwa tanpa memahami keseluruhan, kita tidak dapat memahami bagian-bagiannya. 102

Karena itu, orang Barat berpikir bahwa lembaga dan model yang mereka buat dapat berlaku bagi semua orang, termasuk orang-orang dari budaya lain di dunia. Karena manusia dibuat oleh Tuhan, keuniversalan yang berlaku bagi semua orang terjamin; dan lembaga serta model yang dibuat dengan bimbingan Tuhan, dengan alasan yang sama, juga terjamin keuniversalannya. Sejarah memperlihatkan bahwa daya guna universal ini bekerja sebagai campuran antara niat imperialis untuk menjamin kepentingan mereka sendiri dan niat baik keagamaan yang ingin agar semua manusia hidup sejahtera.

Persaingan hegemoni Amerika Serikat dan Tiongkok: shi (勢) Tiongkok versus serangan Amerika Serikat

Sistem pemikiran filosofis Timur dan Barat tampak apa adanya dalam perbedaan strategi dan taktik yang diperlihatkan Amerika Serikat dan Tiongkok dalam persaingan hegemoni abad ke-21: perbedaan antara mengejar kemenangan melalui serangan dan meraih shi. Amerika Serikat telah menetapkan Tiongkok sebagai ancaman terbesar bagi hegemoninya pada abad ke-21 dan mengerahkan segala cara yang mungkin untuk menghambat kebangkitan Tiongkok. Melalui penguatan persekutuan dan tekanan ekonomi terhadap Tiongkok, Amerika Serikat mengambil sikap menyerang dan bertekad untuk terus menang. Tiongkok menganggap persaingan hegemoni dengan Amerika Serikat sebagai sesuatu yang tak terelakkan, tetapi alih-alih mengejar kemenangan segera, Tiongkok memusatkan diri pada penguatan kekuatan ekonomi dan persatuan dalam negeri, serta pada penguatan shi, yaitu kedudukan strategisnya. Strategi Amerika Serikat adalah strategi serangan dari tindakan disengaja (有爲), yang kasatmata dan berjangka pendek. Strategi Tiongkok adalah strategi shi dari tanpa-tindakan (無爲), yang tak kasatmata dan berjangka panjang.

Ke depan, seiring hubungan internasional beralih paradigma “dari perang ke perdagangan”, hubungan itu akan berbentuk “kerja sama, persaingan, dan konflik” (cooperation, competition, conflict) yang muncul serentak di banyak bidang. Pada saat yang sama, karena keseimbangan kekuatan nuklir antara Amerika Serikat dan Tiongkok, kemungkinan perang yang dapat membawa kehancuran bersama diperkirakan sangat kecil. Dalam strategi nuklir pun, Amerika Serikat dan Tiongkok berbeda secara mendasar. Amerika Serikat menjalankan strategi kehancuran bersama yang terjamin (MAD, mutually assured destruction). MAD adalah strategi nuklir yang menyatakan bahwa sekalipun lawan menyerang lebih dulu, senjata nuklir yang tersisa harus cukup untuk menghancurkan dan melumpuhkan musuh dengan pasti. Itulah strategi yang diikuti Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin. Amerika Serikat kini memiliki lebih dari 5.000 senjata nuklir. Tiongkok tidak menyetujui strategi MAD. Strateginya adalah bahwa sekalipun lawan menyerang lebih dulu, dan sekalipun musuh tidak dihancurkan sepenuhnya dengan senjata nuklir yang tersisa, membuat lawan membayar “harga yang cukup” sudah cukup untuk mencegah serangan pertama. Tiongkok kini memiliki sekitar 600 senjata nuklir. MAD Amerika Serikat adalah strategi Barat.

Yang lebih penting lagi, kita harus ingat bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok memiliki pola budaya, sejarah, dan filsafat yang berbeda dalam menangani hubungan internasional. Persaingan hegemoni Amerika Serikat dan Tiongkok yang terjadi dalam keadaan seperti ini berlanjut dalam bentuk perluasan shi Tiongkok dan serangan Amerika Serikat demi kemenangan. Sementara Amerika Serikat memusatkan diri pada penguatan persekutuan serta pembendungan ekonomi dan perdagangan Tiongkok, Tiongkok memusatkan diri pada perluasan shi yang diperlukan untuk memperbesar kekuatan ekonominya, yaitu pendidikan intensif bagi tenaga peneliti dan peningkatan investasi dalam industri masa depan.103 Pada akhirnya, Tiongkok memusatkan diri pada penguatan kedudukan strategisnya di banyak bidang. Strategi hegemoni Tiongkok, yang berbeda dari Amerika Serikat, adalah bahwa dengan bekerjanya semua unsur ini secara menyeluruh, pemenangnya pada akhirnya akan ditentukan “dengan sendirinya”, tanpa bentrokan militer.

Kekuatan militer itu penting. Tetapi jika dalam persaingan hegemoni di masa lalu kekuatan militer memainkan peran menyerang, kini kekuatan militer bersifat bertahan. Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok tidak akan ditentukan oleh “bentrokan” (confrontation) langsung antara kekuatan lama dan kekuatan baru, seperti yang berulang kali terjadi dalam sejarah Barat. Para ilmuwan Barat akrab dengan bentrokan-bentrokan historis antara dua kekuatan selama ribuan tahun, dari bentrokan Sparta dan Athena sampai bentrokan Inggris dan Jerman. Tetapi “jebakan Thukydides” yang mereka ajukan, yang menganggap bentrokan sebagai sesuatu yang pasti, tidak dapat menjelaskan hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok. Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok akan tampak bukan seperti permainan catur dengan penghancuran musuh, melainkan seperti permainan go dengan perluasan shi dalam jangka waktu yang panjang, dan hasilnya akan ditentukan dengan sendirinya.104

Di bawah kebijakan hidup berdampingan dengan Amerika Serikat, Tiongkok berusaha memperbesar shi yang dimilikinya dengan berbagai cara. Amerika Serikat secara agresif menunjukkan permusuhannya terhadap Tiongkok. Amerika Serikat cenderung ingin menyebarkan nilai-nilainya ke seluruh dunia, termasuk Tiongkok, dengan keyakinan yang bersifat keagamaan. Kissinger menjelaskan visi diplomatik Amerika Serikat dan Tiongkok ini:

Keistimewaan Amerika bersifat misioner dalam hal nilai-nilainya. Amerika merasa wajib menyebarkan nilai-nilai yang dimilikinya ke seluruh penjuru dunia. Sebaliknya, keistimewaan Tiongkok bersifat budaya. Tiongkok tidak berniat mempertobatkan negara-negara lain agar menjadi seperti dirinya. Tiongkok tidak menganggap lembaga-lembaganya berlaku di luar Tiongkok.105

Dengan latar budaya ini, Amerika Serikat dan Tiongkok memperlakukan sekutu masing-masing dengan cara campur tangan dan tidak campur tangan. Cara Amerika Serikat dan Tiongkok ini tampak apa adanya dalam perlakuan keduanya terhadap Korea Selatan dan Korea Utara di Semenanjung Korea. Korea Selatan, dengan dukungan dan campur tangan Amerika Serikat, memiliki sistem ekonomi yang kuat dan demokrasi. Pada saat yang sama, Korea Selatan berada di bawah pengawasan ketat Amerika Serikat dalam soal rudal dan nuklir. Korea Utara tetap menjadi sahabat Tiongkok dan menerima bantuannya, tetapi Tiongkok sama sekali tidak mencampuri sistem ekonomi maupun politik dalam negeri Korea Utara. Bahwa Korea Utara mempersenjatai diri dengan nuklir dan rudal juga mencerminkan kebijakan tidak campur tangan Tiongkok yang berbeda dari Amerika Serikat.

Politik luar negeri Tiongkok yang berbeda dari Amerika Serikat ini juga diuraikan dalam laporan-laporan Matteo Ricci. Matteo Ricci (Matteo Ricci, 1552–1610), pastor Yesuit yang benar-benar datang ke Timur melalui jalur laut yang dirintis Vasco da Gama dan tinggal lama di sana, justru menekankan hal ini dalam laporan yang dikirimkannya ke Barat:

Di Tiongkok, baik kaisar maupun rakyatnya tidak merencanakan perang untuk menyerbu atau menaklukkan tetangga. Mereka sangat puas dengan apa yang mereka miliki. Karena itu, mereka tidak menunjukkan keinginan untuk menaklukkan negeri-negeri tetangga. Dalam hal ini, orang Tionghoa sangat berbeda dari orang Eropa. 106

Barat telah menjalankan imperialisme sejak zaman Yunani-Romawi sampai zaman modern awal, masa penjelajahan samudra. Barat memaksakan hukum, lembaga, dan modelnya kepada sekutu-sekutunya, dan hubungannya dengan negeri-negeri tetangga yang bukan sekutu mau tidak mau bersifat bermusuhan. Tetapi Tiongkok mengambil sikap sukarela, bukan pemaksaan: ambillah bila perlu, tetapi dalam hal itu akuilah kedaulatan kami. Tiongkok berusaha memelihara hubungan bersahabat, bukan bermusuhan, dengan negeri-negeri tetangga.

Tiongkok menganggap dirinya istimewa, tetapi alih-alih berusaha menyebarkan nilai-nilainya ke negeri lain, Tiongkok bersikap: datang dan ambillah bila perlu. Sikapnya terhadap negeri-negeri tetangga adalah mengundang mereka berhubungan dengan Tiongkok, mempelajari peradabannya, lalu pulang; dan untuk itu negeri-negeri tetangga harus mengakui kedaulatan Tiongkok atas mereka. 107

Dalam hubungan internasional ala Timur, perbedaan dan keragaman diakui. Yang dikejar adalah cara hidup berdampingan secara damai dengan negeri tetangga. Perubahan yang disukai adalah perubahan yang terjadi dengan sendirinya, secara bertahap dan sebagai keadaan bawaan, dengan memanfaatkan shi. Barat menegaskan keuniversalan hukum, lembaga, dan modelnya, dan berusaha menyebarkan nilai-nilainya untuk menyebarluaskan cara Barat.

Kaisar Tiongkok tidak memandang perlu menjalin hubungan bermusuhan dengan negeri tetangga. Sebaliknya, ia berusaha menghindarinya. Tiongkok, seperti Amerika Serikat, juga berpikir bahwa dirinya harus memainkan peran istimewa. Tetapi Tiongkok tidak berniat, seperti Amerika Serikat, menegaskan keuniversalan dengan menyebarkan nilai-nilainya ke seluruh dunia.108

Melalui filsafat perubahan dan filsafat keberadaan, konsep Dao dan Tuhan memberikan kepada hubungan internasional cara tidak campur tangan ala Timur dan cara campur tangan ala Barat. Tidak campur tangan bersifat statis: sengketa berkurang, tetapi rangsangan yang dinamis dan kemungkinan evolusi juga berkurang. Campur tangan bersifat dinamis: kemungkinan sengketa membesar, tetapi pada saat yang sama muncul rangsangan dan kemungkinan evolusi.

Perbedaan strategis antara kemenangan dan shi berakar dalam pada peradaban Timur dan Barat. Timur, yang mengejar shi, tidak meniru budaya pihak lain begitu saja. Timur mengubahnya agar sesuai dengan dirinya, dengan berkaca pada budayanya sendiri. Sejak abad ke-19, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Timur dan Barat berubah melalui pertukaran budaya yang giat antara keduanya. Terutama karena paradigma Barat menguasai dunia, Timur mendapat pengaruh budaya yang besar dari Barat.

Selama setengah abad terakhir, Asia Timur telah memodernisasi diri. Asia Timur merujuk pada pengalaman Eropa, terutama Barat. Tetapi bukan dengan meniru Barat begitu saja: modernisasi negara-negara Asia Timur mengambil bentuk yang sangat berbeda. Di bawah pengaruh sejarah dan budaya mereka sendiri, mereka menciptakan lembaga, kebiasaan, nilai, dan ideologi mereka sendiri. 109

Ketika hukum, lembaga, dan model Barat diperkenalkan ke Timur, Timur tidak menerimanya begitu saja, melainkan mengambil bentuk yang telah diubah. Sebaik apa pun suatu lembaga, ia tidak menyebar begitu saja ke mana saja. Sebabnya, lembaga adalah konsep yang bergantung pada budaya.110 Dalam mengimpor lembaga dan pengalaman Barat, Timur mengambilnya dengan cara yang diubah, menyesuaikannya dengan dirinya menurut sistem pemikiran Timur. Ini bukan pengambilan secara ideologis yang berlandaskan filsafat keberadaan, yang berarti menang atau kalah, melainkan cara perubahan dan penyesuaian yang memperhitungkan shi.

4) Jika Tuhan itu baik, dari mana datangnya kejahatan?

Tuhan itu murah hati dan pengasih. Pada saat yang sama, Tuhan juga Tuhan yang menghukum sampai keturunan yang ketiga dan keempat. Sifat-sifat Tuhan ini dicontohkan secara konkret dalam Pentateukh. Agama wahyu menekankan pentingnya jiwa yang tetap hidup setelah kematian, dan menganut ajaran dosa asal, yang menyatakan bahwa manusia lahir dengan membawa dosa. Karena itu, manusia menjadi makhluk yang takut kepada Tuhan dan bertobat. Dalam Dao yang diuraikan Daodejing, sama sekali tidak ada bagian yang menghukum manusia. Yang penting dalam hidup adalah menenteramkan tubuh dan pikiran yang membentuk manusia, dan Daodejing tidak menekankan pentingnya jiwa. Daodejing menganjurkan sikap menyambut dan menikmati, dalam hidup, apa yang diberikan Dao kepada manusia. Hidup yang hanya dijalani sekali itulah yang penting.

Manusia yang takut kepada Tuhan memandang urusan manusia dari sudut pemikiran baik dan jahat. Orang yang memeluk agama lain atau orang ateis hanya diperlakukan dari sudut pemikiran baik dan jahat: mereka dipertobatkan, atau dianggap sebagai makhluk jahat dari sudut baik dan jahat. Dalam agama wahyu, manusia menerima berkat dan kutuk dari Tuhan menurut ajaran ketat yang ditetapkan agama. Terutama dalam Kristen, dengan kepercayaan pada surga dan neraka, yang menyatakan bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian dan ada hidup yang kekal, pemikiran baik dan jahat menjalankan pengaruh yang lebih besar lagi. Bentuk hidup kekal setelah kematian ditentukan oleh apakah orang hidup baik atau jahat di dunia ini. Dalam filsafat Barat, baik dan jahat termasuk filsafat keberadaan dan tidak berubah. Kejahatan menjadi sesuatu yang harus dilenyapkan.

Bahaya yang terkandung dalam pemikiran baik dan jahat, yang mau tidak mau menyertai agama wahyu, adalah pertanyaan mengapa kejahatan ada. Sebabnya, di dunia yang diperintah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa, banyak terjadi hal yang tidak adil dan jahat. Masalah baik dan jahat sudah tersirat dalam kisah buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dalam kitab Kejadian. Atas bujukan ular, manusia melanggar perintah Tuhan dan memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat agar menjadi seperti Tuhan. Padahal manusia tidak dapat menjadi seperti Tuhan, tetapi ia termakan godaan ular yang mengatakan bahwa ia bisa, lalu memakan buah itu. Karena buah itu, malapetaka menimpa manusia.

Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Kamu sama sekali tidak akan mati. Allah tahu bahwa pada hari kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:4–5)

Kisah ini menyiratkan masalah yang timbul ketika manusia langsung menangani baik dan jahat, wilayah Tuhan, serta beratnya akibat yang ditimbulkannya. Menurut pemikiran baik dan jahat, manusia dapat dengan mudah menjadi jahat, dan perbuatan jahat manusia terus berlanjut. Karena itu, sudah dalam kitab Kejadian, Tuhan menyesal telah menciptakan manusia:

TUHAN melihat bahwa kejahatan manusia memenuhi bumi dan bahwa segala rancangan pikiran hatinya selalu hanya membuahkan kejahatan… Lalu berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan dari muka bumi manusia yang telah Kuciptakan itu, dari manusia sampai ternak, binatang melata, dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal telah menjadikan mereka.” (Kejadian 6:5–7)

Untuk mencegah keadaan ini, Tuhan memberikan perintah moral tentang baik dan jahat, dan meninggalkan hukum yang kuat. Bahwa siapa pun yang melanggar perintah Tuhan akan menerima hukuman Tuhan adalah salah satu ajaran pokok agama wahyu. Terutama, menyembah tuhan lain menjadi perbuatan yang paling jahat. Kepada manusia yang melakukan kejahatan ini dijatuhkan hukuman yang berat. Barat, dengan mendefinisikan Tuhan sebagai sosok yang baik dan pengasih, memperingatkan mereka yang tidak baik. Pemikiran baik dan jahat terbentang di dasarnya.

TUHAN menguji orang benar, dan Ia membenci orang fasik dan orang yang mencintai kekerasan. (Mazmur 11:5)

Akibatnya, dalam konsep Barat tentang Tuhan yang baik, muncul pertanyaan: “Jika Tuhan itu baik, dari mana datangnya kejahatan?” Dengan kata lain, jika Tuhan yang “menciptakan” segala sesuatu itu baik, dari mana kejahatan bermula? Apakah kejahatan juga diciptakan Tuhan?

Engkau memang benar, ya TUHAN, bila aku berbantah dengan Engkau; namun aku hendak bertanya kepada-Mu: mengapa jalan orang fasik berhasil, dan semua pengkhianat hidup tenteram? (Yeremia 12:1)

Sejak zaman Yunani, teka-teki “Jika Tuhan itu baik, dari mana datangnya kejahatan?” telah diajukan. Di dalam sistem filsafat Barat, persoalan baik dan jahat masih tetap tak terpecahkan. Jika Tuhan menciptakan segala sesuatu, apakah kejahatan juga diciptakan-Nya? Lalu mengapa Tuhan menciptakan kejahatan? Para teolog dan ahli metafisika Barat lama bergulat dengan persoalan ini, mengajukan berbagai jawaban yang sulit dipahami, dan sampai sekarang masih terus berusaha mencari jawabannya. Ini bukan hanya persoalan Yudaisme dan Kristen, melainkan juga persoalan yang sudah lama digumuli para filsuf Yunani. Solon (Solon, 638–558 SM), pemimpin Athena yang dianggap salah satu yang terdepan di antara orang-orang bijak Barat, meninggalkan sebuah puisi yang meratap: “Ada orang kaya di antara orang jahat, dan ada orang miskin di antara orang baik.”

Hesiodos (Hesiod), penyair Yunani sezaman dengan Homeros yang berkiprah pada abad ke-8 sampai ke-7 SM, juga bergulat dengan persoalan baik dan jahat: “Bagaimana dewa yang adil dan mahakuasa membiarkan manusia yang tidak adil hidup makmur di dunia?” 111 Kemudian, sambil menjelaskan bagaimana manusia kehilangan firdaus, Hesiodos meratapi dewa-dewa yang baik dan adil karena membiarkan kejahatan dan ketidakadilan merajalela di dunia:

Dalam hidup, orang yang menepati janjinya dan menjalankan kebaikan dan keadilan tidak mendapat balasan apa pun. Justru orang yang berbuat jahat dan melakukan kekerasanlah yang dipuji. Kekerasan menang, kebajikan lenyap. Orang jahat menyiksa orang baik… Manusia akhirnya menderita siksaan yang kejam. Tak seorang pun mau menyelamatkannya dari kejahatan. 112

Pergumulan ini adalah salah satu persoalan penting yang memenuhi pikiran Epikuros (341–270 SM). Persoalan ini terangkum dengan baik dalam “paradoks Epikuros” (Epicurean Paradox) atau “teka-teki Epikuros” (the Riddle of Epicurus) tentang kejahatan, yang diwariskan sejak zaman Yunani. Catatan tentang paradoks Epikuros tidak terdapat dalam tulisan-tulisan Epikuros sendiri yang masih tersisa. Paradoks itu terdapat dalam catatan yang ditinggalkan penulis Kristen awal Lactantius (Lactantius, 250–325):

Tentang Tuhan, Epikuros berkata sebagai berikut: atau Tuhan hendak menghapus kejahatan, tetapi tidak mampu;

atau Ia mampu, tetapi tidak mau; atau Ia tidak mau dan tidak mampu; atau Ia mau dan mampu. Jika Ia mau tetapi tidak mampu, Ia lemah, dan ini tidak sesuai dengan definisi Tuhan; jika Ia mampu tetapi tidak mau, Ia dengki, dan ini sama tidak sesuainya dengan definisi Tuhan; jika Ia tidak mau dan tidak mampu, Ia dengki sekaligus lemah, dan karena itu bukan Tuhan; jika Ia mau dan mampu, yang hanya inilah yang sesuai dengan definisi Tuhan, lalu dari mana datangnya kejahatan, dan mengapa Ia tidak menghapusnya? 113

Hampir dua ribu tahun kemudian, filsuf Inggris Hume merangkum teka-teki Epikuros tentang baik dan jahat sebagai berikut:

Pertanyaan-pertanyaan lama Epikuros masih belum terjawab. Apakah Ia hendak mencegah kejahatan, tetapi tidak mampu? Maka Ia tidak berdaya. Apakah Ia mampu, tetapi tidak mau? Maka Ia berniat jahat. Apakah Ia mampu dan mau? Lalu dari mana datangnya kejahatan? 114

Persoalan baik dan jahat meninggalkan bagi orang Barat, yang akrab dengannya, pekerjaan rumah yang tidak dapat dipecahkan manusia. Sejak zaman Yunani sampai sekarang, filsafat Barat terus bergulat dengan persoalan ini. Sebabnya, filsafat Barat berusaha memecahkan persoalan baik dan jahat dengan berlandaskan yang tampak dan filsafat keberadaan. Karena yang baik selamanya baik dan yang jahat selamanya jahat, kejahatan menjadi sesuatu yang harus dihancurkan. Pemikiran baik dan jahat memberi manusia daya dorong yang kuat. Terutama bila berpadu dengan agama wahyu, daya dorong itu mencapai taraf yang melampaui hidup dan mati.

Namun, pemikiran yin dan yang di Timur tidak memiliki daya dorong yang kuat seperti yang diberikan pemikiran baik dan jahat, tetapi sekaligus juga tidak bergulat dengan persoalan sulit yang dibawa pemikiran baik dan jahat, yaitu mengapa ada kejahatan dalam diri manusia. Pemikiran yin dan yang di Timur menangani urusan manusia dengan berlandaskan filsafat perubahan. Konsep baik dan jahat berubah seperti yin dan yang di dalam lingkup kegiatan manusia yang diciptakan manusia sendiri. Seperti untung dan malang berubah seiring waktu, yin berubah menjadi yang, dan yang berubah menjadi yin.

Dao, hidup yang hanya dijalani sekali versus Tuhan, dunia setelah kematian

Pemikiran baik dan jahat mengandung gagasan bahwa manusia lahir dengan membawa kemalangan. Inilah awal ajaran dosa asal. Dengan memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia melanggar perintah Tuhan, dan manusia menjadi makhluk yang telah melakukan kesalahan asali dengan sendirinya. Manusia menjadi makhluk yang selalu takut kepada Tuhan. Manusia diusir dari Taman Eden, firdaus. Dikutuk Tuhan, ia lahir dengan menanggung kesusahan dan menjalani hidupnya.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Aku akan sangat memperbanyak kesakitanmu waktu mengandung; dengan susah payah engkau akan melahirkan anak; engkau akan berahi kepada suamimu, dan ia akan berkuasa atasmu.” Lalu firman-Nya kepada Adam: “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan buah pohon yang telah Kularang engkau makan, terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari makan dari tanah itu seumur hidupmu.” (Kejadian 3:16–17)

Di Barat, pemikiran baik dan jahat menjadi penjelasan mengapa manusia harus hidup bersusah payah seumur hidupnya. Kisah seperti ini tidak hanya ada dalam agama Barat, tetapi juga dalam mitologi Yunani. Dalam bukunya Kerja dan Hari-Hari (Works and Days), Hesiodos menuturkan kisah kotak Pandora. Kisah ini menggambarkan keadaan yang mirip dengan hukuman atas dosa yang diterima manusia setelah memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dalam kitab Kejadian. “Kotak Pandora”, yang dibuat Zeus, diserahkan kepada Pandora, istri Epimetheus, untuk menghukum Prometheus, yang menciptakan manusia dan membawakan api kepada manusia. Prometheus telah memperingatkan adiknya, Epimetheus, agar tidak menerima hadiah dari Zeus. Tetapi Pandora, yang penuh rasa ingin tahu, membuka kotak itu. Begitu kotak itu dibuka, segala hal buruk yang tersembunyi di dalamnya melompat keluar dan mulai menyiksa manusia. Pandora yang terkejut segera menutup kotak itu, dan di dalamnya hanya tersisa harapan.

Menurut kisah Hawa dan Pandora, manusialah sumber masalahnya. Dengan memiliki pikiran dan rasa ingin tahu, manusia memasuki jalan untuk menilai baik dan jahat. Kesalahan manusia ini membawa penderitaan yang tak terhindarkan kepadanya, dan manusia pun memiliki “hati yang bertobat”. Sesuai dengan kecenderungan yang melekat dalam kodrat manusia ini, manusia dihukum seumur hidupnya sebagai harga dosanya, dan bertobat. Meminjam ungkapan seorang penyair Barat, manusia menjadi “makhluk yang bekerja selama hidupnya dan menanggung penderitaan”. 115

Di dunia Barat yang percaya kepada Tuhan, karena dunia kini penuh penderitaan, orang membayangkan dunia setelah kematian, yakni surga di dunia sana. Pada saat yang sama, para pemikir yang tak tampak, yang tidak dapat yakin akan keberadaan Tuhan, mengejar dalam hidup ini, di dunia ini, kebahagiaan yang serupa dengan surga setelah kematian.

Para pemikir Barat yang mengejar kebahagiaan menyangkal keberadaan kejahatan. Mengapa manusia harus takut kepada Tuhan? Epikuros, dengan latar pemikiran baik dan jahat, menetapkan sikap yang harus diambil manusia terhadap Tuhan. Ia memandang bahwa Tuhan yang baik dan adil tidak mungkin hidup berdampingan dengan keberadaan kejahatan. Karena itu, ia menjelaskan bahwa manusia tidak perlu takut kepada Tuhan. Terbebas dari kecemasan yang tidak perlu karena takut kepada Tuhan, itulah inti “ataraxia” (ketenangan jiwa), teori kebahagiaan yang dianut Epikuros.

Jangan takut kepada Tuhan. Tuhan adalah sosok yang abadi dan berbahagia… Tetapi banyak orang mendefinisikan Tuhan sesuka hati mereka. Orang berkata bahwa Tuhan memberi ganjaran dan hukuman, karena mereka menginginkan Tuhan yang memberi ganjaran kepada orang yang menempuh jalan yang sama dengan mereka dan menghukum orang yang menentang mereka. Menentang pandangan seperti itu tidak berarti kehilangan kesalehan. Justru memaksakan pandangan itulah yang berarti meninggalkan kesalehan. 116

Namun, filsafat Epikuros ini, walaupun banyak diperbincangkan pada masanya, abad ke-4 sampai ke-3 SM, akhirnya diperlakukan sebagai bagian dari yang tak tampak dan kehilangan kekuatannya di Barat. Sebabnya, sejak akhir abad ke-4, ketika Kristen menjadi agama negara Kekaisaran Romawi, seluruh Barat terkubur dalam yang tampak. Selama seribu tahun Abad Pertengahan, zaman negara agama, para pemikir yang tak tampak semuanya diperlakukan sebagai ateis dan menjadi sasaran kecaman dan penganiayaan. Surga setelah kematian menjadi tujuan hidup orang. Keadaan ini berubah melalui Renaisans dan Zaman Pencerahan.

Pencarian makna hidup dalam peradaban Timur bermula dari tafsiran tentang hidup yang sama sekali berbeda dari Barat. Berbeda dari Tuhan, Dao menyatakan bahwa ia menolong semua manusia tanpa kecuali. Manusia tidak takut kepada Dao. Manusia menyambut Dao sebagai teman seperjalanan hidup. Manusia menjadi makhluk yang mencari kegembiraan hidup bersama orang lain di dalam batas-batas Dao. Hidup hanya dijalani sekali. Pemikiran tentang dunia sana tidak penting dalam pemikiran Timur. Daodejing menganjurkan agar manusia memiliki sikap mencari kegembiraan hidup sambil memegang Dao. Bagian akhir Daodejing berbicara tentang kesenangan hidup.

Nikmatilah pekerjaan yang kaulakukan. Nikmatilah apa yang kaumakan. Nikmatilah pakaian yang kaukenakan. Nikmatilah tempat tinggal tempat engkau dapat tidur. Carilah dalam hidup hal-hal yang dapat kaunikmati. (Daodejing 80)

Kegembiraan Taoisme ini adalah sikap menikmati apa yang diberikan alam dalam hidup, yaitu mencari kegembiraan dalam hubungan antara manusia dan alam. Tanpa-tindakan yang selaras dengan alam (無爲自然) yang dianjurkan Taoisme berarti bahwa manusia dan alam hidup dalam keselarasan; itulah sikap hidup di mana manusia tidak melawan hukum alam, melainkan hidup menyatu dengan alam. Konfusianisme pun, di antara berbagai perasaan manusia, menampilkan “sikap menikmati hidup” sebagai nilai yang paling penting dalam kehidupan.

Orang yang mengetahuinya tidak setara dengan orang yang menyukainya; orang yang menyukainya tidak setara dengan orang yang menikmatinya. (Analek 6:18)

Pernyataan Konfusianisme bahwa orang yang menikmati hidup lebih penting daripada pengetahuan memiliki kemiripan dengan Epikuros di Barat. Hedonisme Epikuros bukanlah pengejaran kenikmatan jasmani, melainkan pencarian keadaan tenang tanpa kecemasan dan ketakutan; dan pendapatnya bahwa kematian, sebagai lenyapnya jiwa dan tubuh, tidak perlu ditakuti, juga mirip dengan filsafat Konfusianisme. Tetapi perbedaan pentingnya adalah bahwa dalam Konfusianisme kegembiraan datang dari relasionalisme, sedangkan kenikmatan Epikuros didasarkan pada individualisme. Kalimat pertama Analek justru dimulai dengan anjuran untuk mencari kegembiraan hidup “dalam sahabat dan belajar”. Di Timur, kegembiraan hidup bukanlah sesuatu yang dinikmati seseorang sendirian, melainkan didasarkan pada relasionalisme kebersamaan.

Belajar lalu pada waktunya mempraktikkan apa yang telah dipelajari, bukankah itu menggembirakan? Sahabat datang dari jauh, bukankah itu menyenangkan? (Analek 1:1)

Timur bebas dari persoalan baik dan jahat dalam agama serta kesadaran akan dosa asal manusia. Sebabnya, Timur memandang baik dan jahat pada akhirnya sebagai persoalan suka dan tidak suka yang diciptakan bukan oleh Tuhan, melainkan oleh manusia. Tidak satu pun klasik Timur memuat penjelasan atau filsafat yang terpaku pada baik dan jahat. Peradaban Timur tidak menyetujui bahwa manusia sendiri membedakan baik dan jahat lalu menerapkannya pada masyarakat manusia. Pemikiran Timur mengandaikan bahwa manusia lahir dari alam dan kembali ke alam.

Pemikiran tentang Tuhan atau kematian dalam pemikiran Timur jauh kurang penting, tidak sebanding dengan di Barat. Daodejing memusatkan segala keadaan pada alam yang dijumpai manusia, dan mengandaikan manusia yang hidup di dalam alam. Pemikiran ini diungkapkan secara lebih praktis lagi dalam Konfusianisme. Konfusianisme menyatakan bahwa kita tidak perlu menaruh perhatian pada dunia setelah kematian, roh-roh (鬼神), atau kematian.

Kepada seorang murid yang bertanya bagaimana harus melayani roh-roh, Konfusius menjawab: “Urusan manusia saja belum dapat kauselesaikan, bagaimana engkau memikirkan urusan roh-roh?” Kepada seorang murid yang bertanya tentang kematian, Konfusius menjawab: “Kehidupan saja belum kaupahami, bagaimana engkau memikirkan kematian?” (Analek 11:11)

Pemikiran tentang kematian yang dibentangkan pemikiran Timur sebelum Masehi terungkap di Barat pada awal Zaman Pencerahan. Di Barat, dua ribu tahun kemudian, Spinoza mengungkapkan pemikiran yang sangat mirip.

Manusia yang bebas sama sekali tidak memikirkan kematian. Kearifannya lahir bukan dari renungan tentang kematian, melainkan dari renungan tentang kehidupan.117

Dalam renungan tentang kehidupan, bukan tentang kematian ini, peradaban Barat bergeser dari ketakutan kepada Tuhan ke arah teori kebahagiaan. Dengan hilangnya ketakutan kepada Tuhan dan ketakutan metafisis, muncullah kemiripan antara pemikiran Dao di Timur dan pemikiran Barat. Di Timur pun makin banyak orang yang mencari kebahagiaan sebagai tujuan, seperti di Barat. Tetapi teori kebahagiaan Barat yang individualis tetap berbeda dari teori makna Timur yang relasionalis. Di Timur, relasionalisme yang menemukan makna hidup dalam alam, belajar, dan sahabat tetap berlanjut.

Keberadaan Tuhan yang mengatur urusan manusia selalu menimbulkan ketakutan pada manusia. Terutama Kristen mengedepankan kebangkitan dan ajaran bahwa hidup di dunia ini adalah persiapan bagi hidup kekal di dunia sana. Karena itu, kepercayaan akan dunia sana menjadi penting, dan gambaran ajaran agama tentang dunia sana serta pembedaan surga dan neraka, baik dan jahat, menjadi makin penting. Proses ini memperkuat kekuasaan Gereja Kristen, yang bahkan sampai menjual surat pengampunan dosa. Hidup di dunia ini dipenuhi penyesalan dan pertobatan.

Filsafat “manusia yang bertobat” ditantang oleh deisme Zaman Pencerahan. Karena Tuhan tidak campur tangan dalam urusan manusia, manusia tidak dilahirkan sebagai “manusia yang takut kepada Tuhan”. Pendapat Rousseau bahwa kodrat manusia itu baik adalah bantahan yang representatif. Setelah deisme, filsafat Barat mulai mendekati dengan cara baru pertanyaan mengapa manusia hidup. Dengan ini, Barat mulai kembali mendekati “teori kebahagiaan”. Utilitarianisme Bentham dan Mill, kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbesar, tampil sebagai tujuan hidup masyarakat dan perseorangan. Ini berarti kebangkitan kembali filsafat Epikuros. Epikuros memandang kebahagiaan sebagai kebaikan tertinggi manusia. Kebahagiaannya bukan berarti kenikmatan jasmani, melainkan ketiadaan penderitaan, yaitu keadaan tanpa rasa sakit jasmani dan tanpa kegelisahan batin. Ia memandang bahwa manusia dapat berbahagia ketika terbebas dari ketakutan, terutama ketakutan akan kematian. Ia memandang bahwa komunitas yang seperti persahabatan membantu manusia mencapai ketenangan batin.

Namun, kebahagiaan itu sesaat dan pribadi. Perasaan bahagia mudah hilang. Lalu ke mana perginya manusia yang bergantung pada kebahagiaan itu? Di Timur pun tampaknya makin banyak orang yang menjadikan kebahagiaan pribadi sebagai tujuan. Tetapi peradaban Timur berlandaskan bukan individualisme (individualism), melainkan relasionalisme (relationalism).118 Dalam peradaban relasionalisme, “berbahagia” sendirian tidak dapat menjadi tujuan hidup. Dalam hidup yang hanya dijalani sekali, tujuannya adalah menemukan “makna” hidup bersama orang lain: dalam alam, belajar, dan sahabat.

Catatan

  1. 58

    Buku Xunzi terdiri atas tiga puluh dua bab, dan setiap bab dibagi menjadi pasal-pasal. 17-1 berarti bab 17 Xunzi, “Tentang Langit” (天論), pasal 1.

    ↩
  2. 59

    Hari ini haruslah menjadi hari peringatan bagimu, dan rayakanlah hari ini sebagai hari raya bagi Tuhan. Rayakanlah sebagai ketetapan untuk selama-lamanya turun-temurun.’ (Keluaran 12:14). Aturan terperinci perayaan Paskah tertulis dalam Keluaran 12:43–49: “Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun: ‘Inilah ketetapan tentang perayaan Paskah. Tidak seorang asing pun boleh ikut memakan kurban Paskah. Budak yang dibeli dengan uang boleh ikut memakannya bila ia telah disunat. Pendatang dan orang upahan tidak boleh ikut memakannya. Kurban itu harus dimakan di dalam satu rumah. Dagingnya tidak boleh dibawa keluar rumah, dan tulangnya tidak boleh dipatahkan. Seluruh jemaat Israel harus merayakan Paskah ini. Bila seorang asing yang tinggal padamu hendak merayakan Paskah bagi Tuhan, semua laki-laki di rumahnya harus disunat; barulah ia boleh ikut merayakannya, dan ia menjadi seperti orang asli negeri. Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh ikut memakannya. Hukum ini berlaku sama bagi orang asli dan bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu.’”

    ↩
  3. 60

    Tentang teori kontrak sosial, lihat bagian kedua, bab 3

    ↩
  4. 61

    Dalam Kristen pun teologi negatif tetap bertahan dan berpengaruh. Dionisius (akhir abad ke-5 sampai awal abad ke-6) dan Meister Eckhart (sekitar 1260–1327) menekankan teologi negatif (apophatism), yakni bahwa Tuhan tidak dapat ditentukan dengan bahasa manusia dan harus didekati melalui penyangkalan, dan memengaruhi filsafat Abad Pertengahan.

    ↩
  5. 62

    Bila sejarah Barat ditelaah, pada zaman Yunani-Romawi kuno ada masa ketika pembedaan antara dewa dan manusia tidak jelas. Pada zaman kuno, ketika personifikasi dewa berlangsung, sering tampak usaha manusia untuk menjadi sama dengan dewa. Dalam mitologi Yunani-Romawi banyak kisah tentang dewa yang bersentuhan langsung dengan manusia, atau tentang setengah dewa (半神半人). Di antara manusia ada orang-orang yang menganggap kemampuannya setara dengan dewa dan meneliti cara menjadi sama dengan dewa. Terutama, tradisi memuja sebagian manusia sebagai dewa setelah mereka mati terus berlanjut. Pahlawan Yunani Aleksander Agung (Alexander, 356–323 SM) pun ingin menganggap dirinya putra dewa dan memberitahukan pemikiran ini kepada orang-orang di sekitarnya. Konon inilah salah satu penyebab perselisihan antara Aleksander dan gurunya, Aristoteles. Aristoteles secara terbuka menyatakan rasa jijik ketika Aleksander mengaku memiliki hubungan khusus dengan dewa. Menurut Riwayat Hidup karya Plutarkhos, setelah menaklukkan India, Aleksander mengajukan pertanyaan kepada para filsuf India. Salah satunya, yang memperlihatkan keinginan Aleksander untuk menjadi dewa, ialah: “Bagaimana manusia dapat menjadi dewa?” Jawaban filsuf India itu: “Dengan melakukan apa yang tidak dapat dilakukan manusia.” (Plutarch, The Lives of the Noble Grecians and Romans, vol. 2 (Random House), Kindle edition, Kindle locations 4220–4221). Pahlawan Romawi Caesar (Caesar, 100–44 SM) mengaku sebagai keturunan dewi Venus (Venus) dan memanfaatkannya secara politik. Setelah seseorang pada upacara pemakaman Caesar mengaku melihat jiwanya naik ke langit, ia disebut dewa. Di Barat, “usaha manusia untuk mengikuti dewa” ada dalam masyarakat manusia untuk waktu yang lebih lama daripada yang dikira. Sesungguhnya, dalam sistem politeisme Yunani-Romawi, konsep dewa yang dipersonifikasikan dan campur tangan dalam urusan manusia diuraikan dengan lebih jelas lagi. Ada pula kasus yang mencakup cinta dan kelahiran anak antara manusia dan dewa. Banyak pahlawan dalam mitologi Yunani, misalnya Theseus, pendiri Athena, dan Akhilleus, pahlawan Homeros, berayah atau beribu dewa. Dalam keadaan sulit atau pada saat penting, mereka sering memohon mukjizat kepada dewa yang menjadi orang tua mereka. Biasanya, menanggapi permohonan mereka, dewa memberikan rahmat dan perlindungan khusus dengan menganugerahkan mukjizat. Sebaliknya, tokoh-tokoh utama sejarah Timur yang muncul dalam biografi-biografi Catatan Sejarawan, yang hampir sezaman dengan mitologi Yunani-Romawi, tidak berhubungan dengan dewa yang adikodrati. Di tengah sejarah yang berubah-ubah dan urusan manusia yang penuh pasang surut, mereka berusaha membuka jalan nasibnya dengan memercayai kehendak dan kearifannya sendiri. Mereka berusaha menemukan Dao melalui tindakannya sendiri dan mengejar kehidupan yang mengikuti Dao itu. Tidak seorang pun pemimpin Timur yang berhasil berusaha menjadi seperti dewa atau mengaku memiliki hubungan kekerabatan dengan dewa. Karena konsep Tuhan tidak ada, mereka tidak dapat melakukan usaha semacam itu secara politik. Mereka mengejar bukan menjadi dewa, melainkan cara hidup lama. Ketika, melalui Zaman Pencerahan sampai zaman ideologi, terjadi gejala pikiran menggantikan agama, gairah manusia untuk “menjadi seperti Tuhan” hidup kembali di Barat. Lahirlah khayalan bahwa manusia yang memiliki pikiran yang sempurna dapat bertindak seperti Tuhan. Dari segi pemikiran, filsafat manusia unggul Nietzsche, yang mengarah pada citra manusia bebas yang secara moral tidak terikat pada perasaan moral yang ada, akhirnya mendorong kecenderungan ini. Filsafat itu mendukung usaha manusia untuk menjadi seperti Tuhan. Di Barat, di mana kekuatan agama wahyu yang dipimpin Tuhan telah melemah, muncullah usaha untuk mencari pemimpin yang akan memimpin masa depan umat manusia pada orang yang memiliki kemampuan manusia unggul. Kenyataannya, di Barat muncul orang-orang yang terpikat oleh ideologi ini; orang seperti Hitler yakin bahwa kemampuan yang dimilikinya bersifat adimanusiawi. Banyak orang mengikutinya. Hitler memandang dirinya sebagai tokoh yang mengemban misi sejarah, dan propaganda Nazi memusatkan diri pada menanamkan citranya kepada rakyat sebagai sosok yang hampir ilahi. Bagi manusia unggul, sarana yang paling penting, sebagaimana dipakai Hitler, adalah pemikiran baik dan jahat. Pendapatnya sendiri harus mutlak benar. Hitler dan para pengikutnya, menurut pemikiran baik dan jahat, sampai pada kesimpulan bahwa orang Yahudi yang jahat tidak boleh ada. Pada akhirnya, deisme Barat memainkan peran positif menyingkirkan dogma agama wahyu, tetapi melalui zaman ideologi ia dipakai sebagai alat bermata dua yang juga memainkan peran negatif melahirkan “manusia unggul” (superman) moral.

    ↩
  6. 63

    Rex Warner, The Greek Philosophers, A Mentor Books, New York, 1958, p.24

    ↩
  7. 64

    Lawan kata tanpa-tindakan meliputi youwei (有爲), renwei (人爲), dan zuowei (作爲). Semuanya memiliki kesamaan bahwa manusia bertindak dengan kesadaran akan tujuan. Dibandingkan dengan tanpa-tindakan, semuanya adalah tindakan yang menonjolkan maksud manusia. Karena manusia dapat bertindak berlawanan dengan tanpa-tindakan yang melekat dalam Dao, renwei kadang-kadang dipakai sebagai lawan tanpa-tindakan. Zuowei, yang berarti tindakan yang berlawanan dengan hukum alam, yaitu Dao, juga dipakai sebagai lawan kata tanpa-tindakan. Tetapi dalam rangka membandingkan peradaban Timur dan Barat, memakai youwei, tindakan disengaja, untuk tindakan Barat membuat perbandingan dengan tanpa-tindakan Timur lebih mudah daripada memakai kata lain, renwei atau zuowei.

    ↩
  8. 65

    Sources of Chinese Tradition, Vol. I, Compiled by Wm. Theodore de Bary et al., Columbia University Press, New York, 1960, p.123.

    ↩
  9. 66

    Karya Han Feizi maupun Sang Pangeran karya Machiavelli sama-sama ditulis pada masa ketika keduanya sedang malang secara politik. Selain itu, zaman tempat keduanya hidup, baik di Tiongkok maupun Italia, adalah masa kacau ketika negeri terpecah menjadi banyak bagian dan para panglima saling bersaing. Han Feizi, ketika diutus ke negara Qin (秦), difitnah oleh Li Si, teman seperguruannya di bawah Xunzi, dan menyelesaikan karyanya di penjara. Machiavelli, setelah dibenci keluarga Medici, bahkan disiksa, dan menulis Sang Pangeran dalam pengasingan. Keduanya bermimpi kembali ke panggung politik dengan mempersembahkan bukunya kepada penguasa, tetapi keduanya sama-sama gagal. (Sima Qian (司馬遷), terjemahan Korea Yi Yeong-mu (李英茂), Shiji (史記, Catatan Sejarawan), Sintaeyangsa, jilid 5, hlm. 284; J. Bronowski dan Bruce Mazlish, op. cit., hlm. 56–57)

    ↩
  10. 67

    Seong Dong-ho (成東鎬), terjemahan Korea, Han Feizi (韓非子), Hongsin Sinseo, hlm. 368.

    ↩
  11. 68

    Ibid.

    ↩
  12. 69

    Machiavelli, Le Prince, Le Livre de Poche, Paris, hlm. 92.

    ↩
  13. 70

    Machiavelli, op. cit., hlm. 123.

    ↩
  14. 71

    Machiavelli, op. cit., hlm. 126.

    ↩
  15. 72

    Filsafat ini sesudahnya, selama dua ribu tahun, menyumbang bagi tersebarnya kebudayaan yang berpusat pada etika di Timur. Filsafat ini berlandaskan bukan “pertentangan” pemikiran baik dan jahat yang berpijak pada filsafat keberadaan Barat, melainkan “saling melengkapi” pemikiran yin dan yang yang berpijak pada filsafat perubahan Timur. Pemikiran wanwu zhidu (萬物制度) adalah gagasan bahwa “tatanan alam dan lembaga manusia semuanya mengikuti satu tatanan”; dengan kata lain, tatanan alam dan lembaga manusia saling berhubungan secara saling melengkapi. Teori saling melengkapi semacam ini tampak makin jelas dalam kesetaraan segala sesuatu (齊物論) Zhuangzi. Kesetaraan segala sesuatu adalah gagasan bahwa bila manusia melampaui penilaian baik dan buruk, baik dan jahat, indah dan jelek yang berlaku dalam masyarakat, yakni bila ia keluar dari wilayah relatif aku dan engkau, ia dapat mengalami kesatuan dengan langit, bumi, dan segala sesuatu. Contoh kesetaraan segala sesuatu ialah mimpi kupu-kupu (胡蝶夢) Zhuangzi yang terkenal, yaitu kisah ketika ia bermimpi menjadi kupu-kupu yang terbang sesuka hati, lalu terbangun dan tenggelam dalam pemikiran bahwa kupu-kupu dan dirinya adalah satu. Menjaga kodrat tetap utuh dan memelihara yang sejati (全性保眞) adalah gagasan bahwa “manusia tidak boleh hanya memusatkan diri pada sebagian kodrat bawaannya, seperti kehormatan atau keserakahan, kehilangan keseimbangan dengan mengejarnya, dan merusak dirinya, melainkan harus memelihara seluruh kehendak hidup yang dibawanya sejak lahir dan perwujudannya, yaitu tubuh”. Pada Zhuangzi, gagasan ini berkembang menjadi pemikiran seni memelihara hidup (養生主), yang menganjurkan “hidup sebagaimana adanya secara alami”. Nafsu yang sedikit dan dangkal (情慾寡淺) adalah gagasan bahwa “perasaan dan hasrat manusia tidak besar ketika lahir, tetapi membesar secara buatan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga harus dikelola dengan mengikuti wujud aslinya”. Pemikiran semacam ini merebak di Barat pada Zaman Pencerahan melalui filsuf Prancis Rousseau. Teori kodrat manusia Rousseau, bahwa kodrat luhur yang dimiliki manusia sejak lahir dirusak oleh peradaban, menyebar di Barat. Dalam hal ini sebagian ilmuwan Barat menunjukkan bahwa pemikiran Rousseau mirip dengan pemikiran Taois. Melihat hinaan tanpa merasa terhina (見侮不辱) adalah gagasan bahwa “meskipun dihina orang lain, orang tidak menganggapnya sebagai aib”, dan bertujuan mengurangi persaingan dan pertengkaran yang tidak perlu melalui etika semacam ini. Pada akhirnya gagasan ini berlandaskan pemikiran bahwa aku dan engkau bukan saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi. Inilah pemikiran yang berlandaskan bukan pemikiran baik dan jahat Barat, melainkan pemikiran yin dan yang Timur. Pemikiran yang melarang serangan dan menyuruh menyimpan senjata (禁攻寢兵) lahir dari tujuan untuk mengakhiri perang yang pada waktu itu sudah berlangsung ratusan tahun, yaitu gagasan untuk menyelamatkan dunia dari perang dengan “setiap negara melarang serangan militer terhadap negara lain dan meniadakan senjata”.

    ↩
  16. 73

    Untuk junzi, terjemahan Barat memakai berbagai istilah yang tidak bermakna, seperti superior man, gentleman, dan sebagainya. Junzi berarti pemimpin dalam arti etika politik. Karena itu terjemahan bahasa Inggris yang paling tepat untuk junzi barangkali “leadership” (pemimpin).

    ↩
  17. 74

    Pada zaman Yunani, di Barat ada seorang filsuf yang pemikirannya sangat mirip dengan teori yin dan yang Timur. Filsuf itu ialah Herakleitos (Heraclitus, 535–475 SM). Herakleitos dapat dipandang sebagai penganut teori yin dan yang di Barat, dan “kesatuan hal-hal yang berlawanan” (Unity of Opposites)-nya yang terkenal membuktikannya. Ini adalah filsafat yang mirip dengan teori saling melengkapi yin dan yang di Timur, yang menawarkan kosmologi yang memandang bukan pertentangan, melainkan saling melengkapi sebagai hakikat yang membentuk alam semesta. Tetapi karena kosmologi ini, Herakleitos dikecam sebagai panteis oleh sesama filsuf Yunani. Kaitan antara kesatuan hal-hal yang berlawanan Herakleitos dan pemikiran saling melengkapi yin dan yang di Timur hampir tidak pernah dibandingkan dalam sejarah filsafat Timur dan Barat. Namun, dapat disimpulkan bahwa kosmologi yang sama pernah ada baik di Timur maupun di Barat. Sebabnya, “motif taiji”, yang sesuai dengan “kesatuan hal-hal yang berlawanan” dan “saling melengkapi yin dan yang” Taois, dipakai baik di Timur maupun di Barat. Dalam sejarah Barat, gambar taiji dipakai lebih dahulu daripada di Timur, dan fakta sejarah ini memungkinkan hipotesis bahwa di Barat pun ada filsafat yang mirip dengan teori yin dan yang Timur, dan bahwa motif taiji mewakilinya di Barat. Tetapi dalam catatan Barat tidak ada dokumen yang mendukung kemungkinan bahwa filsafat saling melengkapi yang terkandung dalam motif yin dan yang berkembang menjadi pemikiran dan berlanjut sesudah Herakleitos. Hanya saja, pemikiran Herakleitos terus memengaruhi orang Barat sampai Masehi. Secara historis, dicetaknya mata uang untuk memperingati Herakleitos pada abad ke-3 M membuktikan bahwa pengaruhnya benar-benar ada. Ide dan pemikiran Herakleitos yang bercorak yin dan yang lenyap dari peradaban Barat, yaitu setelah metafisika Plato dan Aristoteles mengambil peran sentral dalam sejarah filsafat pikiran Barat. Karena itu, para filsuf Barat modern tidak menunjukkan perhatian kepada Herakleitos lebih dari sekadar sesekali memandangnya dari sudut baru sebagai sesuatu yang menarik. Orang harus menunggu sampai fisika modern abad ke-20 membuat penemuan revolusioner bahwa bukan pertentangan, melainkan saling melengkapi-lah yang menjelaskan mekanika kuantum. Kecuali usaha dualisme saling melengkapi oleh Herakleitos dan para filsuf Yunani lain dari aliran yang tak tampak, sebagian besar pemikir Barat berusaha memahami dua unsur yang berpasangan sebagai hubungan yang saling bertentangan dan bermusuhan. Dualisme pertentangan filosofis Barat ini sejalan dengan pemikiran baik dan jahat religius Kristen, yang mencakup pembedaan antara Tuhan dan iblis, antara baik dan jahat.

    ↩
  18. 75

    Teori yang tak tampak diterima apa adanya bukan hanya dalam Taoisme, melainkan juga dalam Konfusianisme. Konfusius memakai ungkapan “Dao tidak akan terwujud di dunia”. Sambil mengejar kebenaran mutlak yang bernama Dao, ia menerima bahwa Dao yang tak berujung tidak dapat terwujud di dunia ini. “Jika pada pagi hari aku dapat mendengar bahwa Dao dijalankan di dunia, matilah aku pada sore hari pun tak mengapa” (Analek 4:8).

    ↩
  19. 76

    Berbeda dari Barat, yang membangun rumah dengan marmer dan batu, Timur membangun rumah dengan kayu. Peran balok bubungan dalam membangun rumah memberi tahu kita bagaimana teori yin dan yang lahir di Timur. Ketika membangun rumah, orang mendirikan tiang-tiang untuk membuat kerangka rumah, dan di atas kerangka itu dibuat ji (極), puncak; artinya, balok bubungan dipasang. Balok bubungan dipasang di antara tiang-tiang dan atap. Tanpa balok bubungan, rumah akan runtuh. Karena itu, memasang balok bubungan dengan baik sangat penting, dan untuk itu, ketika membangun rumah, diadakan upacara khusus yang disebut upacara menaikkan balok bubungan. Melalui proses berubahnya posisi balok bubungan ketika dipasang, kita dapat memahami bagaimana teori yin dan yang lahir. Ketika balok bubungan naik tergantung pada tali, kita melihat atas dan bawah, kiri dan kanan, depan dan belakang bertukar tempat. Ini memperlihatkan bahwa segala sesuatu bersifat relatif dan memiliki sifat berubah. Selain itu, kita melihat bahwa bila balok bubungan hilang, segala pembedaan atas dan bawah, kiri dan kanan, depan dan belakang pun lenyap. Inilah keadaan wuji (無極).

    ↩
  20. 77

    Teori yin dan yang menempati tempatnya dalam dunia pemikiran Timur sebagai gagasan pokok Yijing. Tetapi gambar taiji yang mencerminkan teori yin dan yang muncul belakangan. Pada awal abad ke-7, pada zaman Baekje, motif taiji mulai muncul di Semenanjung Korea: itulah motif taiji yang ditemukan di makam-makam Baekje di Bogam-ri, Naju. Di Tiongkok, sejak Dinasti Song pada abad ke-11, gambar taiji dan teori yin dan yang tercatat bersama gambar-gambarnya. Di Timur, gambar taiji mulai dipakai sebagai lambang Taoisme setelah abad ke-15. Karena akrab dengan Taoisme dan gambar taiji, kita mudah mengira bahwa gambar taiji, yang menjelaskan kosmologi Timur, dan lambang yin dan yang yang tergambar di dalamnya sejak semula dipakai oleh Taoisme. Padahal ada catatan bahwa gambar taiji itu sendiri dan lambang yin dan yang lebih dahulu dipakai di Barat, seribu tahun lebih sebelum di Timur. Di Barat, ada catatan bahwa sejak abad ke-5 SM pola yin dan yang mulai muncul pada perhiasan yang dipakai bangsa Kelt (Celts atau Kelts, yang sebelum Masehi menguasai wilayah Prancis, Inggris, Jerman, dan Spanyol). Pola yang jelas itu dipakai dengan nyata dalam perhiasan Kelt. Dan gambar taiji yang hampir sama dengan yang kini dipakai Taoisme, menurut catatan, pertama kali muncul di Roma sekitar tahun 430 M. Setiap legiun Romawi memakai lambang khas pada perisai yang dipakainya. Dalam Notitia Dignitatum (daftar jabatan dan legiun Kekaisaran Romawi, 395–430 M), dua legiun memakai gambar taiji yang jelas sebagai lambangnya.

    A blue and red yin yang symbol
Description automatically generated
    Lambang perisai sebuah legiun Romawi (armigeri defensores seniores, 430 M)

    Di Barat, gambar taiji yang persis muncul sekitar seribu tahun lebih dahulu daripada di Timur. Tetapi tidak dapat diketahui di mana dan bagaimana gambar itu bermula. Fakta yang menarik ialah bahwa, bila dilihat dari motif yin dan yang saja, hiasan bangsa Kelt mendahului Timur hampir dua ribu tahun. Taoisme baru mulai sungguh-sungguh memakai gambar taiji, yang kini dipakainya sebagai lambang yang mewakilinya, kira-kira sejak abad ke-15, pada zaman Dinasti Ming. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan berkenaan dengan gambar taiji dan lambang yin dan yang. Tetapi yang penting ialah bahwa, selain gambar sebagai lambang dan hiasan, di Barat sama sekali tidak ditemukan catatan yang membahas teori, filsafat, atau pemikiran seperti penjelasan diagram taiji atau teori yin dan yang. Sebaliknya, di Timur uraian teoretis semacam itu sudah tercatat dan dipakai secara terperinci sebagai teori yang menjelaskan kosmologi Timur dalam Yijing, ribuan tahun sebelum Masehi, dan dalam Daodejing, pada akhir Zaman Musim Semi dan Musim Gugur.

    ↩
  21. 78

    Penalaran Timur bersifat induktif dan penalaran Barat bersifat deduktif. Contoh sederhananya ialah silogisme tiga langkah: “Semua manusia akan mati; Sokrates adalah manusia; maka ia pun akan mati.” Silogisme ini berlandaskan logika deduktif. Tetapi Barat belum menunjukkan perhatian besar terhadap cara penjelasan Timur dengan pasangan sejajar. Kitab-kitab suci Taoisme dan Konfusianisme justru memakai cara pasangan sejajar untuk menjelaskan alam semesta, segala sesuatu, hakikat manusia, dan pola tindakan. Cara pasangan sejajar pada dasarnya berlandaskan logika induktif. Dan kedua anggota pasangan itu saling melengkapi: inilah pengaruh dualisme saling melengkapi. Taoisme, dengan orang bijak (聖人) dan rakyat, dan Konfusianisme, dengan pemimpin (junzi, 君子) dan peserta (xiaoren, 小人), menyampaikan kearifannya dengan memakai pasangan sejajar dalam jumlah tak terhitung. “Pemimpin mengejar kebajikan. Peserta mengejar keuntungan” adalah contoh yang baik. Pemerintahan orang bijak dengan tanpa-tindakan (無爲之治) tidak mengubah orang secara paksa, tetapi membuat rakyat dengan wajar mengikuti kebajikan. Rakyat berubah dengan sendirinya (自化) dan mengikuti orang bijak. Pedoman bahwa pemimpin pun membuat peserta mengikutinya secara wajar tidak berbeda. Dan kedua pasangan ini membentuk hubungan saling melengkapi seperti yin dan yang, berlandaskan prinsip bahwa tanpa yang satu, yang lain pun tidak ada. Demikianlah dalam pemikiran Konfusianisme: “Belajar dari orang lain tanpa merenung sendiri, orang tidak akan memperoleh pemahaman yang benar; merenung sendiri tanpa belajar dari orang lain, orang akan terjerumus ke dalam dogmatisme.” Juga ungkapan Taoisme “Dao adalah keberadaan yang mandiri; Dao adalah keberadaan yang universal” mengajarkan cara berpikir saling melengkapi ala Timur yang berbeda dari Barat. Cara menjelaskan hakikat dan gejala sesuatu dengan pasangan sejajar seperti ini sudah mapan sebagai cara berpikir Timur sejak zaman kuno sampai zaman modern. Cara berpikir yang hendak menangkap hakikat sesuatu melalui penjelasan pasangan sejajar adalah kebiasaan menangkap sesuatu secara relatif dan saling melengkapi. Kebiasaan itu berasal dari pemikiran yin dan yang yang saling melengkapi.

    ↩
  22. 79

    Yang menjadi masalah di sini ialah bagaimana peradaban Timur dan Barat menilai secara filosofis peribahasa “Langit menolong orang yang menolong dirinya sendiri”. Dalam peradaban Dao di Timur, hal ini sama sekali tidak bermasalah. Peribahasa “Langit menolong orang yang menolong dirinya sendiri” di Timur selama dua ribu tahun adalah pemikiran yang disetujui dan dipakai semua orang dengan senang hati, “sebab bukan Dao yang membuat manusia besar, melainkan manusia yang membuat Dao besar”. Ungkapan dalam bab 2 “Xue Er” (學而篇) Analek, “bila akarnya ditegakkan, Dao pun lahir”, bermakna demikian. Artinya, kebenaran mutlak bukanlah sesuatu yang sudah ditetapkan dalam bentuk yang disampaikan Tuhan kepada manusia melalui para nabi. Tetapi peradaban Tuhan di Barat terpaku pada filsafat bahwa “Tuhan membuat manusia besar”. Karena itu, muncul pemikiran bahwa manusia baru dapat menolong dirinya sendiri bila ada rahmat (grace) Tuhan. Di Barat, peribahasa “Langit menolong orang yang menolong dirinya sendiri” tidak berasal dari Alkitab. Peribahasa ini berasal dari fabel Aesop pada abad ke-6 SM, lenyap pada Abad Pertengahan, lalu dipopulerkan kembali di Barat oleh Benjamin Franklin dari Amerika melalui bukunya (Poor Richard’s Almanack) yang terbit pada abad ke-18. Peribahasa ini bersandar pada filsafat yang berbeda dari ajaran Alkitab. Di dasar pemikiran Barat terletak gagasan bahwa orang harus bergantung bukan pada usaha manusia, melainkan pada kuasa Tuhan. Apa pun yang dilakukan manusia, karena ia manusia yang dibuat Tuhan, ia akan mengikuti kehendak Tuhan. Karena itu, dalam iman mereka, mereka memercayai filsafat bahwa “Tuhan itu murah hati” dan bersandar padanya. Tetapi peradaban Dao, yang memercayai filsafat bahwa “Dao tidak murah hati”, menyatakan bahwa urusan manusia harus ditangani manusia. Ini bukan optimisme, melainkan realisme. Orang yang tidak menolong dirinya sendiri tidak akan ditolong Langit.

    ↩
  23. 80

    Walpola Rahula, What the Buddha Taught (New York: Grove Press, 1974), 51-52

    ↩
  24. 81

    Benedict de Spinoza, Ethics (New York: Penguin Books, 1996), 120

    ↩
  25. 82

    Sunzi (孫子) menulis kitab seni perang setelah kedua kakinya dipotong akibat fitnah (Sima Qian, Shiji, hlm. 110; orang yang kakinya dipotong ialah Sun Bin (孫臏), pengarang Seni Perang Sun Bin, orang yang berbeda dari Sun Wu (孫武), yang menurut tradisi mengarang Seni Perang Sunzi). Clausewitz menulis Tentang Perang (Vom Kriege) setelah, sebagai kolonel tentara Prusia, berulang kali dikalahkan Napoleon. Melihat kasus Sunzi dan Clausewitz, bersama Han Feizi dan Machiavelli, yang menulis karyanya setelah mengalami penderitaan, kita tidak dapat tidak teringat pada kalimat Sima Qian berikut. Sima Qian sendiri menulis karya agungnya yang abadi, Catatan Sejarawan, setelah menjalani hukuman kebiri yang memalukan. “Agaknya, ketika manusia tidak dapat mencurahkan perasaan yang terpendam dalam hatinya, ia menulis karya agung yang merangkai peristiwa masa lalu dan menaruh harapan pada masa depan.”

    ↩
  26. 83

    Sunzi, Seni Perang, bab “Perhitungan Awal” (始計篇), hlm. 18.

    ↩
  27. 84

    Carl von Clausewitz, De la Guerre, op. cit., hlm. 51.

    ↩
  28. 85

    Lee Jong-hak, peny. dan terj., Sonja byeongbeop (孫子兵法, Seni Perang), Bakyoung Mungo, hlm. 71.

    ↩
  29. 86

    Lee Jong-hak, op. cit., hlm. 18. Kata Yunani di balik kata strategi, strategia, berarti seni sang jenderal, dan dari akar yang sama berasal strategema, tipu daya sang jenderal: siasat. Kemiripan Yunani dan Tiongkok sebagai kebudayaan yin sungguh mengagumkan.

    ↩
  30. 87

    Carl von Clausewitz, De la Guerre, Les Editions de Minuit, Paris, hlm. 80

    ↩
  31. 88

    Raymond Aron menulis bahwa Clausewitz membatasi konsep kemenangan pada taktik. (Lihat Raymond Aron, Penser la Guerre; Clausewitz, vol. I, Editions Gallimard, Paris, 1976, hlm. 164.) Dalam Tentang Perang, Clausewitz menekankan kemenangan yang ada di depan mata, alih-alih keuntungan akhir, sebagai tujuan tertinggi. Ciri ini tampak jelas bila dibandingkan dengan Seni Perang Sunzi, yang berulang kali menekankan pentingnya keuntungan akhir alih-alih kemenangan yang ada di depan mata. (Lihat Sun Tzu, L’Art de la Guerre, Flammarion, Paris, hlm. 5.)

    ↩
  32. 89

    Carl von Clausewitz, op. cit., hlm. 70.

    ↩
  33. 90

    Sunzi, Seni Perang (孫子兵法), bab “Siasat Menyerang” (謀攻篇), hlm. 71.

    ↩
  34. 91

    Carl von Clausewitz, War Politics and Power, A Gateway Edition, p.2.

    ↩
  35. 92

    Baruch Spinoza, Traite Politique, Garnier-Flammarion, Paris, hlm. 13.

    ↩
  36. 93

    Sunzi, Seni Perang (孫子兵法), bab “Tentang Operasi” (作戰篇), hlm. 52.

    ↩
  37. 94

    Carl von Clausewitz, De la Guerre, p.67.

    ↩
  38. 95

    Raymond Aron, Penser la Guerre Clausewitz, vol. I, pp.167~170.

    ↩
  39. 96

    Raymond Aron, op. cit., vol. II, hlm. 36–39.

    ↩
  40. 97

    Carl von Clausewitz, op. cit., hlm. 52.

    ↩
  41. 98

    Sunzi, Seni Perang (孫子兵法), bab “Persaingan Pasukan” (軍爭篇), hlm. 162

    ↩
  42. 99

    Newsweek, November 8, 2004.

    ↩
  43. 100

    Kissinger, On China, 22–23.

    ↩
  44. 101

    Ibid., 59.

    ↩
  45. 102

    Nisbett, The Geography of Thought, Introduction. Proposisi ini dikaitkan dengan Kaiping Peng, yang kini mengajar di University of California–Berkeley.

    ↩
  46. 103

    Usaha Tiongkok dalam strategi AI, semikonduktor, kedirgantaraan, energi baru, kendaraan listrik, maupun robotika berhasil bila dibandingkan dengan Amerika Serikat. Berkat pendidikan terpusat bagi mahasiswa teknik, kini Tiongkok menempati dua belas atau lebih dari dua puluh lembaga pendidikan masa depan teratas di dunia, termasuk empat teratas. Semua itu adalah hasil “strategi shi” Tiongkok. Amerika Serikat menempuh strategi untuk “memastikan kemenangan” secara langsung atas Tiongkok melalui penguatan aliansi, embargo terhadap Tiongkok, dan perang tarif. Sebagian besar perhatian terpusat pada naik turunnya harga saham berbagai perusahaan. Bila strategi shi bersifat jangka panjang, strategi memastikan kemenangan bersifat jangka pendek.

    ↩
  47. 104

    Perubahan ini terjadi bersamaan dengan proses di mana hubungan antarnegara mengalami pergeseran paradigma dari perang, atau “dari perampasan ke perdagangan” (From Raid to Trade). Dalam mengelola hubungan internasional di dunia mendatang, kekuatan senjata tetap penting, tetapi kini persaingan antarnegara terutama ditentukan oleh kekuatan perdagangan. Kekuatan senjata akan berperan sebagai pelindung perdagangan.

    ↩
  48. 105

    Kissinger, op. cit., ix.

    ↩
  49. 106

    Matthew Ricci, China in the Sixteenth Century: The Journals of Matthew Ricci: 1583-1610, trans. Louis J. Gallagher (New York: Random House, 1953), 54-55.

    ↩
  50. 107

    Kissinger, op. cit., ix

    ↩
  51. 108

    Henry Kissinger, (May 17, 2011) On China (Penguin Group, 2011), Kindle Edition, 10.

    ↩
  52. 109

    Martin Jacques, When China Rules the World: The End of the Western World and the Birth of a New Global Order: Second Edition (Penguin Group, 2009), Kindle Locations 471–4.

    ↩
  53. 110

    Lembaga pergantian pemimpin secara damai adalah sesuatu yang dipelajari Timur dari Barat. Tetapi Timur dan Barat memakai cara yang berbeda. Di Barat, pergantian ideologis terjadi seiring bergantinya partai. Di Timur, kecuali Korea dan Taiwan, dapat dikatakan bahwa orang menemukan cara untuk menghindari “kekacauan” berupa peralihan ideologis akibat pergantian pemimpin. Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa sebagian besar negara Asia Timur memiliki bentuk politik yang berbeda dari Barat. Sebabnya, sambil merujuk lembaga dan model Barat, mereka mengikuti tradisi, sejarah, dan kebudayaan Timur. Mereka tidak setuju dengan gagasan bahwa lembaga dan model, yang merupakan sarana, adalah bagian pokok yang sudah ditentukan sebelumnya dan menetapkan tujuan terlebih dahulu. Di negara yang telah lama mengelola negara-bangsa, sulit mengimpor dan memakai begitu saja sistem pemisahan tiga kekuasaan ala Barat. Mengenai sistem multipartai pun, di Asia Timur hanya sedikit negara yang menjalankan begitu saja sistem multipartai ala Barat dan melakukan pergantian pemerintahan, yaitu Korea dan Taiwan. Semua negara lain, termasuk Jepang dan Singapura, alih-alih mengikuti sistem multipartai ala Barat yang mengganti pemerintahan, memakai bentuk di mana pergantian pemerintahan terjadi melalui faksi-faksi dalam satu partai. Ada kemiripan antara terjadinya “pergantian pemimpin” di dalam Partai Komunis di Tiongkok atau Vietnam dan terjadinya “pergantian pemerintahan” melalui faksi-faksi dalam satu partai di Jepang atau Singapura.

    ↩
  54. 111

    Hesiodos, sekitar tahun 700 SM, adalah justru orang yang menciptakan kisah kotak Pandora. Ia juga meninggalkan ucapan: “Pengemis iri kepada pengemis, dan penyair iri kepada penyair.” Ia meninggalkan tulisan yang mengeluhkan hidupnya yang miskin di ladang warisan ayahnya. Itu bukan keluhan tentang kemiskinan petani biasa, melainkan keluhan seorang warga Yunani yang memiliki budak.

    ↩
  55. 112

    Ibid., Kindle locations 608–618.

    ↩
  56. 113

    Rev. Alexander Roberts and James Donaldson, eds., “On the Anger of God,” chap. 13 in The Works of Lactantius, vol. 22 in Translations of the Writings of the Fathers down to A.D. 325 (Edinburgh: T. & T. Clark, 1871), 28.

    ↩
  57. 114
  58. 115

    Ibid.

    ↩
  59. 116

    Laërtius, The Lives and Opinions of Eminent Philosophers, Kindle locations 7031–7035.

    ↩
  60. 117

    Baruch Spinoza, Ethique, op. cit., hlm. 285.

    ↩
  61. 118

    Dalam peradaban Barat, di bawah pengaruh agama wahyu, “dunia abadi setelah kematian” diutamakan, dan pemikiran filsafat, yang memusatkan diri pada metafisika, menekankan pentingnya jiwa atau pikiran. Kecenderungan ini, setelah melewati pergolakan sesudah deisme, berubah menjadi mengutamakan bukan dunia setelah kematian, melainkan “kebahagiaan di dunia ini”. Masalah ini memiliki arti pentingnya sendiri. Masalah pengejaran kebahagiaan di Barat dan pengejaran makna di Timur dijelaskan dalam kaitannya dengan individualisme Barat dan relasionalisme Timur.

    ↩